
Baron menghela napas kasar, dia terlihat pasrah kala tubuhnya di jadikan guling hidup oleh Delila. Kedua mata pria itu menatap datar pada siang gadis, lengannya mulai terasa kebas dan pegal, bahkan pinggangnya pun terasa sakit karena tidak duduk dengan benar.
Pegangan tangannya kian mengerat saat petir dan hujan deras saling beradu. Perlahan mata Baron terarah pada jendela kaca, embun mulai menyebar- udara dingin kian menyeruak masuk melalui ventilasi, tanpa sadar Baron mempererat belitan tangannya pada tubuh Delila. Kedua sejoli itu tengah berbagi kehangatan walaupun secara tidak sadar.
Bahkan secara perlahan kesadarannya kian menipis, rasa kantuk mulai menyerang. Udara dingin yang menusuk kulit semakin membuat Baron terbuai dan akhirnya tertekan oleh mimpi.
Sementara keadaan di luar, di tengah derasnya hujan dan badai petir- ada seseorang yang tengah berdiri tegap di dekat jendela kaca. Kedua matanya terus saja terarah pada kediaman Baron, menjaga jarak cukup aman- kejadian beberapa saat yang lalu membuatnya lebih waspada saat menjalankan tugas.
Dia tidak menyangka kalau gadis yang ikut menghuni rumah ini akan melihatnya, dan menjerit keras karena terkejut. Untung saja pria yang bersamanya tidak keluar untuk memastikan saat sang gadis mengadu tadi.
Dia selamat kali ini.
"Kalian beruntung kali ini, tapi tidak ada lain kali." gumamnya.
Orang itu berbalik, jas hujan berwarna hitam yang di pakainya basah kuyup, dia menerjang hujan dan petir dan berjalan cepat menjauh dari kediaman Baron, setelah mendapatkan apa yang dia inginkan.
Ketakutan penghuninya, sayang hanya sang gadis yang terpancing. Sepertinya lain kali dia harus melakukan lebih dari itu.
π
π
π
Cicitan burung semakin terdengar, cahaya matahari terlihat malu malu untuk menampakan dirinya dari balik bukit. Aroma tanah basah serta segarnya embun pagi menyapa para manusia yang sudah memulai aktifitasnya, termasuk Baron yang ternyata sudah lebih dulu bangun dari pada Delila.
Pria berkaos tanpa lengan itu terlihat menguap kecil, merentangkan kedua tangannya guna meregangkan otot serta sarafnya yang terasa kaku. Bagaimana tidak kaku, semalaman tangan serta tubuhnya menjadi tumpuan Delila saat tidur. Gadis itu terlalu menikmati malamnya hingga enggan untuk bergerak atau sekedar bergeser merubah posisinya.
__ADS_1
Delila malah kian merapat, menjepit kedua kaki suaminya tidak berniat untuk melepaskannya. Dia amat terlelap semalam, bahkan hingga pagi ini gadis itu enggan untuk beranjak dari peraduannya. Udara dingin di perkampungan semakin membuat Delila terlelap, bahkan dia juga kian menyembunyikan tubuhnya di balik gulungan selimut. Sedangkan di luar kamar, Baron terlihat menghirup napas dalam-dalam kedua tangannya merentang saat dirinya sampai di teras.
Kedua matanya yang terpejam perlahan terbuka, sedikit menyipit dengan dahi yang berkerut dalam. Baron mengedarkan pandangannya ke setiap sudut rumahnya, pagi ini suasana di sekitar area tempat tinggalnya lebih sepi dari biasanya.
Ada apa? Apa karena hujan badai semalam para warga kampung enggan keluar dari rumah?
Bila mata pria itu kembali bergerak, diiringi oleh langkah kedua kakinya. Baron berjalan santai menuju teras samping, sesekali dia menguap kecil dan meregangkan otot serta persendian nya yang kaku. Namun tidak lama langkahnya terhenti saat ekor matanya tidak sengaja menangkap sesuatu di lantai dekat jendela kamar yang Delila tempati saat pertama kali sampai di rumah ini.
