
Kedua mata Delila berbinar kala melihat benda bulat besar yang tengah bergerak memutar di hadapannya. Gadis yang akan berusia 19 tahun itu tersenyum lebar, di tangannya sudah ada kembang gula besar berwarna biru- sementara tangan satunya terus merangkul lengan seseorang yang sedari tadi mengikuti kemana pun dirinya melangkah.
"Aku mau naik itu!" serunya heboh.
Dia menatap orang yang saat ini mulai mengalihkan atensi padanya. Dahi orang itu berkerut, lalu dia kembali mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk oleh sang gadis.
"Gak usah, lo bisa muntah kalo naik kayak begituan!"
Delila berdecak, bibirnya maju beberapa centimeter- dia kecewa karena orang yang nota bene berstatus sebagai suami sahnya itu tidak mengizinkan dirinya untuk menaiki wahana permainan di arena pasar malam.
"Bentar aja, ya ya ya. Gak bakalan muntah kok, aku udah biasa naik yang kayak gitu kalo liburan sama Kak Ara," Delila terus saja merayu pria yang saat ini malah memalingkan wajahnya ke arah lain, ketika dirinya menatapnya penuh permohonan.
Pria itu terlihat membasahi bibirnya sendiri, menarik napas dalam, membiarkan Delila terus saja menggoyangkan lengannya dengan manja.
"Boleh ya Mas, bentar aja," rayunya lagi.
Kedua mata Delila mengerjap pelan, menatap lekat pria yang saat ini perlahan mulai kembali memandang ke arahnya.
"Kagak! Mending lo beli makanan aja, gak usah macem macem. Kalo lo sakit gue juga yang repot!"
__ADS_1
Wajah Delila kian masam, gadis itu terlihat gemas mendengar penuturan suaminya. Bahkan dia semakin di buat jengkel saat melihat Baron berjalan mendahuluinya begitu saja, dan mendekat ke arah stand makanan.
Pria itu membeli sesuatu?
Delila yang masih kesal hanya bisa mengumpat didalam hati, ingin mengumpat secara langsung tapi dirinya takut durhaka, di pendam pun malah menjadi penyakit sendiri- Delila tidak tahu harus bagaimana.
"Papa!"
Kedua mata Delila membulat saat melihat Baron tengah di peluk oleh seorang anak kecil. Rasa tidak rela seketika hadir, Delila tidak suka saat melihat suaminya di peluk oleh gadis lain walaupun itu hanya seorang anak kecil.
Tapi siapa anak itu? Kenapa dia memeluk suaminya begitu saja dan memanggilnya Papa?
"Eh, lo anak siapa?" peliknya tertahan.
"woy anak siapa ini?!" serunya lagi.
"Mas Baron udah punya anak?"
Baron yang saat ini tengah kebingungan bertambah shock saat mendengar ucapan Delila, gadis itu menatap lekat padanya dan bergulir memandang gadis kecil berkucir dua yang masih setia memeluk salah satu kakinya.
__ADS_1
"Sembarangan, anak dari mana?! Boro boro punya anak, lihat pabriknya aja belum pernah!" cetus nya frustasi.
Banyak pasang mata mengarah pada mereka bertiga, terdengar kasak kusuk para pengunjung arena pasar malam saat melihat bocah perempuan itu terus saja menempel pada Baron.
"Jangan percaya Dek, cowok tuh biasanya kayak gitu- suka amnesia dadakan kalo udah di pojokin. Mana mungkin ada bocah tiba tiba manggil dia Papa kalo memang mereka gak kenal," celetukan seseorang dari arah belakang tubuhnya membuat Delila menoleh.
Gadis itu mengerjap pelan, menatap seorang wanita yang mungkin seusia dengan Mamanya.
"Heh Bu, jangan kompor ya! Gue gak kenal nih bocah, sumpah Del- lakik lo ini gak pernah main dongkrak sebelum nikah!" Baron mencoba melepaskan belitan tangan bocah perempuan itu dari kakinya, berulang kali terlepas tapi berulang kali juga bocah itu kembali memeluknya.
"Halah semua cowok sama aja, habis manis sepah di buang. Udah lah Dek tinggalin aja, orang anaknya aja gak di akuin apa lagi hubungan kalian." ibu ibu itu kian menyulut api, bahkan menatap sinis pada Baron yang terlihat kian menatap tajam ke arahnya.
"Del, bantuin ngapa! Nih bocah anak siapa sih?!"
"Papa!" sahur sang bocah.
Delila masih terdiam, dia terus saja menatap interaksi antara suaminya dan bocah asing yang memanggil Baron Papa itu. Dia juga sebenarnya penasaran siapa bocah perempuan ini, kenapa bisa memanggil suaminya dengan sebutan Papa? Apa benar Baron belum pernah bermain dongkrak sebelum menikah dengannya, atau pria itu sama saja seperti pria hidung belang lainnya yang pura pura amnesia setelah menyebar benih pada seorang wanita?
Sepertinya ada tugas baru yang harus Delila selesaikan setelah ini, dirinya tidak mau mengira ngira sebelum membuktikannya sendiri nanti. Bersiaplah Baron Gunadi, Delila Prayoga akan memotong batang lato lato mu kalau sampai dirimu ketahuan bermain dongkrak di belakangnya.
__ADS_1
ADA YANG KANGEN NENG DEMPLON SAMA MAS BARONππππ