
Beberapa hari berlalu, setelah Baron dan Delila melewati malam pertama yang sempat tertunda selama berbulan-bulan lamanya, kini keduanya terlihat makin dekat. Kemana pun selalu berdua, bahkan ke kamar mandi pun sepertinya pasangan itu tidak mau meninggalkan salah satunya.
"Mas Baron kenapa sih? Aku mau pipis, ngapain ngikutin ke sini. Udah sana Papa nungguin, katanya tadi ada yang mau di omongin!" celoteh Delila penuh dengan rasa gemas dan geram. Gadis, ralat wanita itu berulang kali menghembuskan napas kasarnya saat melihat Baron terus saja mengikuti langkah kakinya kemana pun dirinya bergerak, sekalipun ke dalam kamar mandi layaknya seekor anak itik yang terus saja mengekor induknya.
Dan rasanya salah kalau kita mengatakan pasangan itu terus saja mengikuti satu sama lain, yang paling benar adalah salah satu dari mereka bersikap layaknya anak itik sekarang, dan itu adalah Baron.
Pria si batang kopi yang suka mengemili kunci pas karena terlalu kaki serta tidak peduli dengan Delila dulu, kini bersikap layaknya seorang balita yang selalu menangis dan mengikuti Delila layaknya ibunya kemana pun wanita itu melangkah, sama seperti sekarang.
"Aku bakalan nungguin kamu di sini!" cetus nya ringan. Bahkan sepertinya sekarang kata Lo Gue yang sering kali Baron lontarkan tidak akan pernah dia pelihara ketika bersama Delila. Dia membuang dua kata itu jauh jauh dan mungkin tidak akan memungutnya kembali.
Hanya ketika bersama Delila, ingat!
"Massss!" rengek Delila meminta pengertian.
Bahkan dengan gemas dia memukuk lengan suaminya yang terasa keras bagaikan dongkrak mobil. Ya sama kerasnya seperti dongkrak milik Baron saat malam pertama mereka beberapa hari yang lalu, Delila bahkan sampai meringis ngilu saat kembali mengingatnya. Bahkan rasa itu sepertinya akan dia ingat seumur hidupnya, dan sekarang pun di area bawah sana masih sedikit ngilu, walaupun tidak separah hari hari yang lalu.
"Aku gak bakalan bisa pipis kalo kamu disini, lagian kamu kenapa sih, aneh tau gak?"
Baron terlihat tidak peduli, dia malah menyandarkan punggungnya di tembok sembari menatap lekat pada Delila yang terus saja menggerakkan bibirnya karena kesal.
__ADS_1
"Udah sana temuin Papa aja! Kalo Mas Baron enggak nurut nanti malam aku gak bakalan mau tidur di kamar. Tapi kalo nurut nanti aku kasih pijatan plus plus dua ronde." Delila mencoba menawarkan, walaupun dia tidak serius dengan kata dua rondenya.
Tapi demi bisa lepas dari Baron yang memang sudah seperti siluman lintan, dia terpaksa menawarkan hal yang kemarin begitu menyakitkan untuknya.
"Oke!" sahutnya.
Baron segera berlalu meninggalkan Delila yang menganga dibuatnya. Hanya memberikan penawaran seperti itu Baron segera melepaskannya, kenapa tidak dari tadi saja?!
Rasanya Delila ingin berteriak sekencang mungkin saat ini. Namun dirinya lebih memilih untuk segera masuk kedalam kamar mandi agar teriakannya menggema disana. Dan tanpa dia sadari kalau ucapannya itu sudah menjadi hutang besar dan akan segera di tagih oleh Baron saat malam tiba nanti.
π
π
π
"Kalo bisa di tuker sama bengkel aja bisa gak, Pa?" tawar Baron.
Davyn mengerutkan dahinya, dia menatap anak menantunya dengan tatapan tidak percaya. Apa katanya di tukar dengan bengkel? Astaga Davyn ingin tertawa lebar mendengarnya, bahkan ingin sekali memukul kepala menantunya ini kalau saja tidak takut Delila marah padanya nanti.
__ADS_1
"Tapi kalo enggak bisa ya enggak apa apa. Papa sumbangin aja buat anaknya Bima. Mau bagaimana pun anak itu tetap-,"
"Tapi anak itu bukan anak dari sodara kamu, Ron. Ternyata istri almarhum Bima sudah hamil sebelum nikah sama sodara kamu, dan bapak biologisnya entah kemana sekarang. Jadi, mereka gak bakalan dapat apa apa dari harta peninggalan keluarga kamu, terlebih Anggoro hanya anak angkat mendiang kakek kamu. Soal bengkel nanti Papa investasi buat kamu, Papa kasih modal kamu yang jalanin."
Davyn menjelaskan semua informasi yang dia dapat dari orang suruhannya. Dia baru tahu kalau keluarga Baron memiliki masa lalu yang cukup membuatnya shock. Kematian kedua orang tuanya ternyata memiliki sangkut pautnya dengan Anggoro, termasuk dengan kematian Bima. Yang tentunya akan menyeret istri Bima sendiri karena menjadi partner dari Anggoro- Ayahnya.
"Anggap saja kita ngasih sumbangan buat anak yatim. Papa atur saja sendiri, saya gak mau ikut campur masalah ini, bikin pusing. Nanti selesai 7 harian Eyang, saya mau ngajak Delila pindah ke rumah yang sudah saya persiapkan. Papa ngizinin atau enggak saya tetap bakalan bawa dia!"
Sekali lagi Davyn di buat specheels oleh menantunya ini. Itu namanya bukan meminta izin tapi memaksa dengan gaya.
"Terserah, itu istri kamu. Yang penting anak Papa jangan sampe kelaparan, luka luka, depresi, dan yang paling penting bikinin Papa cucu yang banyak. Kamu tau, gak enak punya anak cuma satu, udah gede di bawa orang gitu aja. Makanya bikinin Papa sama Mama cucu yang banyak, biar nanti Papa bawa satu. Bilangin sama Delila, kuliahnya di tunda aja dulu lanjut lagi kalo dia mau. Lagian uang Papa juga gak bakalan habis kalo di makan sama kalian. Yang penting buatin Papa cucu yang banyak biar nanti Papa sama Mama kalian yang ngasuh, titik!"
Kali ini Baron yang di buat specheels oleh mertuanya, pria muda itu memalingkan wajahnya dengan rona samar di kedua pipinya.
"Dikira anak kucing main bawa aja," gumamnya pelan.
minta cucu yang banyak, di kira kucing yang sekali beranak 5 ekorπ€£π€£π€£π€£
__ADS_1