
Malam menjelang, gerimis mengguyur area perkampungan yang sudah sunyi sepi. Sesekali kilat dan petir menyambar, menyambut datangnya sangat hujan yang semakin lama kian deras.
Udara dingin dan bau tanah lembab mulai menyeruak masuk kedalam area penciuman. Orang orang memilih untuk menutup rapat pintu serta jendela rumah mereka, bergulung di bawah selimut tebal guna menghalau hawa dingin yang semakin menusuk kulit. Angin malam mulai mengiringi derasnya hujan, dan itu kian membuat para anak manusia semakin terlelap dalam tidur.
Namun sepertinya ada anak manusia yang masih melakukan kegiatannya malam ini. Bahkan dia tengah bermain dengan dinginnya air untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket serta kotor. Cukup beberapa belas menit dirinya menyelesaikan ritual mandinya malam ini, tadi sore dia tidak sempat karena terlalu fokus mencari sesuatu yang dibutuhkannya. Udara dingin malam yang kian menusuk kulit tubuhnya yang terbuka, dia terlihat terburu buru keluar dari kamar mandi dan bergegas menuju kamarnya.
Sementara di kamar yang berbeda, seorang gadis berambut panjang tengah membolak-balikkan album foto tua di tangannya. Terangnya lampu kamar sedikit membantu penglihatannya saat memindai beberapa wajah orang yang belum pernah di temui nya, dan dirinya yakin kalau diantara wajah orang asing itu ada Baron suaminya.
Dua anak kecil yang tengah duduk di sebuah stroller dan dua orang dewasa yang dia yakini sebagai kedua orang tua mereka.
"Umur Mas Baron sama sodaranya kayaknya gak jauh ya? Mereka kayak seumuran gini pas kecil, rajin banget mertua gue bikin mereka, setahun satu," gumamnya.
Kedua matanya terus saja bergulir, tangannya begitu lincah membolak-balik kan lembaran foto. Beberapa saat yang lalu gadis itu berhasil mengambilnya dari sang suami yang kebetulan tengah berada di dalam kamar mandi. Dan mungkin dia akan mengembalikannya nanti secara diam diam setelah puas melihat serta menebak siapa saja yang ada di dalamnya.
Blup!
Gerakan tangan gadis cantik itu terhenti saat tiba tiba lampu kamarnya mati. Dia terlihat masih santai dengan menyalakan senter dari ponselnya, gadis itu bangkit dan berencana untuk keluar dari kamarnya. Tapi saat hendak meraih handle pintu, ekor matanya menangkap sebuah siluet seseorang dari arah luar. Gorden kamar yang terlibat karena angin semakin memperjelas siluet asing itu, dan berhasil membuat sang gadis terkejut.
"Mas Baron? Ngapain dia diluar, masa Mas Baron sih?" gumamnya pelan.
Dengan pelan dan hati hati dia perlahan mendekat ke arah jendela kaca kamarnya. Kedua matanya terus saja menatap lekat ke arah luar, goyangan gorden yang menyibak cukup lebar mempermudah dirinya untuk melihat area luar, hingga-
Degh! Jder!
Langkah Delila terhenti, jantungnya tiba tiba saja berdetak lebih kencang saat kilatan cahaya petir menerangi pemilik siluet asing tersebut.
Delila bisa melihat dengan jelas kalau orang yang ada di luar kamarnya itu terlihat membawa sesuatu di tangannya.
__ADS_1
Sebuah pisau
Walaupun hanya sekilas karena cahaya kilatan petir, namun Delila yakin kalau kedua matanya tidak salah melihat. Gadis bergaun malam cukup pendek itu perlahan melangkah mundur, jantungnya kian menggila- tenggorokannya terasa kering lalu dengan cepat dia berbalik dan berlari menuju pintu kamarnya.
"MAASSSS! MAS BARON!" cukup keras Delila memanggil nama suaminya. Namun sayang derasnya hujan mampu meredam suara keras serta cempreng nya di dalam rumah itu. Delila berlari cepat, langkahnya tertuju ke arah sebuah kamar tamu yang di gunakan Baron untuk tidur malam ini.
