Istri Tengil Mas Baron

Istri Tengil Mas Baron
Perlihal Timun


__ADS_3

Dua bulan berlalu


Hubungan suami istri itu belum menemukan titik temu, walaupun terkadang Delila merasa kalau Baron lumayan berubah. Pria itu sedikit menambah kata dasar saat berbicara dengannya, tidak irit seperti motor injeksi keluaran baru.


Seperti sekarang ini, tumben sekali Baron menikmati sarapan di rumah. Pria itu bahkan meminta Delila membuatkannya nasi goreng dan kopi hitam, padahal biasanya Baron hanya meminum kopi setelah itu bergegas pergi ke bengkel.


Tapi nyatanya saat Delila sibuk didalam kamar mandi pagi ini, pria itu ikut menyibukkannya juga.


Delila dengan sedikit kesal akhirnya keluar dari kamar mandi, matanya menatap ke arah Baron yang terlihat sudah duduk di meja makan sembari memainkan ponselnya.


"Mau pedes apa-,"


"Pedes!" sahutnya cepat tanpa ingin menatap pada Delila.


Gadis itu mencebik, dengan cekatan dia menggulung lengan baju tidur yang dipakainya hingga siku. Dia mulai merajang, meracik, menggoreng hingga akhirnya menghidangkan masakan ala kadar buatannya didepan Baron.


Delila bukan gadis yang ahli dalam urusan dapur, tapi dia juga tidak terlalu bodoh soal membedakan bumbu dapur dan rempah. Walaupun terkadang saat membedakan mereka suka tertukar.


"Aku mau kuliah nanti siang, jadi gak bisa kirim makan-,"


"Kuliah yang bener!" potongnya cepat.


Baron terlihat mulai menyantap sarapannya, tapi saat suapan pertamanya gerakannya terhenti- ekor matanya melirik ke arah Delila yang tengah membereskan dapurnya.


Baron menghela napas pelan, haruskah dia jujur kalau nasi goreng yang gadis itu buat sedikit asin. Tidak! bukan sedikit tapi memang asin, apakah Delila tidak mencicipinya terlebih dahulu?

__ADS_1


"Lo gak-,"


"Makan aja! kalo asin tandanya lidah Mas Baron masih normal." Delila menyela cepat, dia berbalik menatap datar pada pria yang sudah menjadi suaminya beberapa pekan ini.


Kedua tangannya terlipat di dada, Delila perlahan mendekat ke arah Baron dan mendudukkan dirinya disalah satu kursi.


"Kalo kata orang dulu, artinya mau kawin. Tapi sayangnya aku udah kawin, tapi belum di kawinin!" cetusnya.


Delila meraih piring berisikan nasi goreng yang dibuatnya tadi, dengan santai dia menyuapkan kedalam mulutnya. Mengunyahnya pelan, merasakan sensasi meledak yang mulai terasa didalam mulutnya.


Sedikit asin tapi masih bisa dimakan!


"Mau lo bawa kemana nasi goreng punya gue?!" Baron meraih piring itu cepat, kedua matanya menatap tidak suka pada gadis yang ada di hadapannya.


Dengan cepat Baron melahapnya kembali, kali ini tidak lagi protesan hingga nasi goreng itu tandas. Baron segera meneguk air putih yang di sediakan oleh Delila, rasa asin itu masih terasa tapi Baron berusaha menikmatinya.


Pria itu bangkit, dia berjalan menuju lemari es. Entah apa yang dia cari disana, yang jelas saat ini sudut bibir Delila terangkat melihat pria itu kelabakan karenanya.


"Nanti malem biar gue yang masak! bisa stroke gue lama lama makan garem mulu!" imbuhnya lagi.


Delila melirik, dahinya mengernyit saat dia melihat Baron tengah memakan mentimun yang di simpannya di dalam kulkas. Mentimun yang biasa dia jadikan sebagai kompresan untuk kedua kelopak matanya yang sedikit menghitam.


"Mas Baron makan timun aku! itu kan buat-,"


"Timun doang yaealah, entar pas balik gue ganti sama timun yang baru."

__ADS_1


Delila mengigit bibir bawahnya, dia tidak menyahut. Entah kenapa saat mendengar kata timun yang Baron lontarkan, membuat dirinya salah tingkah.


Ya tidak ada yang salah dengan ucapan pria kaku itu, Baron memang akan mengganti buah timun itu nanti saat dirinya pulang dari bengkel. Jadi bukan ucapannya yang tidak benar, tapi pikiran Delila yang tengah berkelana ke area dewasa yang belum pernah dia lihat.


"Yang gede ya!" pintanya.


"Iya!" sahut Baron ringan.


Pria itu kembali mengigit timun yang ada di tangannya, lalu berjalan keluar dari area dapur dan menuju keluar.


"Mau berapa kilo?!" seru Baron dari arah luar.


Delila yang masih mengigit bibirnya sembari termenung terlihat kelabakan, gadis itu berdehem lalu menoleh ke arah luar.


"Y-ya, ya pokoknya yang gede!" pintanya lagi.


Baron hanya mengangguk patuh, dia terlihat santai memakai sepatunya dan bersiap berangkat menuju bengkel, meninggalkan Delila yang masih sibuk dengan otak pasirnya.


Delila tidak sepolos itu kawan!



ENTAR KALO PULANG MAS KASIH TIMUN YANG GEDE๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_1


LAGI NYARI TIMUN, EH KOIN


__ADS_2