Istri Tengil Mas Baron

Istri Tengil Mas Baron
Merajuk


__ADS_3

Delila berdecak pelan saat Baron tidak kunjung membuka suara, selepas membersihkan diri dan makan malam keduanya duduk santai di ruang tamu. Semenjak kejadian di bengkel tadi Baron semakin tidak banyak bicara, pria itu lebih banyak diam dari sebelumnya.


Bahkan saat Delila menyuruhnya mandi lalu makan, Baron hanya mengangguk dan lebih terlihat seperti anak penurut.


"Mas Baron kenapa sih?" akhirnya Delila tidak dapat lagi menyembunyikan kegelisahan hatinya.


Gadis itu menatap Baron penuh tanya, bibirnya mengerucut kesal kalau pria yang ada didekatnya itu masih sibuk mengotak atik benda yang dia bawa dari bengkel tadi.


"Apanya yang kenapa? Memangnya gue kenapa?" tanpa menoleh pria itu menyahut, kedua tangannya tidak mau diam- hingga pada akhirnya harus diam saat Delila merebut paksa obeng yang menjadi senjata utama suaminya.


"Del," protesnya pelan.

__ADS_1


Baron menoleh, dia menatap Delila lekat namun tidak setajam biasanya. Masih ada stok kesabaran dan kelembutan dari sorot matanya. Menyiratkan banyak arti yang begitu dalam hingga netra keduanya saling bertaut tanpa penghalang.


"Mas Baron kenapa sih diem aja? Memangnya aku ada salah, aku salah apa? Coba bilang, jangan diem kayak gini!"


Delila terus saja memberondong Baron dengan tidak sabaran, bahkan dengan kesal dia reflek mencubit lengan pria itu hingga membuat suaminya mendelik.


"Apa sih? Astaga, make nyubit lagi! Ini sakit, lihat- sampe ada bekasnya! Wah kdrt ini namanya, parah lo sama lakik sendiri!"


"Iihhhh, aku lagi kesel kenapa malah-,"


Sorot mata Baron berubah menjadi tajam, dia terlihat mengalihkan pandangannya ke arah lain saat mengingat bagaimana pria sialan itu menatap penuh puja dan minat pada gadis yang ada disisinya ini. Perlahan ekor mata Baron melirik pada Delila, bila matanya bergulir memindai tubuh sang gadis dari atas hingga bawah.

__ADS_1


Sial, memang tidak ada yang cacat sedikit pun. Delila terlalu sempurna di mata para pria, Baron mengakuinya kali ini. Mungkin mata batin dan mata raganya sudah di bukakan oleh Tuhan untuk bisa menikmati pemandangan indah, maka dari itu entah sejak kapan dirinya begitu mengakui kalau Delila adalah makhluk ciptaan Tuhan yang sempurna.


"Aku gak tau! Tanya aja sama Papa. Lagian waktu itukan aku minta pisah sama Mas Baron, tapi Mas Baron gak ngasih keputusan apa apa- malah ngilang kayak di umpetin tante tante. Ya mungkin Papa punya inisiatif buat nyariin aku jodoh biar enggak galau gara gara itu, tapi aku juga gak nyangka kalau Gading yang bakalan Papa kenalin. Jadi gak usah nyalahin aku, salahin aja Mas Baron sendiri!" Delila menaikan oktaf suaranya diakhir kalimat, gadis itu menatap garang pada Baron yang terlihat mengerutkan dahinya dalam.


"Kok jadi gue? Kan lo yang-,"


"Mas Baron cowok terplin plan yang pernah aku temuin. Jujur ya sebenarnya aku udah gak respek lagi sama Mas Baron, aku itu bukan cewek sabar yang bisa nunggu. Mas Baron kayak enggak ada niat buat manis manisin aku gitu, tetep aja kamu kayak coran jembatan. Manggil apa kek yang romantis, kita baru baikan loh! Manggil istri aja masih lo gue, aku sebenarnya juga bisa manggil lo gue tapi- ck, udahlah aku mau pulang. Terserah Mas Baron mau manggil apa, mikir aku apa, itu haknya Mas Baron!"


Baron menganga lebar, niat hati ingin merajuk manja pada gadis itu- malah dirinya yang tersudut kan. Kedua matanya berkedip pelan saat melihat Delila bangkit dan menyambar tas kecil serta ponselnya.


"Lah, kenapa gue yang- ck, pake ngambek lagi! Del, kenapa lo yang- oke, kenapa kamu yang ngambek?! Harusnya aku yang ngambek!" protesnya tidak terima saat gadis Demplon itu meninggalkannya sendiri dan memilih pulang.

__ADS_1



BAGUS DEL NGAMBEK AJA, EMANG TUMAN TUH SI SAMSON🙈🙈🤣🤣🤣


__ADS_2