Jejak sepatu?
Dahi Baron kian mengerut, dia perlahan mendekat ke arah jendela. Matanya menatap lekat pada noda lumpur yang tercetak jelas di atas lantai keramik berwarna putih tersebut.
Baron termenung, tiba tiba saja dia teringat dengan ucapan Delila semalam. Gadis itu mengatakan kalau diluar jendela kamar yang di tempatinya ada orang asing. Apa mungkin jejak sepatu yang dia lihat ini adalah milik orang asing itu? Atau hanya bekas jejak sepatunya kemarin?
"Tapi kayaknya kaki gue lebih gede dari ini? Gue yakin ini bukan punya gue. Lagian kapan gue jalan kedeket jendela? Kayaknya gak pernah, mana ada lumpur tanahnya lagi,"
Baron terus saja bergumam sendiri, pria itu terus saja memandangi jejak sepatu itu dengan perasaan heran serta khawatir. Bahkan Baron bertanya tanya sendiri, untuk apa pemilik jejak ini berada di rumahnya dan menakuti istrinya?
Baron mengigit bibir dalamnya, kedua bola matanya bergerak tidak teratur- ada rasa tidak nyaman mulai menyeruak dalam hatinya. Dan kian bertambah saat tiba tiba terdengar suara teriakan dari dalam rumah.
"MASSS BARON!"
Teriakan keras seorang gadis membuat Baron reflek bangkit dan berlari, bahkan dia hampir saja tersungkur akibat lantai yang licin. Pria itu tunggang langgang kayaknya orang yang tengah dikejar sesuatu. Dan sesampainya di dalam rumah, tepatnya di dapur- Baron melihat Delila seperti shock bahkan terlihat ketakutan, sembari menatap ke arah pintu yang menuju ke halaman belakang.
"Del!"
Baron mendekat, napasnya terengah- matanya menatap lekat pada gadis yang masih mematung dengan wajah pucat pasi.
__ADS_1
"Mas Baron, itu darah apa banyak banget?" gumamnya.
Kedua mata Baron mengikuti telunjuk Delila, kedua matanya membulat saat melihat begitu banyak cairan merah darah yang tergenang didekat pintu.
"Delila masuk ke kamar, jangan keluar sebelum gue suruh!"
Baron menarik lengan istrinya, sedikit kesulitan karena gadis itu masih enggan beranjak dari tempatnya.
"Del!" panggilnya lagi.
"Tapi itu-,"
"Masuk, jangan dilihatin terus!" Baron kembali memaksa, bahkan menarik pinggang Delila agar gadis bebal itu menuruti perintahnya.
"Tapi itu darah a-,"
"Itu bukan darah, tapi sirup! Udah lo mending mandi baru bikin sarapan. Nanti gue ajak lo keliling kampung," bujuknya.
"Beneran ya, awas kalau bohong!" seketika Delila tertarik, bahkan terkesan cepat melupakan hal yang dilihatnya tadi. Gadis itu mengembangkan senyum sembari menyipit penuh peringatan pada suaminya.
Baron tidak menyahut, dia hanya mengangguk pelan dan mendorong pelan tubuh Delila agar gadis itu segera bergegas. Dan setelah kepergian Delila, kedua mata Baron kembali bergulir ke arah pintu- dimana cairan misterius itu berada.
"Ada yang mau main main kayaknya," gumamnya.
Pria itu mendekat kembali ke arah pintu, memandang lekat cairan merah itu dengan lekat. Baron mengendus pelan, dahinya mengernyit saat penciuman nya terasa tidak nyaman karena bau yang berasal dari arah lantai.
"Ini beneran darah. Tapi darah apa, terus siapa yang narok darah di sini? Bener bener gila tuh orang."
__ADS_1
DARAH KOTOR KALI MASππ