Istri Tengil Mas Baron

Istri Tengil Mas Baron
Semakin Dipojokan


__ADS_3

Delila kembali melanjutkan perjalanannya, setelah kenyang menyantap pisang goreng tadi- dia segera membayar dan meninggalkan tempat itu. Delila mengabaikan tatapan menyelidik orang orang yang di lewati nya, sudah di pastikan kalau dirinya akan menjadi pusat perhatian jadi tidak heran.


Dan sekarang gadis itu terus saja menyusuri jalanan kampung yang masih belum teraspal sepenuhnya, dikarenakan perkebunan sangat mendominasi di sini. Walaupun agak sedikit terseok Delila tetap ingin menghabiskan waktunya dengan menyusuri kampung halaman suaminya.


Bermodalkan maps, yang entah akurat atau tidak!


Cukup lama dia berada di luar hari ini, Delila bahkan menebak kalau Baron masih belum menyadari kepergiannya hingga saat ini karena sibuk membongkar barang. Senyuman Delila mengembang, dengan santai dia merentangkan kedua tangannya- menghirup udara segar yang baik untuk otak serta paru parunya.


Saat ini dia merasa bebas, merasa menang karena bisa keluar tanpa diketahui oleh suaminya yang tiba tiba menjadi posesif serta protektif padanya.


Bahagia? Tentu saja Delila bahagia karena di pedulikan oleh Baron. Tapi kalau dirinya di kurung sendiri di dalam rumah itu, tidak mau juga. Kecuali kalau di kurungnya bersama sama terlebih di dalam kamar, hanya berdua, tidak ada satu orang pun yang mengganggu lalu mereka-


Delila terkikik sendiri, bahkan gadis itu sampai memukul kepalanya pelan saat otaknya mulai tidak waras. Sepertinya udara segar serta pemandangan asri yang dia hirup dan lihat tidak mampu membersihkan otak polosnya yang mulai ternoda.


"Tapi apa iya, Mas Baron gak sadar kalo gue kabur?" gumamnya.


Delila terus saja sibuk dengan pemikirannya sendiri, gadis itu menunduk- menatap rerumputan yang dia injak dan lewati. Sandal jepit murahan yang di pakainya sudah terlihat kotor karena terkena embun tadi, bercampur dengan genangan air yang tidak sengaja Delila injak menambah kadar kekotoran di kaki mulusnya.


Saking fokusnya menatap rerumputan dan kedua kakinya yang kotor, Delila sampai tidak menyadari kalau di depannya- tepat di sebuah gorong gorong kecil yang di gunakan warga untuk irigasi, ada seseorang tengah menatap ke arahnya.


Orang itu menyandarkan tubuhnya di pembatas pembagian air, menatap lekat pada gadis yang saat ini tengah berbicara sendiri seperti orang kurang sehat.


"Tapi kalo gue pulang sekarang, Mas Baron bakalan tau gak ya kalo gue-,"


Ucapan Delila reflek terhenti saat dia mengangkat wajahnya, kedua matanya menangkap sesuatu yang mampu membuat bulu kuduk nya berdiri.


"Mampus!" gumamnya.


Bahkan kedua kakinya pun ikut berhenti melangkah, Delila mundur secara perlahan saat melihat orang yang cukup jauh di depannya mulai mendekat. Raut wajahnya terlihat datar, pandangannya terus saja tertuju ke arahnya tanpa mau menoleh ke arah lain.


"Mampus lo Del, lakik lo marah. Bebal sih, makanya jangan bebal jadi istri." Delila terus saja bergumam sendiri, bahkan gumaman nya terdengar seperti tengah menyumpahi dirinya sendiri.

__ADS_1


Dengan cepat Delila berbalik, dia berlari menjauh dan menghindar seraya melepas sandal jepit yang sedikit merepotkan larinya karena licin. Gadis itu berlari terbirit birit, terlebih saat menyadari kalau orang yang ternyata suaminya itu juga ikut berlari mengejarnya.


"PAPAAAA!" Delila berteriak kencang saat melihat Baron kian mendekat.


Keduanya terlihat seperti dia anak kecil yang tengah main kejar kejaran, bahkan sekarang Delila sudah berlari menuju area perkebunan sayur milik warga. Gadis itu berlari tunggang langgang, sesekali menoleh untuk memastikan kalau Baron masih berada jauh di belakangnya.


"DELILA!"


Delila menulikan pendengarannya, dia tidak peduli saat Baron berteriak memanggil namanya. Baginya saat ini panggilan yang Baron berikan terdengar seperti alarm kematian untuknya.


