
Fajar mulai menyingsing, cahaya matahari pagi perlahan menembus celah celah rumah- menerpa tubuh seorang gadis yang masih terlelap di atas peraduannya. Hangatnya sang surya berhasil mengusiknya, sang gadis perlahan meninggalkan mimpi indah yang selama ini dia inginkan.
Kedua netra bulat itu mengerjap perlahan, kesadarannya yang belum terkumpul sepenuhnya membuat dia termenung sejenak- bola matanya bergerak pelan menyusuri setiap sudut ruangan yang di tempatnya saat ini.
Sebuah kamar sederhana namun cukup luas dengan perabotan serba kayu. Dan dia rasa kayu yang di jadikan perabotan ini bukan kayu sembarangan melainkan bahan pilihan, termasuk ranjang yang di tempatnya sekarang.
Tapi tunggu! Sejak kapan dan siapa yang memindahkannya ke tempat tidur, bukankah dirinya masih berada di dalam mobil tadi-
Sudut bibirnya perlahan terangkat saat dirinya menyadari sesuatu, bahkan senyuman lebar tercipta di sana- gadis itu segera melompat dari tempat tidur dan berlari kecil menuju pintu. Saat sampai diluar udara segar yang pertama kali menyapanya, walaupun masih berada di dalam rumah tapi suasana sejuk dan asri sudah dapat dia rasakan.
Dan yakinlah diluar sana pasti akan lebih menyegarkan serta menyejukan lagi, dirinya jadi tidak sabar untuk segera berlari ke arah luar rumah. Tapi saat hendak mengambil langkah, dia teringat pada seseorang yang datang bersamanya ke tempat asing ini.
Baron, suaminya. Dimana pria itu?
Gadis yang tidak memakai alas kaki itu mengedarkan pandangannya- kedua bola mata bulatnya bergerak liat mencari seseorang yang sedari tadi belum memunculkan barang hidungnya.
"Mas Baron kemana? Dia enggak ninggalin gue disini sendiri, kan?" gumamnya.
Otaknya yang baru setengah segar belum bisa berpikir dengan jernih, pemikiran buruk datang secara tiba tiba tanpa di undang. Dengan cepat dia menyusuri satu persatu ruangan yang ada didalam rumah itu. Mata bulatnya tidak henti henti menelisik liar setiap area- dahinya sedikit berkerut saat melihat kondisi rumah ini.
Ternyata cukup bersih untuk rumah yang sudah ditinggalkan selama bertahun-tahun, ya walaupun katanya tiga sampai satu minggu sekali ada yang membersihkan tapi ini sudah cukup bersih.
Bahkan saat gadis itu menempelkan ujung jarinya di meja, tidak ada debu yang menempel disana. Ekor matanya kembali bergulir diiringi dengan langkah lebar menuju beranda rumah. Perlahan sudut bibirnya kembali terangkat kala melihat punggung lebar seorang pria yang di carinya sejak tadi.
Pria itu terlihat bertelanjang dada sembari sibuk membersihkan debu dari benda yang ada di tangannya.
Sebuah album foto lawas
__ADS_1
Dahi sang gadis berkerut, rasa penasaran seketika hadir dan menginginkan tahu lebih dari ini. Dia kian mendekat, dan sekarang sudah berdiri tepat di sisi prianya tanpa di sadari.
"Itu foto keluarga kamu, Mas?"
Bisikan yang di berikan sang gadis berhasil membuat pria itu terkejut bukan kepalang, dia mengusap dadanya- rasanya jantung yang ada di dalam rongga dadanya seketika turun ke perut.
"Kenapa sih?" gadis itu kembali bersuara saat melihat suaminya menatap lekat padanya.
Ada rasa tidak percaya diri datang menghampiri, karena saat ini dirinya baru saja bangun dari tidur panjang. Perjalanan kemarin sangat melelahkan dan juga menyenangkan hingga membuatnya segera terlelap tanpa menyadari apa pun lagi. Bahkan saat pria yang ada di hadapannya ini memindahkannya dari mobil kedalam rumah, dirinya sama sekali tidak sadar.
"Cepet mandi, udah gitu sarapan. Tadi gue udah beli nasi pecel buat sarapan, tuh ada di meja. Jangan harap ada roti atau sejenisnya disini, adanya cuma makanan kampung yang-,"
Cup!
