Istri Tengil Mas Baron

Istri Tengil Mas Baron
Nasi Sudah Menjadi Bubur, Nikmati Saja


__ADS_3

Braak!


Delila menutup pintu mobil dengan kencang, dia berjalan cepat menuju bangunan besar yang tidak jauh darinya. Kedua mata bulatnya menatap penuh kagum pada rumah satu lantai yang dia kunjungi bersama Baron saat ini.


"Kita bakalan tinggal disini?" tanyanya dengan raut wajah yang masih tidak percaya. Tanpa melihat pada Baron, karena kedua matanya terus saja sibuk memindai ke setiap area.


"Ya," sahut Baron singkat.


Pria itu sudah berada di dekat Delila, satu tangannya merangkul pinggang rampung serta berisi milik istrinya. Dia juga terlihat ikut menatap ke arah rumah yang sudah dimilikinya sejak lama, bahkan sebelum dia berpisah dengan Renata dulu.


Sayang, wanita itu ternyata lebih terlena dengan harta dari pada mempertahankan hubungan mereka berdua. Dan baiknya, Baron bisa mendapatkan Delila sekarang sebagai nyonya di rumah itu, walaupun awal hubungan mereka berdua tidak baik malah hampir saja kandas karena ke egois annya.


Rangkulan Baron kian mengerat, dia merasa bersalah pada wanita yang terus saja tersenyum tanpa berniat untuk menyudahinya. Entah apa yang membuat Delila bahagia, apa karena dirinya membawanya ke rumah ini? Tapi bukanlah rumah milik keluarganya jauh lebih besar berkali kali lipat dari pada bangunan yang di miliki suaminya ini?


"Maaf," ungkapnya dengan tulus dan penuh rasa penyesalan.


Delila yang tadinya tersenyum perlahan menoleh pada Baron, senyumannya hilang berganti dengan raut wajah heran kalau mendengar kata maaf dari mulut suaminya.


Untuk apa Baron meminta maaf padanya, apa ada hal yang membuat pria itu merasa bersalah? Atau karena Baron tidak bisa memberikan rumah yang besar untuk mereka tinggali? Delila tersenyum kecut dibuatnya, jujur dia tidak peduli akan tinggal di mana bersama pria ini, yang terpenting untuknya adalah mereka tetap bersama. Tinggal di kontrakan kecil seperti dulu juga tidak apa apa, kenapa mesti repot.


"Enggak apa apa, aku seneng kok tinggal disini. Ini udah lebih dari cukup, kita bisa punya rumah sendiri. Jadi aku bisa ngurusin kamu sama ru-,"


"Bukan soal rumah!" serah Baron gemas.


Dahi Delila kian mengerut mendengar ucapan suaminya, dia menatap dalam pada Baron dengan raut wajah heran.

__ADS_1


Jadi apa?


"Ini soal perlakuan ku dulu. Maaf, karena dulu aku egois dan hanya menganggap kamu adalah beban. Aku enggak pernah mikirin perasaan kamu, aku cuma mikirin perasaan aku saat itu. Padahal aku yakin waktu itu kamu juga-,"


"Aku enggak apa apa, Mas. Bukannya memang ini salah aku kan, kalau bukan gara gara aku, Papa gak bakalan nikahin kita waktu itu. Mas Baron juga gak bakalan su-,"


"Oke, jadi sekarang kita sama sama salah, gimana deal?" Baron segera memotong ocehan Delila. Dia tidak akan membiarkan wanita ini kembali menyalahkan dirinya dan sang mertua. Nasi sudah menjadi bubur, jadi tinggal menikmati saja bersama toping komplit nya nanti. Lagian tidak rugi juga menikah anak tunggal kaya raya bukan, terlebih dia cantik, sexy, mempesona, bahenol, dan lagi sangat pan-


"Ayo, aku mau lihat rumahnya!"


Lamunan Baron buyar saat Delila menarik lengannya, wanita itu terlihat begitu antusias saat melihat Baron mengeluarkan kunci dari saku celananya. Kedua matanya berbinar, dia menatap sekitar rumah. Ternyata sudah banyak tanaman hidup yang tertata rapih disini, ternyata Baron memang merawat rumah ini hingga akhirnya bisa membawa pasangan hidupnya kesini, dan hari inilah akhir penantiannya.


