
'Jujur gue belum siap sama pernikahan ini, tapi gue juga gak mungkin ngehindar terus. Kalo memang lo mau sabar, tungguin sampai gue siap.'
Delila mengigit bibirnya kala mendengar ucapan Baron kemarin. Pria yang membawanya kedalam kamar dan menguncinya disana hanya mengatakan kalimat itu dan setelahnya berlalu keluar. Dia kembali sibuk mengotak atik mobil tetangga yang kemarin minta di perbaiki.
Baron meninggalkan Delila yang belum sempat menjawab, dia memang bukan pria remaja yang tidak memikirkan masa depannya termasuk pernikahan. Tapi pernikahan mendadak dan secara paksa ini cukup membuat Baron shock, diusianya yang sudah hampir menginjak 29 tahun memang seharusnya dia sudah memiliki pendamping hidup.
Tapi Baron juga tidak pernah mengharapkan gadis yang usianya cukup jauh dengannya untuk menjadi istrinya. Dan sekarang semuanya sudah terjadi, walaupun ini adalah pernikahan paksa dia tidak mungkin mempermainkan nya.
Menerima secara perlahan? Mungkinkah Baron bisa?
Dan sekarang kita kembali pada Delila, gadis bertubuh sempurna itu terlihat merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Kedua matanya menatap lurus keatas langit langit, helaan napas kasarnya terdengar. Ekor matanya perlahan melirik ponsel yang tergeletak tidak jauh darinya.
Dia meraihnya, Delila menyalakan benda itu untuk melihat waktu. Sudah memasuki waktu makan siang, gadis itu bangkit- hari ini Delila berencana akan membuatkan makan siang untuk Baron dan mengantarkannya ke bengkel.
Tapi bukankah pria itu bilang harus bersabar sampai Baron siap? Delila terlihat ragu, kalau dia diam saja tidak bertindak pasti hubungan mereka berdua tidak akan ada perubahan yang berarti. Jadi dari pada menunggu lebih baik bergerak dan membuktikan kalau dirinya memang tidak main main ingin menjadi seorang istri.
π
π
π
Cukup beberapa puluh menit untuk Delila membuat makan siang, sekarang dia sudah berjalan menuju jalan raya. Kali ini gadis itu tidak akan berjalan kaki, memanfaatkan uang yang selalu di berikan oleh Baron, dia akan menaiki angkutan umum.
Sekian lama menunggu, cukup lama dan matahari mulai menyengat kulit- akhirnya Delila bisa berteduh dengan nyaman di dalam angkutan kota. Walaupun harus berdesakan tapi sepertinya gadis itu tidak mempermasalahkannya, padahal selama ini Delila tidak pernah menaiki angkutan umum bahkan taksi saja jarang.
Sedari dalam kandungan Kirana Mamanya gadis cantik itu sudah dimanjakan oleh banyak benda berharga, tapi entah kenapa Delila justru lebih memilih menyusahkan hidupnya sendiri demi Kang Mas Baron tersayang.
__ADS_1
Inilah cinta perjuangannya tiada akhir!
Delila meminta sangat sopir berhenti saat jarak bengkel tidak jauh lagi, dengan semangat 45 dia melangkah membawa bekal makan siang untuk suaminya. Senyuman Delila perlahan mengembang, sepertinya dia tidak sabar untuk memberikannya pada Baron.
Sudah beberapa waktu ini Baron selalu memintanya untuk memasak, walaupun tidak pernah ada pujian yang terlontar dari mulut pria itu, Delila tetap saja merasa senang.
"Pasti nanti Bang Maman juga minta, untung aku buatnya agak-,"
Ucapan Delila terhenti, begitu pula dengan langkah kedua kaki putih mulus yang hanya berbalut sandal jepit murahan. Kedua matanya mengerjap pelan, tangannya meremas erat wadah bekal yang ada ditangannya saat ini.
Disana, depan sebuah bengkel dia melihat seorang pria menjadi bahan tontonan orang orang karena tengah di peluk oleh seorang wanita. Walaupun Delila melihat pria itu sama sekali tidak membalas pelukan sangat wanita, tapi pria itu sama sekali tidak mencegahnya.
Bahkan Delila bisa melihat Maman menatap tidak suka pada keduanya, termasuk tekan kerjanya yang ada didekat pria ceria itu. Bahkan terlihat para pelanggan bengkel menatap risih pada wanita yang memakai gaun bermotit bunga bunga itu.
