Istri Tengil Mas Baron

Istri Tengil Mas Baron
Penguntit


__ADS_3

Delila terus saja mengembangkan senyumannya. Sepanjang perjalanan dirinya mengelilingi perkampungan bersama Baron, gadis itu tidak pernah berhenti tersenyum. Bahkan tanpa tahu malu dia melambaikan tangan pada orang yang di lewati nya, bukan hanya yang dekat namun juga orang orang yang tengah bekerja di kebun nun jauh disana.


Seperti saat ini, Delila menghirup napas dalam kala udara di area perkebunan sayur yang di lewati nya terasa begitu segar. Kedua tangannya merentang lebar, dia berusaha menahan mulutnya agar tidak berteriak untuk menyalurkan kegundahan yang ada di dalam hatinya. Tanpa Baron ketahuilah, sebenarnya Delila masih memikirkan kejadian tadi pagi, tentang genangan darah itu.


Hanya saja dia berusaha untuk menghilangkan bayangan itu dari dalam otaknya dengar bersikap baik baik saja di depan Baron. Walaupun kenyataannya tidak sebaik aktingnya saat ini.


"Kita pulang! Gue udah pegel, Del."


Senyuman Delila menyurut, gadis itu menoleh- bola mata bulatnya menatap sinis pada pria yang saat ini tengah memalingkan wajahnya ke arah lain.


Tidak asik sekali!


"Nanti aku pijitin deh kakinya, tapi jangan pulang dulu aku masih mau liat pemandangan," bujuknya penuh harap.


Delila kembali mengalihkan pandangannya dari Baron ke arah lain. Sementara pria berambut sedikit gondrong itu terdengar berdecak lalu melangkah menjauh dari Delila, tanpa di sadari oleh sang gadis.


Delila masih sibuk menonton warga kampung memanen sayuran di kebun mereka. Bahkan mobil pengangkut sudah berjejer rapih, mengantri demi bisa mendapatkan sayuran segar untuk mereka bawa ke pasar di kota, atau supermarket besar.


"Mas, gimana kalo kita juga beli tanah disini, terus kita nanam sayuran kayak mereka. Pasti bakalan berhasil, Mas Baron bakalan jadi juragan sa- loh Mas Baron!" Delila memekik tertahan di akhir kalimat yang diucapkannya.

__ADS_1


Kedua kalinya menghentak kesal di atas tanah. Dengan cepat kedua kaki berbalut sandal jepit murahan itu berlari mengejar pria yang saat ini sudah berjalan cukup jauh di depannya. Delila terus saja menggerutu, bibirnya mengerucut kesal, bahkan saat dia berhasil menyusul Baron kondisi bibir sang gadis belum juga berubah.


Dengan napas terengah dia berhasil menyusul suaminya. Delila melirik sinis pada pria yang juga tengah menoleh ke arahnya sembari menaikan sebelah alisnya. Delila mendengus, dia mengalihkan wajahnya karena enggan menatap Baron. Perlahan, tanpa Delila sadari sudut bibir Baron berkedut, dan tidak lama setelahnya terdengar pekikan gadis itu kala Baron memiting kepalanya dan membawa Delila kian merapat padanya.


Baron melakukan hal itu cukup lama. Bahkan pekikan Delila yang keras membuat dua orang pria yang belum mereka berdua ketahuilah kehadirannya sedikit terkejut.


Keduanya menatap ke asal suara. Dengan napas terengah, raut wajah yang sudah tidak lagi enak di pandang- salah satu dari mereka terlihat mempercepat langkahnya sembari menggulung lengan kemeja panjang yang dipakainya.


"Sakit Mas, lepasin!" suara Delila masih terdengar.


Gadis itu tengah berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Baron. Interaksi yang mereka lakukan saat ini menunjukan seberapa dekat keduanya dimata orang lain, walaupun kenyataannya Delila dan Baron tidak sedekat itu sekalipun interaksi yang mereka lakukan amat intim.


"Udah ampun, aku pingin pipis!" ucapnya lagi.


"BAROOOONN! MANTU KURANG AJAR. KALO NGASIH ALAMAT YANG BENER, KENAPA PAPA JADI NYASAR KE KEBON TERONG?!"


Delila dan Baron reflek menoleh, mereka berdua mencari asal suara. Mata keduanya membulat saat melihat seorang pria paruh baya terlihat begitu berantakan dan tengah marah sepertinya.


"Papa?" gumam Delila.

__ADS_1


Gadis itu melepaskan rangkulan Baron dan berlari mendekat pada pria paruh baya yang dia yakini sebagai Davyn Papanya.


"Astaga Dragon Ball, kenapa Papa bisa kayak gini? Kok jalan kaki, mobil Papa dimana? Itu Mang Joko kenapa tiduran di deket irigasi?!" Delila memekik heboh saat melihat keadaan Davyn dan juga sang sopir. Gadis itu terlihat sibuk sendiri, dia mengabaikan Davyn yang sudah hampir kehabisan napas.


"Mas, bantu Papa! Kok diem aja, kalo Papa semaput disini siapa yang mau gendong?!"


Pekikan Delila yang kesekian kali baru bisa menyadarkan Baron. Pria itu menghela napas kasar sebelum mendekat pada mertuanya dan mengangkat tubuh pria itu agar berdiri kembali.


"Kenapa gak nelpon? Papa pikir nih kampung pelosok banget gitu sampe gak ada sinyal," ocehnya.


Davyn tidak menanggapi, dia hanya melirik sinis pada menantu semata wayangnya yang saat ini tengah menopang tubuhnya yang sudah kelelahan.


"Jangan banyak omong, gendong Papa sampe rumah kamu. Kaki Papa udah mati rasa rasanya."


Baron mendelik, namun sayang dia tidak bisa berbuat banyak selain menuruti ucapan mertuanya. Mereka berempat bergegas pulang tanpa mau membuang waktu, sepanjang jalan Delila terus saja mengoceh memberikan ceramah untuk Davyn dan Joko.


Kedua pria itu membisu, membiarkan radio rusak di dekatnya kehabisan batrei. Bahkan Baron harus menggosok telinganya berulang kali karena berdengung dengan sebelah tangannya. Keasikan mengoceh dan menyimak, mereka berempat hingga tidak menyadari kalau sedari tadi ada seseorang yang terus saja memperhatikan secara sembunyi sembunyi.


"Hallo, mereka terlihat baik baik saja. Hari ini mereka kedatangan dua orang pria, k?sepertinya dari kota. Baik, aku akan mencari tahu, jangan lupa bayaran lebihnya!" ucap sang penguntit sebelum mematikan sambungan telepon dan bergegas keluar dari area persembunyian agar bisa segera bergerak mencari tahu, siapa dua orang pria asing yang di panggil Papa oleh Baron dan Delila?

__ADS_1



HAYOLOH SAPA TUH


__ADS_2