
Delila menikmati makan siangnya dengan tidak berselera, dia terus saja mengaduk sate yang baru saja disajikan oleh sang penjual. Kedua matanya terus saja menatap kosong, sesekali dia menghela napas pelan dan menyiapkan potongan lontong yang tercampur dengan sambal kacang pedas manis, sungguh menggugah selera.
Di dekatnya Galexia terlihat lebih menikmati hidup, gadis itu terus saja menggerutui tukang es doger yang tidak lagi kembali. Alhasil dirinya dan Delila hanya menikmati es campur yang sebenarnya sama sekali tidak mereka inginkan.
"Tuh Kang es doger sama kayak si Papi, nyebelin!" cetus nya lagi.
Delila yang masih sibuk menerawang sedikit tersentak, dia melirik ke arah kakak sepupunya yang sudah hampir menghabiskan semua makanan yang di pesannya tadi. Bahkan sepertinya Galexia kembali membeli beberapa makanan lain.
"Gak usah ngomel sih, Kak. Entar lo bisa suka sama tuh Kang es doger."
Galexia mendelik, dia menoleh pada adik sepupunya yang sudah kembali menikmati satenya. Gadis yang akan berusia 19 tahun itu terlihat cuek dan masa bodo melihat pelototan Galexia.
"Apaan! Gue malah pingin getok tuh kepalanya. Udah pesen esnya malah di tinggal gitu aja, kagak punya perasaan banget. Kalo gak niat jualan gak usah jualan, php in orang aja!" sungut nya kesal.
Bisa bisanya Delila mengatakan hal yang tidak masuk akal. Apa katanya tadi, suka?
Galexia mengiringi dibuatnya, dia tahu kalau pedagang es itu bukan hanya warga sipil biasa. Dia intel dan itu tidak akan didalam daftar pria idaman seorang Galexia.
Kenapa?
Karena Galexia tidak mau hidupnya di kekang, dia ingin dapat jodoh yang membebaskannya. Tidak ada aturan harus ini itu, tidak boleh begini tidak boleh begitu, oh maaf tidak bisa.
__ADS_1
Galexia adalah kebebasan.
"Orang itu intel Kak Lexi, bukan cuma kang es doger. Wajarlah lebih ngeduluin buruannya dari pada pembeli, lagian kalo Kak Lexi mau tinggal ambil aja noh es nya. Gue yakin gak bakalan marah dianya juga,"
Galexia mencebik, matanya tertuju pada gerobak es doger yang masih berada di tempat tadi. Ekor matanya menelisik, mencari sesuatu atau seseorang yang akan mengambil gerobak itu, tapi sepertinya nihil.
Bahkan para pedagang yang lain terlihat biasa saja setelah kejadian tadi, seakan hal itu sudah terbiasa untuk mereka.
π
π
π
Seperti yang tengah dialami oleh seorang pria yang tengah sendiri di teras rumah kontrakannya. Hanya di temani oleh rokok dan kopi hitam kesukaannya, walaupun kopi itu terasa gambar tidak seperti kemarin kemarin saat masih ada seseorang yang menemaninya, tapi lumayan untuk menjadi penghangat tubuhnya malam ini.
Hembusan asap keluar dari mulutnya, kedua matanya terpejam, pikirannya melayang jauh entah kemana. Jakunnya naik turun saat didalam pikirannya saat ini malah di penuhi oleh bayangan wajah seorang gadis yang memilih menyerah dan pergi meninggalkannya.
"Bisa gila gue lama lama!" desisnya.
Pria itu bangkit, dia masuk kedalam rumah kontrakannya tapi tidak lama kembali keluar sembari membawa jaket dan sebuah kunci motor.
__ADS_1
Malam ini dia harus meluruskan otaknya, mungkin mencari makan di pinggiran jalan akan membuatnya sedikit melupakan bayang bayang yang terus saja mengganggunya selama beberapa waktu ini.
Soalnya dia tidak bisa menemui orang yang membuatnya seperti ini, dirinya belum siap dan tidak tahu akan mengatakan apa saat bertemu nanti. Walaupun belum ada kata talak yang keluar dari mulutnya, jujur dirinya merasa serba salah kalau bertemu dengan gadis tengil itu.
Motor trail yang dia bawa membelah jalanan ibu kota, kedua matanya menatap lurus ke arah jalanan yang begitu ramai. Cukup lama berkendara tapi dia belum juga menemukan tempat yang pas untuk sekedar menenangkan suasana hatinya saat ini.
Hingga pada akhirnya laju motornya kian melambat kalau melihat seseorang yang dia kenali hendak masuk kedalam mobil. Kedua matanya mengerjap, dan dengan perlahan dia membututi mobil mini cooper yang melakukan kencang di depannya.
"Delila, ngapain dia malem malem keluar? Sama siapa lagi?!"
Secara tidak sadar pria itu mengeratkan pegangannya pada stang motornya, kedua matanya menatap tajam dan terus saja mengikuti mobil kecil berwarna merah yang sekarang semakin melaju kencang hingga membuatnya ikut menambah kecepatan.
Entah kenapa rasa penasaran dan kesal tiba tiba saja muncul didalam hatinya.
"Kita masih belum cerai, tapi lo udah berani jalan malem malem sama orang. Bener bener binik bebal lo ya!"
**GALEXIA RANENDRA πππ
MUKANYA PLEK KETIPLEK BANG GALAK YA YANG BULE, CRYSTAL GAK DI AJAKπ€£π€£π€£π€£**
__ADS_1