
Senyuman Delila kian mengembang saat Baron mengajaknya keluar rumah, sesuai dengan janjinya tadi pagi. Kedua mata gadis bercelana jeans pendek itu terlihat berbinar, dia tidak henti hentinya menggoyangkan tangan Baron yang saat ini tengah dia gandeng paksa.
Delila terlihat seperti seorang anak yang baru menikmati liburannya disini. Dia tidak terlihat seperti gadis dewasa yang sudah menikah, bahkan kalau disandingkan dengan para gadis remaja yang masih mengenyam bangku SMP di kampung itu, Delila terlihat lebih imut dan menggemaskan.
Terlebih dimata Baron sekarang.
Benar, karena sedari tadi ekor mata pria yang terlihat pasrah di gandeng oleh istri tengilnya itu terus saja melirik diam diam. Sudut bibirnya berkedut geli saat mendengar serta melihat Delila terus saja mengoceh. Baron berulang kali menghela napasnya, entah mengapa dia merasa sedikit lega saat melihat Delila baik baik saja setelah kejadian tadi pagi.
Gadis itu tidak trauma karena melihat genangan darah di dekat pintu belakang tadi pagi. Padahal Baron pikir gadis itu akan shock dan menangis atau bahkan tidak mau keluar dari rumah karena takut. Tapi nyatanya Delila terlihat ceria, dia baik baik saja dan itu membuat Baron tenang, namun jujur dia tidak akan melupakan dan melepaskan makhluk yang sudah membuat pagi keduanya berantakan.
"Mas," panggilnya manja.
Senyuman Delila kian melebar, bahkan langkah yang tadinya sedikit cepat kini mulai melambat, mensejajarkan dirinya dengan pria yang saat ini tengah menaikan sebelah alisnya dan menatap dalam padanya.
"Mas," panggilnya lagi untuk kedua kali.
Bahkan sekarang gadis itu kian merapatkan dirinya pada Baron, memeluk lengan kekar berkulit sedikit kecoklatan milik suaminya.
"M-,"
"Manggil sekali lagi gue-,"
Cup!
__ADS_1
"Cium kan?" selanya, bahkan Delila tersenyum malu malu setelah memberikan satu kecupan singkat di pipi Baron.
Singkat dan kilat
Kedua mata Baron mendelik horor, dia menatap Delila lekat terlihat kesal. Terlebih saat ini mereka berdua sedang berada diluar rumah, mereka ada di perkampungan sekarang dan pasti ada mata yang melihat.
Pasti akan ada gosip hangat yang menyebar bagaikan virus setelah ini.
"Lo gak sopan!" desisnya.
Baron menghirup napas dalam dan kasar, dia mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan wajah tak bersahabat sama sekali.
"Kenapa? Kan sama suami sendiri bukan sama suami orang!" sahut Delila. Nada suaranya terdengar sama kesalnya, ekor matanya memicing tajam pada pria besi yang masih digandeng nya saat ini. Dan reflek Delila melepaskan rangkulannya cukup kasar, lalu melangkah cepat mendahului Baron yang masih enggan melihat ke arahnya.
"Heh, lo mau kemana?"
"Mau cari suami orang yang mau aku cium! Punya suami gak guna, di cium aja gak mau, bye!"
Kedua mata Baron mendelik, bahkan terlihat hampir lepas dari tempatnya mendengar penuturan Delila. Baron tidak menduga kalau istri tengilnya yang selalu menempel dan sangat bucin itu akan mengatakan hal yang berhasil memancing sesuatu didalam dirinya.
"DELILA, LO JANGAN MACEM MACEM YA!"
Suara teriakan Baron sama sekali tidak di gubris oleh Delila. Gadis itu hanya menoleh lalu menjulurkan lidahnya seakan mengejek pria yang sekarang terlihat mulai kesal sendiri.
__ADS_1
Bahkan saat Baron mulai bergerak berlari kecil untuk menyusulnya, gadis itu sigap berlari menghindar membuat Baron kian melajukan larinya.
Sementara di tempat lain...
"Mantu kurang ajar! Ngasih alamat gak jelas, ini dimana lagi? Ngapain nyampenya di kebon terong?!"
Pria berkemeja abu abu licin itu terus saja mengomeli sendiri. Bahkan sopir yang datang menemaninya ke kampung ini memilih diam, dia lebih fokus menatap pemandangan indah yang tersaji di hadapannya.
"Udah Pak Boss, nikmatin dulu pemandamgannya. Lumayan ini bisa liat pohon terong geratis kita," cetus nya ringan.
Sang tuan mendelik, dia yang sudah kesal kian emosi mendengar ucapan bawahannya. Kalau saja dirinya tidak membutuhkan pria yang saat ini tengah memakan camilan miliknya itu, mungkin sedari tadi dia sudah menendang bokongnya agar tersungkur ke parit.
"Joko!" panggilnya dalam dan tertahan.
"Iya Pak Boss, Pak Boss mau-,"
Pria muda seusia menantunya itu mengagumkan bibirnya melihat kedua mata tuannya mendelik. Bahkan dia mengalihkan pandangannya ke arah lain guna menghindarinya.
" Tanya sana sama orang! Jangan balik kesini kalo belum ketemu alamatnya!"
Dengan tega pria itu merebut camilan dari tangan sopirnya dan mendorong pelan tubuhnya hingga mau tidak mau sangat sopir bangun dan mulai melangkah mencari pertolongan.
"Haaah! Gak si Joko gak si Baron, bikin vertigo naik!" gumamnya.
__ADS_1
HEALING KE KEBON TERONG🤣🤣