"Gue aja belum pernah di peluk kayak gitu," lirihnya.
Semangat Delila yang tadinya berkobar kini menyusut dan kian padam, hatinya speechlees- dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Kalau pun dirinya menyerang wanita itu, apa mungkin sangat pria akan membelanya. Bukankah sudah jelas sekarang pria itu sama sekali tidak menolak pelukan si wanita?
Delila tersentak, dia reflek menoleh saat mendengar suara dari arah belakangnya. Gadis itu menelan salivanya berat dan berdehem pelan untuk menetralkan detak jantungnya.
"Eemm- aku cuma mau nitip ini. Tolong kasihin sama Mas Baron ya, kalo gitu aku permisi. Makasih sebelumnya Bang, makanannya banyak kok kalian bagi bagi aja nanti ya!"
Delila segera menyerahkan wadah bekal yang di bawa pada salah satu tekan kerja suaminya, tanpa ingin menoleh lagi dia bergegas pergi dari area bengkel tanpa peduli dengan panggilan pria berseragam lusuh itu.
Dan kebetulan sekali, panggilan pria itu terdengar oleh orang orang yang ada di bengkel termasuk Baron. Pria itu menatap ke arah rekannya yang saat ini terlihat mengejar seseorang, cukup lama terdiam hingga akhirnya tarikan yang dilakukan oleh Maman membuat Baron terhuyung kebelakang.
"Gue tau lo cowok baik, Bang. Inget lo udah punya siapa dirumah, jangan jadi bajingan cuma gara gara kata terpaksa!" peringatan Maman.
__ADS_1
Baron masih terdiam, kedua matanya kembali menatap lurus ke arah rekannya yang perlahan mendekat ke arahnya sembari membawa sesuatu. Sementara wanita yang tadi memeluknya tanpa izin masih menangis sesenggukan, dia sempat meronta saat Maman membawanya menjauh dari orang orang.
"Ada yang nitip ini buat lo, Bang!" pria itu memberikan bungkusan makan siang pada Baron dengan napas terengah.
"Apaan nih, dari siapa?" tanya Baron penasaran.
Sang rekan menghela napas pelan, lalu kembali berbicara "Dari cewek yang waktu itu lo anterin pulang. Tadi dia kesini nganterin makan siang buat lo tapi balik lagi gak masuk ke bengkel, kayaknya tuh cewek suka sama lo deh Bang. Udah Bang sikat aja, cantik, baik, perhatian, mana boh- WOOYY BANG LO MAU KEMANA?! DIA NYA UDAH PERGI NAIK TAKSI TADI!"
Teriakan pria itu tidak membuat Baron menghentikan langkahnya, bahkan wadah bekal makan siang yang ada di tangannya dia bawa juga. Kedua matanya mengedar mencari seseorang yang mungkin melihat adegan pelukan itu tadi.
"Sialan!"
Baron mengumpat pelan, entah kenapa dia malah merasa khawatir dan tidak nyaman sekarang.
Sementara di tempat lain, beberapa belas menit yang lalu Delila sampai dikontrakkan. Gadis itu bergegas masuk kedalam, dan berjalan cepat menuju kamar. Sesampainya disana, kedua kalinya melangkah mendekat ke arah lemari- tangannya terulur meraih koper kecil berwarna fucia yang tersimpan disisi lemari.
Dengan cepat Delila membukanya, lalu membuka lemari pakaian dan mengeluarkan beberapa baju yang tersusun rapih didalamnya. Cukup cepat, tidak rapih, tapi Delila tidak peduli.
Dia menyeret benda itu mendekat pada tempat tidur, mendudukkan diri di sana sembari mengotak atik ponselnya untuk mencari kontak seseorang.
"Papa! Delila udah selesai main rumah rumahannya,"
Hanya itu yang Delila katakan saat panggilannya teleponnya tersambung, setelah itu dia mematikan lalu mengirimkan pesan pada seseorang yang ada ditempat berbeda.
Gadis itu menghela napas dan bangkit, satu tangannya menyeret koper kecil miliknya keluar dari rumah kontrakan yang selama beberapa bulan ini di tempatinya.
"Gue gak sesabar yang lo kira Mas, ternyata berjuang sendiri itu capek ya? kita udahan aja ya rumah rumahannya, gue capek." gumamnya penuh kemirisan.
__ADS_1
HAYOLOH BANG SI DEMPLON MINGGAT, RASAIN LO, KONFLIK DIMULAI πππ