πŸ’ž


πŸ’ž


πŸ’ž


Delila menatap kamar besar yang akan ditempatinya bersama Baron nanti. Dia masuk dengan langkah pelan, kedua matanya terus saja memindai setiap sudut ruangan yang ada disana.


"Gak apa apa gede, biar luas. Kita kan bisa main bola disini, lagian aku kan sukanya yang gede gede." Delila menoleh pada Baron dan mengerling manja.


Bahkan terkesan nakal, wanita itu terkekeh kala melihat semburat merah di wajah suaminya. Delila melanjutkan tournya berkeliling rumah dan melewati Baron begitu saja. Tapi sayang, baru saja selangkah dia menjauh seseorang menarik lengannya hingga dirinya tersungkur diatas tempat tidur, tepat di bawah kunkungan seseorang.


"Gimana kalau kita sekarang nyobain tempat gede ini, main yang gede gede, sesuai dengan kesukaan kamu," bisik Baron seduktif.

__ADS_1


Delila bahkan merinding di buatnya, dia berusaha berontak tapi tetap tidak bisa sampai akhirnya kedua bibir itu bertemu kembali setelah beberapa waktu tidak saling memanjakan. Di siang hari bolong ini, kamar besar itu akhirnya di reyen oleh sang pemilik, mereka berdua bermain di ruangan besar yang di katakan Delila tadi.


πŸ’ž


πŸ’ž


πŸ’ž


"Ini kunci bengkelnya, semuanya sudah siap kamu tinggal jalanin. Pokoknya Papa gak mau tau dan gak bakalan ikut campur, anggap saja ini kado pernikahan kalian. Walaupun sebenarnya Papa pinginnya ngasih perusahaan buat kamu kelola, tapi kayaknya kamu gak minat Ron, jadi perusahaannya buat cucu Papa aja nanti. Masih inget kan apa yang Papa mau, buatin cucu sebanyak mungkin, nyesek punya anak cuman satu. Udah satu di ambil orang, mana orang yang ngambil gak bisa di atur sama mertua," Davyn terus saja mengomel sembari meninggalkan menantu serta anak semata wayangnya.


Delila dan Baron saling tatap, mereka berdua tidak tahu harus menjawab apa. Diam sepertinya adalah pilihan yang terbaik saat ini, mereka berdua tahu kalau Davyn tengah kesal karena Baron menolak untuk meneruskan dirinya di GG MOBILE. Dan memilih membuka bengkel mobilnya sendiri, sebenarnya bengkel yang dulu juga miliknya tanpa di ketahui oleh siapa pun termasuk Delila. Maka dari itu Baron segera menyeret Maman juga kedua rekan seperjuangannya untuk bekerja di bengkel barunya yang lebih besar dan modern.


"Tuh dengerin, Papa minta cucu yang banyak katanya. Jangan kayak kami ya, bikin yang banyak pokoknya." Kirana terkekeh pelan dibuatnya, dia melenggang pergi setelah mengatakan hal itu pada Baron dan Delila, menyusul suaminya yang sudah masuk kedalam bengkel.


"Semangat Bang, gue do'ain anak lo selusin biar jadi tim sepak bola!" cetus Maman yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka sembari menyusun barang.


Dua rekannya juga mengiyakan dan mengamini, bahkan mereka tertawa pelan melihat pelototan Baron.


"Apa? Mas Baron mau apa? Mau minta anak banyak dari aku, jangan kemakan omongan Papa ya! Gak ada yang namanya banyak anak banyak rezeki, yang ada itu biar dikit tapi berkwalitas. Pokoknya dia anak cukup sesuai anjuran pemerintah, enak aja di kira aku emaknya marmut suruh bikin anak selusin." Delila terus saja menggerutu kesal. Dia meninggalkan Baron yang hanya bisa tersenyum kecut, kepalanya pusing memikirkan keinginan Papa mertuanya yang absurd. Bukannya tidak sanggup untuk menunaikan keinginan Davyn, tapi Baron lebih menyayangi Delila sebagai istrinya. Dia tidak mungkin tega melihat istrinya melahirkan berulang kali.


"Tau ah, bodoamat!" keluhnya.



OPA DAVYN MAU YANG KAYAK GINI KATANYA🀣🀣🀣🀣

__ADS_1


__ADS_2