
Delila menatap tidak suka pada bocah perempuan yang tengah menikmati arum manis dan kebab yang di belikan oleh Baron. Kedua tangan gadis itu terus saja bergelayut di lengan suaminya tanpa ingin melepaskannya, terlebih saat Delila melihat bocah perempuan yang mungkin usianya masih 4 atau 5 tahun itu terus saja mengoceh guna mencari perhatian Baron.
"Orang tua kamu dimana?" pertanyaan itu kembali Baron lontarkan untuk kesekian kalinya. Sudah cukup jengkel karena bocah perempuan itu tidak kunjung memberikan jawaban, dia malah kembali memeluk Baron dan menangis sembari menggumamkan kata Papa.
"Kita anterin aja ke kantor polisi!" cetus Delila.
Dia kesal, jengkel, emosi, marah, pokoknya semua yang membuat kencannya bersama Baron berantakan sudah berkumpul menjadi satu di dalam hati serta otaknya. Delila bukannya tidak menyukai anak kecil, tapi sepertinya untuk anak kecil yang satu ini dia benar benar tidak menyukainya.
"Aku mau sama Papa!" pekik sang bocah.
Delila dan Baron bahkan tersentak kaget di buatnya, bocah perempuan itu melemparkan arum manis yang ada di tangannya lalu kembali menangis. Bahkan tangisannya yang sekarang jauh lebih keras hingga membuat kedua telinga Delila berdengung.
"Papa siapa? Dia ini suami aku, bukan Papa kamu! Kamu salah orang, udah cepetan bilang di mana rumah kamu, siapa nama orang tua kamu nanti kita anter-,"
"AKU GAK MAU PULANG, AKU MAUNYA SAMA PAPA! KAKAK UDAH NGAMBIL PAPA DARI AKU SAMA MAMA!" jeritan bocah itu kian menjadi, bahkan sekarang sudah banyak mata pengunjung taman yang menatap ke arah mereka, terlebih pada Delila.
Gadis itu meringis di buatnya, Delila semakin mengeratkan rangkulannya di lengan Baron dan mencoba menyembunyikan wajahnya di punggung lebar milik sang suami. Jujur Delila meras ngeri melihat tatapan orang orang itu, tatapan mereka seolah tengah menghakimi dan menjudge kalau dirinya adalah seorang perebut.
Heloooooo, siapa yang jadi perebut?!
Delila menarik napasnya dalam, ingin sekali dia berteriak sekencang mungkin di depan wajah sang bocah dan orang orang itu kalau dirinya adalah istri sah dari pria yang saat ini tengah di tangisi oleh anak perempuan yang ada di depan mereka, dirinya bukan perebut apa lagi pelakor.
"Gue udah bilang, gue bukan Papa lo bocil. Gue gak kenal sama lo, mana bisa gue jadi Papa lo. Sekarang lo bilang dimana rumah lo, siapa nama orang tua lo, sebelum gue bawa lo ke kantor pol-,"
"SHEREN!"
__ADS_1
Suara pekikan seseorang membuat Baron mengagumkan bibirnya, pria itu kembali menelan kata katanya kala melihat seorang wanita dan seorang pria berseragam sopir tengah berlari ke arah mereka.
"MAMA!" bocah itu turun dari kursi semen yang di dudukkinya, dia berlari menyongsong ke arah wanita yang saat ini sudah tidak jauh darinya.
"Sheren kemana aja, Mama khawatir nyariin kamu sama Pak Tono?!" wanita itu segera mengecam sang bocah, terlihat sekali wajah khawatirnya kala melihat bekas air mata di pipi dan kedua mata anaknya.
"Sheren udah ketemu sama Papa. Ada kakak kakak yang ngambil Papa dari kita Ma, dia mau bawa Papa pergi lagi!"
Bocah itu kembali menangis sesegukan di dalam dekapan Sang wanita, bahkan terlihat mendekap erat dan terus saja mengoceh tanpa henti. Wanita berpakaian santai namun elegan dan mahal itu mencoba menenangkan, dia mengusap kepala hingga punggung putrinya agar tenang dan berhenti menangis. Sampai tidak sadar kalau ada sepasang kekasih yang mulai mendekat ke arahnya, dan bersiap untuk memberikan banyak pertanyaan.
"Lo ibunya?" pertanyaan itu keluar dari bibir Baron, dia tidak lagi berasa basi dan ingin segera meluruskan kesalahpaham yang terjadi.
Enak saja dirinya di panggil Papa oleh anak orang lain, membuatnya saja tidak pernah ikut andil.
"M-Mas, Mas Bima?" gumamnya.
Wanita itu bangkit, dia membawa sang bocah kedalam gendongannya, kedua matanya menatap lekat pada Baron seakan tidak percaya apa yang saat ini tengah dilihatnya.
Baron mengerutkan dahinya, walaupun wanita asing itu bergumam kecil tapi dirinya masih bisa mendengarnya dengan baik, termasuk Delila. Gadis itu juga terlihat bingung dan penasaran kenapa wanita asing itu memanggil suaminya dengan nama Bima?
Siapa Bima?
"Gue Baron, bukan Bima! Tadi anak lo manggil gue Papa dan sekarang lo juga manggil gue Bima. Gue gak kenal sama kalian, jadi gue harap gak akan ada lagi salah paham diantara-,"
Grep!
__ADS_1
Belum sempat Baron menyelesaikan ucapannya, wanita asing itu menubrukan tubuhnya hingga membuat Delila terhuyung ke samping, dekapan tangannya pada lengan Baron terlepas karena dorongan wanita asing itu.
Sang wanita asing mendekap Baron tanpa izin, bahkan bocah yang ada di dalam gendongannya ikut terhimpit tapi dirinya tidak peduli. Baron yang masih shock hanya terpaku, tapi tidak lama dia reflek mendorong tubuh sang wanita menjauh darinya.
"Lo-,"
"Aku gak nyangka kalau Mas Bima masih hidup, Papa mertua pasti bakalan senang kalau tahu kamu masih hidup, Mas!"
Baron semakin bingung, ekor matanya melirik pada Delila yang juga belum melakukan apa pun. Gadis itu masih shock dan tengah menerka apa yang terjadi saat ini.
"Gue tegasin sekali lagi, gue Baron bukan Bima dan gue gak kenal sama kalian!" kesabaran Baron yang setipis kulit ari mulai terkikis, pria itu berjalan mendekat ke arah Delila dan segera membawa gadisnya pergi menjauh dari kedua wanita beda usia yang entah mengapa selalu memanggilnya dengan nama Bima dan Papa.
Siapa mereka sebenarnya?
Baron terus saja berkutat dengan pikirannya, dia bingung, penasaran, kesal, bahkan tidak sadar sedikit tergesa saat membawa Delila menuju motor yang terparkir tidak jauh dari taman.
"Mas Baron beneran gak kenal sama mere-,"
"Nanya sekali lagi, gue cium lo disini!" cetus nya.
Delila mengatupkan bibirnya, ekor matanya melirik pada Baron yang terlihat kesal dan tengah dilanda penasaran dengan kejadian ini. Delila dapat melihat kalau suaminya tidak berbohong saat mengatakan kalau dia tidak mengenal kedua orang itu, lalu kalau Baron tidak mengenal mereka- kenapa mereka bisa mengenal Baron?
HAYOLOH SAPA TUHπππ
__ADS_1