Istri Tengil Mas Baron

Istri Tengil Mas Baron
Weekend


__ADS_3

Delila melangkah lebar menuju pintu utama rumahnya, hari ini dia sudah membuat janji dengan Galexia untuk bertemu. Sebenarnya akhir pekan ini Delila ingin menghabiskan waktunya di dalam kamar, tidak mau berurusan dengan apa pun termasuk Baron.


Delila ingin menikmati akhir pekannya sendiri, bahkan saat Kirana mengajaknya ke salon dia menolaknya tanpa mempertimbangkan lagi. Masa haid yang akan segera datang membuat moodnya berantakan, dan Delila tidak ingin membuatnya kian hancur.


Tapi Galexia malah mengacaukan semuanya, Kakak sepupunya itu meminta dirinya datang ke kediaman Galaska tanpa memberitahukan maksud dan tujuannya.


Memang menyebalkan!


Delila menghela napas kasar, dia berusaha rileks- tapi sepertinya hari ini tidak ada kata rileks didalam hidupnya karena saat ini dengan kedua mata kepalanya sendiri dia melihat seorang pria baru saja sampai di kediamannya.


Pria yang memakai kaos polos hitam, celana jeans pudar dan sepeda motor trail hitam yang sering digunakannya itu sudah berada tidak jauh darinya.


Delila menatap, dia memindai penampilan pria yang menjadi suaminya tapi tidak seatap dengannya. Pria itu membuat alasan kalau mereka seatap sebelum menikah secara negara, pasti akan ada hal yang tidak tidak nantinya- malaikat pencatat amal baik pasti selalu menunggu.


"Kenapa enggak telpon dulu?" Delila mendekat, dia menyeret tas selempang nya lemas. Sepertinya hari ini dirinya akan membatalkan pertemuannya dengan Galexia, dan pastinya Kakak sepupunya itu akan mengomel.

__ADS_1


"Mau kemana?" bukannya menjawab pria itu malah membalikan pertanyaan, kedua matanya memindai penampilan casual Delila saat ini.


Celana jeans dan kaos pas body yang dipakainya, membuat tubuh gadis itu berlekuk indah dan sempurna. Bahkan kedua mata pria yang saat ini tengah memindai nya itu dibuat tidak berkedip sedikit pun.


"Tadinya mau ketemu sama-,"


"Hari ini kita jalan! Gak ada alasan apa pun, tapi ganti bajunya! Pake kemeja aja yang rada gedean, sakit nih mata liatnya."


Delila mendelik mendengar penuturan pria yang nota bene menjadi suami sahnya di mata Tuhan itu, kalau saja dirinya tidak ingat dengan dosa- mungkin tas selempang yang Delila pegang sudah melayang menimpa wajah suaminya.


Bahkan melepaskannya dengan paksa, tidak peduli dengan rontaan pria yang terlihat seperti tengah di lecehkan itu.


"Ini punya gu-," ucapan Baron terhenti saat melihat Delila mendelik penuh peringatan.


"Ini punya aku! Kamu ganti-,"

__ADS_1


"Lepas, atau kita gak jadi jalan!" sela Delila cepat.


Gadis itu menatap santai pada Baron setelah memberikan dia pilihan yang harus diputuskan cepat oleh pria itu. Sudut bibirnya terangkat saat melihat Baron berdecak penuh protesan tapi tak urung juga melepaskan jaket yang melekat di tubuhnya. Kini dia hanya memakai kaos hitam pas body, katanya terus saja menatap Delila yang terlihat sumringah setelah mendapatkan apa yang dia mau.


"Hari ini aku yang mutusin kita jalan kemana! Gak ada protesan." putus Delila.


Baron kembali mengagumkan bibirnya saat mendengar ucapan sangat istri, didalam hatinya terus saja mengumpat karena dirinya tidak bisa membantah. Entah kenapa semua ucapan Delila yang mutlak dan tidak mau di bantah selalu berhasil mengalahkannya.


Seperti panggilan lo gue yang sering Baron lontarkan, kini berubah menjadi lebih halus dan enak didengar. Bahkan Delila dibuat sumringah saat mendengarnya tidak lagi menggunakan kata lo gue saat mereka berbicara.


"Oke, tapi cuma satu tempat- selebihnya aku yang nentuin!"


Delila mengangguk, dia segera merangkul lengan Baron dan membawa pria itu menuju motor trail hitam yang akan mereka gunakan hari ini sebagai teman kencan. Ya anggap saja ini adalah kencan mereka yang pertama atau yang kesekian kali malahan, entahlah Baron dan Delila tidak peduli- yang jelas weekend siang ini sampai malam nanti keduanya akan menghabiskan waktu hanya berdua saja, tidak ada yang mengganggu.


__ADS_1


KALAH KAN LOπŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ


__ADS_2