Istri Tengil Mas Baron

Istri Tengil Mas Baron
Tertunda


__ADS_3

"Mas Baron mau ngomong apa? Ayo cepetan! Hari ini aku bolos kuliah loh gara gara Mas Baron. Jadi kalo aku dapet nilai E Mas Baron harus tanggung jawab!"


Ekor mata Delila memicing tajam pada pria yang sudah membawanya tanpa izin ini. Saat ini keduanya sedang berada ditempat yang belum pernah Delila kunjungi bahkan lihat sebelumnya.


Terlihat seperti bukit kecil, sunyi, hijau dan tenang. Angin berhembus cukup semilir pagi ini, mereka berdua terlihat seperti sepasang anak manusia yang tidak ada kerjaan hari ini.


Lebih tepatnya pengangguran.


"Gue gak bisa menuhin permintaan Bapak lo." Baron menatap Delila dari arah samping.


Pria berwajah kaki dan cukup galak itu terlihat begitu serius, hanya sekejap Baron kembali mengalihkan pandangannya ke arah rerumputan hijau yang bergoyang diterpa angin.


"Permintaan? Permintaan Papa yang ma-,"


"Buat nyerein lo!" selanya cepat.


Kedua mata Delila menatap lurus kedepan, tidak berkedip seakan menatap angin yang tidak terlihat. Helaan napas Baron terdengar berat, dia kembali mengalihkan pandangannya kearah Delila.


Pria itu menatap lekat dan dalam, bahkan Delila tidak pernah melihat tatapan itu sebelumnya.


Ini benar benar membuat bulu romanya meremang.


"Gue punya prinsip menikah sekali seumur hidup. Gue memang belum nerima pernikahan ini, tapi gue juga gak bisa ngungkapin prinsip yang udah gue pegang kuat." lanjutnya.


Delila terdiam, bibirnya mengatup rapat. Dia tidak bisa mengatakan apa pun saat ini. Apa yang harus dilakukannya sekarang, jujur sebenarnya dirinya sudah pasrah bila Baron menyeraikannya dengan cepat. Karena mau bagaimana pun pernikahan ini memang kesalahannya, karena kemauan gilanya Baron terjebak dalam ikatan ini.

__ADS_1


"Apa Mas Baron bisa ketemu dan ngomong lagi sama Papa biar kita-,"


"Gue bakalan nemuin Bapak lo. Malam ini, lo tunggu gue di rumah!"


Delila mengigit bibir bawahnya, gadis itu mengangguk pelan- terlihat masih bingung dan ada rasa bahagia saat mendengar ucapan Baron. Bukankah kalau Baron berbicara dengan Papanya, meminta kembali dirinya dan memperbaiki hubungan pernikahan ini artinya mereka tidak akan bercerai?


Delila berharap Sang Papa mau bertemu dan berbicara dengan Baron nanti dan memberikan kesempatan lagi pada mereka berdua.


🦋


🦋


🦋


Setelah pertemuan itu, pada akhirnya Baron dan Delila tidak melanjutkan aktifitas mereka hari ini. Delila dan Baron menghabiskan waktu di bukit itu hingga siang hari, bahkan menjelang sore.


Sudah terencana sekali bukan, mereka berdua malah piknik disana.


Dan sekarang malam mulai datang, Baron sudah bersiap menemui Davyn dan Kirana. Dia sudah membulatkan tekad untuk menemui mertuanya, urusan diterima atau tidak kita lihat saja nanti.


Baron sudah terlihat rapih dengan kemeja hitam dan celana bahan berwarna senada apa kadarnya. Rambutnya yang sedikit gondrong dia kuncir rapih, wajahnya terlihat tampan terbebas dari oli dan teman temannya. Bahkan tubuhnya sudah harum mewangi walaupun hanya memakai parfum murahan yang harganya di bawah 60 puluh ribu rupiah.


Dengan cepat pria itu menyambar jaket jeans nya, kali ini dia akan membawa motor trail yang dipinjamnya dari Maman. Dengan tingkat percaya diri yang mulai naik, Baron tidak lagi membuang waktu. Motor trail modif berwarna hitam itu keluar dari area kontrakan, membelah jalanan ibu kota yang masih ramai dan padat.


Kecepatan yang Baron ambil tidak melebihi rata rata, dia masih waras untuk menyebut dijalanan ramai ini.

__ADS_1


Tapi laju motornya memelan saat kedua matanya melihat beberapa orang berlarian, terlihat mengejar sesuatu yang sudah menjauh dari mereka. Seketika Baron menghentikan laju motornya saat salah satu dari orang orang itu nekat menghadang.


"Tolong kejar pengendara mobil berwarna merah itu! Motor dan mobil kami masuk parit dalam jadi tidak bisa mengejarnya!"


Tanpa izin pria berkumis dan berjanggut lebat itu menepuk pundak Baron, memerintahkan pria itu agar cepat melakukan motornya.


"Maaf, gue gak bisa bantu lo. Gue ada urus-,"


"Ya sudah, biar saya pinjam motornya!"


Dengan sekali dorong pria asing itu berhasil mendorong Baron turun dari motor, dan tanpa berkata apa pun lagi dia segera melakukannya tanpa peduli Baron memekik dan memanggilnya bahkan memakinya keras.


"WOY SIALAN! MOTOR GUE MAU LO BAWA KEMANA?!"


Baron mengusap wajahnya kasar, pria itu mengumpat berkali kali. Bahkan terlihat kebingungan dan meremas rambutnya kasar, Baron tidak tahu harus berbuat apa sekarang.


Pertemuan malam ini pasti gagal, dan Davyn pasti akan kembali menilainya buruk atau bahkan lebih dari itu.


"SIALAN, KALO GUE KETEMU LAGI SAMA LO GAK BAKALAN GUE KASIH AMPUN. LO UDAH BIKIN BAPAK MERTUA GUE NUNGGU, SIALAN!" teriaknya lagi.


Disaat Baron terus saja mengumpat dan memakai orang yang mengambil paksa motornya, di tempat lain si perampas terlihat begitu fokus mengejar mobil Jazz merah yang melarikan diri setelah di gerebek oleh anggotanya.


Dia berkali kali menekan earphone yang menempel di salah satu telinganya untuk berkomunikasi. Sindikat itu harus segera di tangkap agar tidak merusak generasi muda.


Gembong narkoba yang dia incar selama ini hampir lolos kalau saja tidak ada pria yang meminjamkan sepeda motornya. Ralat bukan meminjamkan, tapi dia yang merampas paksa- tapi tenang saja besok akan dikembalikan secepatnya tanpa lecet sedikit pun, semoga saja.

__ADS_1



__ADS_2