"Mas Baron!" tanpa mengetuk dan permisi Delila menerobos masuk kedalam.
Napasnya terengah dan hampir saja habis, kedua matanya terpejam erat- dadanya naik turun karena lelah. Tapi tidak lama gadis itu membuka kedua matanya cepat dan memeluk tubuh seseorang yang tengah berdiri di sisi tempat tidur, hingga akhirnya napas yang tadinya terengah kini tertahan di tenggorokan saat dirinya merasakan sesuatu yang kenyal, basah, lembab, namun terasa hangat.
Bukan hanya Delila yang dibuat menahan napasnya, pemilik tubuh yang Delila peluk saat ini pun sama tegangnya. Bahkan saking tegangnya, celana da*lam yang baru saja hendak dia kenalan terjatuh begitu saja diatas lantai.
"Mas di luar kamar aku ada orang. Orang itu bawa-,"
"Delila," panggilnya dengan suara tertahan.
"Mas, aku tidur disini ya! Aku takut, orang itu bawa pis-,"
"Delila kalo masuk ketuk dulu pintunya! Orang apa, lo ngimpi ya?!"
Baron menyentak tangan Delila dan bergegas meraih celana pendek miliknya yang tergeletak di atas tempat tidur, tanpa memakai celana da*lam terlebih dahulu.
Srek!
Dengan sekali tarik, resleting itu tertutup sempurna menutupi sesuatu yang tadi sempat ikut menegang sama seperti bagian tubuh lainnya.
Sementara Delila, gadis itu hanya menatap ke arah luar jendela kamar dengan perasaan kacau. Gadis yang tidak berpengalaman soal hal berbau dewasa itu belum menyadari kalau tindakan spontan yang dia ambil tadi menyebabkan sesuatu yang besar terjadi.
__ADS_1
"Orang itu masih di luar, aku lihat dia tadi Mas Bar-,"
Lagi lagi ucapan Delila terputus, kini gadis itu mengalihkan pandangannya pada Baron dan terlihat berkedip pelan saat melihat ekspresi pria itu saat ini.
"Itu bukan alasan yang tepat buat lo bisa masuk ke sini waktu gue lagi mau pake kolor. Lo-,"
Grep!
Tanpa peduli dengan ucapan pedas dan rasa tidak percaya yang Baron tunjukan, Delila lebih memilih untuk memeluk kembali tubuh setengah telanjang itu. Mendekapnya erat seakan takut kalau pemiliknya menjauh, Delila bukan mencari kesempatan dalam kegelapan- tapi jujur dia memang takut saat mengingat siluet orang asing yang dia lihat di luar kamarnya tadi.
"Pokoknya aku mau tidur sama Mas Baron, titik. Aku janji deh gak bakalan macem macem, cuma tidur doang. Gak bakalan ***** *****, pokoknya keperjakaan Mas Baron bakalan aman." Delila kian mengeratkan dekapannya, bahkan Baron pun tidak mampu bergerak apa lagi melepaskan belitan kedua tangan gadis demplon itu.
Sepertinya malam ini Baron tidak akan bisa tidur dengan tenang, selain keberadaan Delila yang meresahkan- ucapan gadis itu pun berhasil mengusik pikirannya.
Ada orang asing diluar rumahnya, membawa apa katanya? Pisau?
Benarkah? Atau hanya halusinasi gadis itu saja?
Baron tidak lagi memberontak, dia membiarkan Delila tenang dan kian merapatkan tubuhnya. Kedua mata Baron perlahan terarah ke luar jendela kaca yang remang, lampu imergensi yang ada di luar cukup untuk menerangi keadaan rumahnya. Walaupun sedikit tidak jelas karena embun yang tercipta oleh hujan, tapi Baron masih bisa melihat keadaan di luar rumahnya.
Haruskah dia memastikan sesuatu di luar nanti, setelah Delila tenang dan terlelap?
**TIATI DEL, DONGKRAK MULAI BANGUN๐๐
MINALAIDZIN WALFAIDZIN MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN SEMUANYA๐๐๐๐**
__ADS_1