
Akhirnya Baron sampai di kediaman Delila, setelah berhasil kabur dari wanita masa lalunya. Walaupun harus bertindak tegas dan sedikit kasar, Baron mencoba tidak peduli.
Ini adalah kesempatan terakhirnya untuk memperbaiki hubungannya dengan Delila, dan meminta restu tulus pada kedua mertuanya.
Baron menghirup napas dalam, dia perlahan melangkah mendekat ke area rumah tiga tingkat yang menjulang tinggi di hadapannya. Rumah tiga lantai milik mertuanya ini terlihat semakin megah saat di sore hari ini.
Rasa insecure perlahan menghampiri, bahkan langkah Baron terhenti seketika saat menyadari kalau antara dirinya dan Delila banyak perbedaan dan jauh berbeda.
Ragu
Dia ragu untuk kembali melangkah, rasa tidak pantas menyerbu hati dan pikirannya. Perlahan Baron melangkah mundur, dia menunduk dalam dan tersenyum miris sembari menatap paving blok yang diinjak nya.
"Harusnya gue tau diri dari dulu. Lo memang gak pantes buat cowok miskin dan gak tau diri kayak gue, Del." gumamnya.
Baron menjilat bibirnya yang kering, semangatnya yang tadi menggebu perlahan padam berganti dengan kenyataan pahit yang menampar dirinya berkali kali agar tahu diri.
"Lo pantes dapetin cowok yang lebih dari gue. Gue- gue bakal cer-,"
"MAU SAMPAI KAPAN KAMU DISITU?! SAYA UDAH LUMUTAN NUNGGU KAMU DIDALAM, DASAR MANTU GAK ADA AKHLAK!"
Suara teriakan seorang pria membuat Baron menghentikan gumamnya, dia kembali mengangkat wajahnya dan berkedip pelan saat melihat seseorang tengah berjalan cepat ke arahnya dengan wajah kesal.
"Bagus ya, kita udah nunggu kamu sampai berakar didalam- yang ditunggu malah plonga plongo kayak ayam ketelo!"
Tanpa perasaan orang itu meraih kerah kemeja batik bagian belakang yang Baron pakai, dan membawa pria itu ke arah rumahnya. Mulutnya terus saja mengomel, bahkan interaksi keduanya tidak terlihat seperti dua orang asing yang tengah bermusuhan dan tidak akur.
Kedua pria beda usia itu malah terlihat seperti Ayah dan anak, sang Ayah terlihat marah karena anaknya tidak segera masuk untuk menemuinya.
__ADS_1
"Kamu ngapain bengong dihalaman? Mana mau magrib, gak takut di culik wewe gombel kamu huh?!"
Baron tidak menyahut, dia masih terdiam dan membiarkan pria paruh baya itu membawanya kedalam rumah. Dan ternyata benar, disana sudah ada Delila dan seorang wanita paruh baya yang tengah menikmati camilan.
"Nih Ma mantu kamu, ditungguin malah bengong dihalaman. Kalo digondol wewe gombel gimana? Bikin repot mertua aja!"
Kedua wanita beda usia itu menoleh, bahkan salah satu dari mereka segera bangkit saat melihat pria yang menjadi suaminya itu di paksa duduk oleh Papanya.
"Papa ngapain bawa Mas Baron kayak anak kucing gitu?" protesnya.
Dengan kesal sang gadis mendekat dan menjauhkan Papanya dari sang suami. Wajahnya ditekuk dalam, lalu tanpa malu memeluk pria itu dari arah samping.
"Gak usah di peluk kayak gitu juga! Papa cuma bawa dia masuk ke rumah, tatapan kamu kayak mau makan Papa hidup hidup," gerutunya.
Sang gadis tidak peduli, dia terlihat memastikan kalau pria yang ada didekatnya ini baik baik saja.
"Astaga ini bocah, udah sekarang langsung ke intinya aja. Saya enggak mau denger kata huh hah huh hah lagi, apa tujuan kamu kesini?"
Pria paruh baya itu langsung ke pokok masalah, dia tidak ingin basa basi lagi. Tidak ingin mendengar penjelasan tidak jelas dan banyak alasan yang di lontarkan oleh pria muda dihadapannya.
"Saya mau memperbaiki hubungan kami berdua, Pak. Tapi-,"
"Tapi? Tapi kenapa?" selanya cepat.
Baron menelan salivanya susah payah, dia melirik pada gadis yang ada disisinya. Pria itu menghirup napas pelan lalu menghembuskannya perlahan.
"Tapi saya merasa tidak pantas lagi untuk putri anda. Seharusnya ini saya katakan sedari dulu, saya baru sadar kalau diantara kita itu jauh berbeda. Saya cuma pria miskin, gak tau diri, dan-,"
__ADS_1
"Kamu pikir anak saya gadis matre yang cuma butuh uang kamu itu? Apa kamu gak pernah mikir selama ini, kalau anak saya cuma mau senang dia bisa dapetin pengusaha kaya raya dari pada harus maksa nikah sama cowok kayak kamu. Dia sampai rela tinggal sama kamu, tiap hari jongkok di wc buat nyuci baju kamu, berdiri di dapur pagi pagi buat bikin sarapan buat kamu, nyapu, ngepel, apa lagi yang kurang? Apa mata kamu sudah bu-,"
"Udah Pa! Udah gak usah dilanjutin. Kayaknya bener kata Papa, Mas Baron gak bakalan mau sama cewek kayak aku. Aku banyak kurangnya, jadi kalo Mas Baron memang mau kita pis-,"
"Bukan gitu maksud gue, Delila!" Baron memotong cepat.
Dia menatap sang gadis, sesekali memejamkan kedua matanya saat melihat raut wajah sendu Delila saat ini.
Gadis ini terlalu sempurna untuknya.
"Kamu tau kan kalo gu- aku cuma cowok mis-,"
"Terus apa masalahnya? Mau miskin atau kaya gak masalah buat aku! Sekarang pertanyaannya cuma satu, Mas Baron masih mau enggak nikah sama aku?!"
Baron reflek mengangguk, pria itu terlihat tidak berkutik melihat tatapan tajam penuh intimidasi yang Delila tujukan padanya.
"Udah beres, berati kita bakalan tetap menjadi suami istri. Aku mau nikah negara kita dilakuin setelah aku umur dua puluh tahun, emm- kurang lebih satu tahun lagi. Udah bereskan Pa Ma, nah sekarang kita makan aku udah laper!"
Delila bangkit, dia melenggang pergi meninggalkan ketiganya yang masih terdiam mendengar ocehan gadis muda itu terlebih Baron.
"Nah bener kata Delila, kita makan dulu biar otaknya pada lempeng!" sahut Kirana menyetujui dan segera mengikuti langkah putrinya meninggalkan suami serta menantunya.
"Dengarkan? Jangan membantah kalo kamu gak mau lihat Delila ngamuk nanti."
TAMPOL AJA MULUTNYA PAKE KUNCI INGGRIS DELπππππ€£π€£
__ADS_1