Istri Tengil Mas Baron

Istri Tengil Mas Baron
Selamat Jalan Eyang


__ADS_3

Delila mengusap air matanya berulang kali saat melihat beberapa anggota keluarganya menangis pilu di lorong rumah sakit lantai vvip, dimana Eyang Damar di rawat saat ini.


Kedua mata bulat berembun itu menatap sendu ke arah kaca pembatas ruangan. Disana dalam ruang ICU ada seseorang yang tengah berjuang diantara hidup dan mati, di sisinya ada dua orang pria terlewat dewasa yang tengah membacakan kitab suci Al-Quran, lantunan ayat ayat yang menenangkan jiwa semakin membuat orang yang mendengarnya kian dilanda kesedihan. Termasuk wanita tua berkaca mata yang sedari tadi terus saja menggenggam salah satu tangan orang yang sedang tidak berdaya itu.


Bibirnya terus saja bergerak pelan, jari jemarinya memilih butiran tasbih dengan kyusuk. Raut wajah penuh kesedihan begitu jelas tercipta, membuat para anak menantu cucu serta cicitnya semakin deras mengeluarkan air mata.


Delila bahkan bisa melihat dengan jelas bagaimana Sang Opa Gentala menangis sembari terus saja melantunkan ayat ayat Al Quran. Pria tua itu sesekali menyeka air mata yang mengalir melewati hidungnya, bahkan mengusap kasar wajahnya saat merasa sudah tidak kuat lagi.


Kedua matanya menatap penuh kesedihan pada pria yang sudah mendidik serta menjadikan dirinya menjadi manusia yang berguna, pria yang bertanggung jawab, serta memberikan banyak cinta untuknya.


Sang Ayah, Ayah yang dulu selalu menggendongnya kemana pun, bahkan saat Ayahnya harus berpergian keluar pulau dirinya tidak pernah ditinggalkan, dan sekarang pria yang dia panggil Ayah itu sedang berjuang antara hidup dan mati. Penyakit tua yang dideritanya sudah semakin parah, sudah banyak rumah sakit didalam maupun luar negeri yang mereka kunjungi demi bisa menyembuhkannya, namun ternyata masih berkata lain. Semua pengobatan serta obat obatan yang sering dikonsumsi pria sepuh itu tidak dapat menyembuhkan hanya meringankan sakit tuanya.


"Genta sudah ikhlas, Ayah. Genta sudah ikhlas, tolong jangan buat Ayah semakin sakit." tangisan pria tua itu kembali terdengar. Bahkan sekarang dia tertunduk di dekat kaki Sang Ayah, tangisan tertahan yang begitu menyakitkan.


Diluar, semua orang yang melihat Gentala menangis kian di buat pilu. Delila bahkan menutup mulutnya sendiri saat melihat Sang Opa menangis pilu. Bahkan sekarang Barata dan juga Eyang Anin ikut menangis sembari mendekap Opa Gentala.

__ADS_1


Delila tidak kuat, gadis itu berbalik dengan napas terdengar sesegukan. Dia menahan suara tangisannya agar tidak keluar, menjauh dari pembatas kaca dan berjalan lunglai melewati para saudara saudaranya.


Bibirnya kian bergetar saat kedua matanya menangkap dua orang pria tengah berlari mendekat ke arahnya. Tanpa menunggu Delila ikut menyambut kedatangan kedua pria beda usia itu lalu segera mendekap salah satu dari mereka.


"Udah gak usah nangis," buruknya sembari mengusap pucuk kepala Delila.


Gadis berambut panjang itu tidak menyahut, dia masih membenamkan wajahnya di dada pria yang menjadi suaminya. Kedua tangannya mendekap erat tubuh tinggi milik Baron tanpa berminat untuk melepaskannya lagi.


Kedua mata Delila terpejam, dia menikmati sentuhan serta degup jantung suaminya yang berhasil membuatnya sedikit tenang. Namun ketenangan itu kembali menghilang saat Delila mendengar ke gaduhan dari arah belakang tubuhnya.


"Maaf, Tuan Damarta sudah berpulang. Beliau berpulang pukul 2 lewat 10 siang ini, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi ternyata Tuhan berkehendak lain."


Ucapan pria paruh baya berkemeja putih yang baru saja keluar dari ruang ICU sontak membuat keluarga Prayoga dan yang lainnya membeku, bahkan kembali menangis histeris. Begitu juga dengan Delila, dia semakin mendekap erat tubuh Baron. Tangisannya kembali pecah, kini lebih keras namun tertahan oleh dekapannya sendiri. Baron pun ikut larut dalam kesedihan keluarga barunya itu, dia membalas dekapan Delila tak kalah erat. Baron bahkan memberikan banyak kecupan di pucuk kepala Delila saat gadisnya terus saja menangis pilu di dalam dekapannya.


Suasana pemakaman Eyang Damarta begitu khusuk. Beberapa rekan kerja, klien, teman, saudara, anak, menantu hingga cucu dan cicitnya ikut mengantar beliau ke peristirahatan terakhir, termasuk dengan Eyang Anin yang tengah di dorong kursi rodanya oleh Erkan.

__ADS_1


Semua orang terlihat begitu kehilangan sosok Eyang Damarta. Pria tangguh yang tidak pernah mengenal artinya menyerah, dia membangun kerajaan Dinasti Duren Sawit nya sendiri, tanpa embel embel harta warisan.


Hingga akhirnya hasil kerja kerasnya itu kini dinikmati oleh anak, cucu serta cicitnya. Dan disini yang paling begitu terpukul serta kehilangan adalah Eyang Anin, wanita sepuh itu menumpahkan air keatas pusara mendiang suaminya dengan senyuman dalam tangisan.


"Tunggu aku disana, ya Mas," gumamnya lirih.


Di sisi serta belakang tubuhnya banyak anak anaknya serta para cucu dan cicitnya yang juga merasakan kesedihan yang sama. Mereka begitu kehilangan sosok pria yang mereka cintai serta sayangi selama ini.


Selamat jalan Eyang Damarta.




__ADS_1



HUUUAAAA DUREN SAWIT KU😭😭😭😭😭


__ADS_2