Pria itu terpaku dan menghentikan ucapannya saat merasakan kecupan di area pipinya. Bahkan dia tidak lagi melanjutkan ocehannya dan memilih kembali fokus membersihkan barang barang berharga keluarganya.
Helaan napas kasar keluar dari mulut Baron, jakun pria itu terlihat naik turun- satu tangannya reflek mengusap wajahnya kasar. Hingga akhirnya tanpa sadar, salah satu sudut bibir pria itu terangkat- bahkan kian melebar saat mengingat kelakukan gadis tengil yang di bawanya.
"KALAU MAU SENYUM, YA SENYUM AJA GAK USAH DI TAHAN!" teriakan sang gadis membuat senyuman tipis itu memudar, berganti wajah datar dan terlihat kesal. Namun tawa yang menggema dari arah belakang tubuhnya membuatnya kembali menipiskan bibir walaupun tidak selebar tadi.
π
π
π
Seorang wanita bergaun sifon lembut terlihat berjalan bergegas menuju ruang meeting, wanita berambut panjang dan sedikit ikal itu berusaha menahan rasa malunya saat menyadari keterlambatannya hari ini.
__ADS_1
Sudah kedua kalinya dia terlambat, dan yakinlah kali ini para kliennya tidak ada mentolelir lagi- bahkan sang Ayah juga.
"Maaf saya-,"
"Duduk!"
Ucapan tegas pria yang ada di depannya membuat wanita itu terdiam dan menundukan kepalanya.
Meeting dimulai, pembicaraan mereka perlahan mulai merambat ke kursi kepemimpinan yang selama ini masih belum bisa di isi oleh siapa pun, termasuk wanita yang sering terlambat itu dan pria yang memotong ucapannya tadi.
Selama satu tahun ini kursi kebesaran perusahaan kosong, walaupun ada orang yang di gadang gadang menjadi pengganti tapi para penanam saham banyak yang meragukan- terlebih mereka bisa melihat sendiri bagaimana sikap tidak disiplin dan profesionalnya.
Beberapa jam kemudian meeting berakhir semua orang keluar dari ruangan, hingga menyisakan sang wanita dan pria tua yang beberapa hari lalu menemui keponakannya.
"Lihat, kamu selalu saja ceroboh! Kalo seperti ini terus Papa yakin orang orang itu akan menolak untuk menandatangi surat penyerahan kepemimpinan perusahaan ini sama kamu!" murkanya.
Sang wanita hanya terdiam, dia terlihat memainkan ponselnya tanpa mau melihat wajah penuh amarah sang Papa.
"Lagian kenapa kamu biarin Bima mati sebelum dia memberikan tanda tangannya! Bodoh, sekarang malah datang lagi satu- kalau sampai para pemegang saham tau Bima ternyata punya sodara kandung, kamu sama Sheren gak bakalan dapat apa apa. Kalau sampai mereka tau kalau Sheren bukan anak biologisnya-,"
"Aku tau Pa! Gak usah di bahas lagi. Gara gara masalah itu Mas Bima mati, gara gara dia tau kalo Sheren bukan anak dia. Oke, aku bakalan cari pria itu dan minta tanda tangannya, tapi jangan suruh aku lagi buat pura pura nganggap dia Bima! Dia memang saudara Bima, tapi dia tidak sama dengan Bima- dia cuma cowok miskin malang yang tidak tau kalo masih memiliki saudara. Bahkan mereka menganggap Bima sudah mati terbakar saat kecelakaan bersama orang tuanya, padahal Papa yang mengambilnya dan membiarkan bocah bernama Baron sekarat. Aku enggak nyangka bisa punya Papa sekejam itu, tapi enggak masalah."
Sudut bibir pria tua itu berkedut, dia menaikan dagunya tinggi seakan tengah bangga dengan apa yang sudah di perbuatnya.
"Anggap saja itu balasan manis untuk Anjar, kakak tiri tercintaku," ujarnya tanpa beban. Bahkan senyuman di bibirnya kian melebar dan terlihat mengerikan.
__ADS_1
LAKIK LO LAGI DI INCER ORANG DELππ