Istri Tengil Mas Baron

Istri Tengil Mas Baron
Persiapan Bertemu Mertua


__ADS_3

Baron berjalan mengedap endap keluar dari kediaman Delila. Pria itu sesekali mengedarkan pandangannya ke area sekitar untuk memastikan kalau tempat yang dia lewati aman. Baron segera menaiki pagar rumah, sebisa mungkin dia tidak bersuara sedikit pun agar tidak membuat satpam yang berjaga terbangun.


Dia merasa aman dan selamat karena doanya terkabulkan, satpam kediaman Davyn Prayoga tidak terbangun saat dirinya berhasil keluar dari area rumah mewah itu. Mungkin karena kelelahan dan ini masih jam kunti jadi satpam itu terlelap tanpa terusik.


Tanpa Baron tahu sebenarnya satpam itu berpura pura tidur atas perintah seseorang, dan orang itu saat ini tengah mengawasi gerak gerik Baron. Mulai dari pria itu keluar dari dalam rumah, mengendap bagaikan seorang pencuri dihalaman, hingga nekat menaiki pagar menjulang agar bisa keluar dari kediamannya.


"Mantu kurang ajar! Bukannya nemuin mertua malah minggat lagi kayak maling. Awas aja besok, aku seret lagi dia kesini!"


πŸ¦‡


πŸ¦‡


πŸ¦‡


Malam berlalu, berganti dengan pagi yang cukup cerah. Baron sudah berada di bengkel dan memandangi sebuah motor yang tadi malam hilang dibawa orang.


Gara gara orang kurang ajar itu dia harus berjalan kaki dari kediaman mertuanya hingga ke kontrakan. Tidak ada angkutan umum di jam kunti jadi mau tidak mau dirinya harus merelakan berolahraga di tengah malam.

__ADS_1


Pria berseragam montir itu menghela napas kasar, dia penasaran siapa orang yang mengembalikan motor milik Maman yang dipinjamnya ini. Kemarin malam sebenarnya bukan hanya Delila yang membuatnya ketat ketir, tapi juga hilangnya motor milik Maman menambah beban di otaknya.


Tapi sekarang Baron bisa bernapas dengan lega, setidaknya motor yang dia pinjam sudah kembali dan hilanglah satu masalah yang mampu membuatnya terkena vertigo.


Dan sekarang masalah dengan Delila juga mertuanya harus segera diselesaikan. Kedua mata Baron mengedar, rupanya Maman serta dua rekannya belum datang- ada beberapa belas menit lagi sebelum dirinya membuka bengkel dan akan Baron manfaatkan untuk menghubungi seseorang.


Calling Demplon...


Entah sejak kapan nama kontak Delila berganti dengan nama itu, yang jelas Baron terlihat sama sekali tidak terganggu dan menggantinya.


"Halo!"


"Lo lagi dimana?" Baron menyela cepat, dia tidak membiarkan gadis itu mengoceh terlalu panjang karena Baron yakin akan memakan waktu cukup lama.


"Oh, aku lagi di rumah Om Gala. Kak Lexi mau dikawinin katanya, tapi gak tau juga bener apa enggak soalnya cowoknya belum datang katanya masih dijalan. Kenapa, apa ada yang bisa aku bantu Mas Sayang?"


Baron mengetatkan giginya, dia memijat dahinya mendengar ocehan istrinya terlebih dua kata terakhir yang Delila ucapkan.

__ADS_1


Mas Sayang


Terdengar lebay dan menggelikan tapi entah kenapa dirinya suka saat mendengarnya, bisa kan dia mendengarnya lagi?


"Bapak lo ada-,"


"Papa nanti malam ada di rumah, tapi kayaknya sore juga udah standby jadi kalo Mas Baron mau datang ya datang aja. Aku tunggu jangan sampai telat, awas aja kalo telat. Ya udah aku tutup dulu teleponnya, itu calonnya kak Lexi udah nyampe. Dah Mas Sayang, jangan lupa nanti malam."


Sambungan telepon itu terputus begitu saja sebelum dia menyahut, Baron membasahi bibirnya yang kering saat mendengar panggilan yang kembali Delila sematkan.


Sudut bibirnya terangkat, Baron menarik napasnya dalam lalu menghembuskannya. Kedua matanya mengedar ke arah lain sementara tangannya menggenggam ponsel dengan gemas.


Dia mati matian berusaha untuk tidak berjingkrak seperti orang aneh saat mendengar panggilan yang Delila berikan, Baron juga terlihat sedikit tidak tenang saat mengingat apa yang akan dia lakukan nanti malam.


"Semoga aja tuh Bapak mertua lagi dapet lotre, baru kali ini gue minta sesuatu sama Tuhan. Tolong buat Davyn Prayoga jinak buat malam ini aja, ya Tuhan. " pintanya dengan sungguh sungguh.


__ADS_1


KABULIN DOA BARON YA ALLAH


__ADS_2