Delila terus saja menyusuri jalanan kecil yang memisahkan para sayuran, larinya sedikit melambat karena area yang dia lewati begitu licin. Saat ini Delila sudah berada di perkebunan buncis dan kacang panjang, area itu cukup rimbun karena banyak sekali bambu bambu kecil dan panjang yang menopang kedua pepohonan sayuran bermarga kacang kacangan tersebut.


Tubuh kecil Delila sedikit tersembunyi, dan sialnya dia juga tidak dapat melihat Baron dengan jelas sekarang. Delila berjongkok, kedua kaki telanjangnya terasa pegal dan sakit, gadis itu meringis sembari memijat kecil pergelangan kakinya.


"Pasti gue bakalan di hukum. Kenapa jadi takut gini sih? Kan gue sendiri yang mau, kenapa malah jadi parno?"


Delila terus saja bergumam sendiri, tangannya secara tidak sadar memetik beberapa buncis dan mengigitnya gemas. Gadis itu sibuk sendiri hingga tidak menyadari kalau Baron sudah berada di belakang tubuhnya dan bersiap menangkapnya.


Plak!


"Aaaakkhh!" Baron memekik saat merasakan hantaman di area wajahnya, ketika dirinya hendak menyergap Delila dari arah belakang.


Rupanya gadis itu memukul wajah Baron menggunakan buncis yang dia petik tadi, dan berhasil mengenai salah satu matanya. Bahkan Delila juga ikut memekik karena terkejut, yang tadinya hendak berlari menjauh dia urungkan saat melihat Baron kesakitan akibat perbuatannya.


Delila kembali mendekat, wajahnya berubah khawatir melihat Baron terus saja menutupi sebelah matanya.


"Maaf, aku gak sengaja. Lagian kenapa tiba tiba sih datangnya, kan reflek jadinya."


Delila menangkup wajah Baron dengan kedua tangannya, bibirnya sedikit maju saat dia meniupkan udara ke arah mata suaminya.


Cukup lama Delila melakukan hal itu, wajah khawatirnya masih terlihat- dia terlihat menyesal telah melakukan hal yang tidak disengaja tadi. Delila merasa bersalah, hingga rasa bersalah itu mulai dimanfaatkan oleh korbannya tanpa dia sadari.

__ADS_1


Saat Delila masih fokus meniupi salah satu mata Baron, justru pria itu malah bersiap meraih tubuh Delila dan-


"AAAAKKHHH! TURUNIN GUE!" teriaknya, saat Baron berhasil membawanya dan menggendongnya ala karung beras.


Delila meronta, rasa iba dan bersalahnya seketika berubah menjadi rasa kesal. Delila tidak henti hentinya berteriak layaknya domba minta kawin, hingga membuat Baron melakukan hal-hal


PLAK!


Satu tepukan cukup keras Baron berikan di area bokong Delila. Kedua mata gadis itu mendelik, rontaannya kian menggila tapi tidak membuat Baron melepaskannya.


Baron memegang bokong sexy nya? Demi apa?!


"Mas Baron, turunin gue!" tidak ada kata aku dan kamu yang terucap dari bibirnya seperti biasanya. Delila tengah kesal, dia ingin menambahkan hantaman nya di wajah tampan pria itu. Harusnya bukan cuma satu biji buncis tapi dengan barang penyangga nya sekalian.


Sepanjang jalan interaksi keduanya menjadi pusat perhatian. Orang orang yang mereka lewati terlihat saling tatap, saling bisik, mulai mengghibahi sepasang suami istri itu.


"Wah gak bener nih si Baron, pulang dari kota malah buat mesum di kampung kita!" cetus salah satu dari mereka.


"Iya tuh, ayo kita susul Pak Lurah. Katanya udah pada ke rumahnya si Baron!"


Beberapa orang mengikuti langkah Baron dan Delila, mereka terus saja membicarakan keduanya yang tidak tidak. Sedangkan Baron yang masih membawa istri tengil dan bebalnya itu terus saja berjalan cepat tanpa peduli dengan sekitar, hingga akhirnya langkahnya memelan saat melihat beberapa warga tengah berkumpul di halaman rumahnya.


"Nah itu dia! Lihat Pak Lurah, kita gak bohong'kan. Baron sama tuh cewek kota memang mau berbuat mesum di kampung kita!"


Salah satu orang mulai jadi provokator, warga lain pun terlihat mulai terpancing dan kian memojokan Baron dan Delila.


Sedangkan kedua orang yang terpojokan hanya diam memperhatikan, perlahan Baron menurunkan Delila- menarik lengan gadis itu dan menyembunyikannya di belakang punggungnya. Kedua mata Baron menatap datar dan dalam pada warga yang terlihat semakin memojokan nya.



MAU MAEN KE KEBON๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ

__ADS_1


__ADS_2