Istri Tengil Mas Baron

Istri Tengil Mas Baron
Rencana


__ADS_3

"Jadi siapa Anggoro? Apa kamu kenal sama dia sampai orang itu ngelakuin hal nekat kayak gitu? Bahkan berani masuk, sialan!"


Davyn menggertakan giginya saat mengingat bagaimana kedua orang sialan itu mengganggu tidur nya saat di kampung Baron kemarin. Bahkan mereka berani menyentuh tubuhnya yang tidak berdaya, dan hampir membekap nya kalau saja dirinya tidak segera terbangun.


"Saya enggak tau Anggoro itu siapa. Tapi yang jelas beberapa pekan terakhir ada seorang pria seusia Papa datang dan mengaku sebagai paman saya. Padahal setahun saya, saya enggak punya saudara lain setelah kedua orang tua dan kakek nenek meninggal. Bahkan dia mengatakan kalau saya memiliki saudara kandung yang enggak pernah saya lihat seumur hidup saya, Pa."


Baron terlihat begitu menggebu, sementara Dan pria tua itu diam memperhatikan dan mencerna setiap kata yang terucap dari mulut menantunya. Bahkan pria setengah baya itu menggosok dagu seolah tengah memikirkan sesuatu yang cukup berat.


"Kayaknya ada yang gak beres." gumam Davyn.


Ekor matanya melirik ke arah dapur, dia melihat Kirana istrinya tengah berjalan menuju ke arahnya. Kemudian Davyn kembali menatap Baron yang juga terlihat tengah berpikir keras, dia juga tengah memikirkan siapa Anggoro itu dan apa mungkin ada kaitannya dengan pria tua yang mengaku sebagai pamannya?

__ADS_1


"Kita bakalan bahas lagi ini nanti. Mama mu pasti nyuruh kita makan malam, sekarang kamu bangunin Delila, kita makan dulu!"


Davyn bangkit, dia tidak membiarkan Kirana berjalan semakin mendekat ke arahnya hanya untuk menyuruhnya segera makan. Begitu pula dengan Baron, dia segera bergegas menuju kamar istrinya, sudah hampir satu jam gadis itu tertidur dan pasti perutnya terasa lapar saat bangun nanti.


Sementara di tempat berbeda


Praang!


Guci cukup mahal itu hancur begitu saja saat pria paruh baya itu melemparnya dengan ponsel miliknya. Wajahnya memerah karena menahan amarah, bahkan urat di sekitar leher serta pelipisnya terlihat menegang.


"Sudahlah Pa, aku gak yakin dia mau mengikuti kata kata Papa. Dia bukan Bima yang mau jadi anjing peliharaan Papa selama ini, tanpa tau kalau selama ini paman sekaligus ayah mertuanya adalah dalang dari nasib nahas yang dialaminya. Bahkan sampai dia mati pun Bima tidak tahu, miris seka-,"

__ADS_1


"Tutup mulut kamu! Papa tidak mengizinkan kamu bicara. Sekarang lebih baik kamu ikut berpikir bagaimana caranya pria sialan itu memberikan tanda tangan di surat kuasa kepemilikan perusahaan suami kamu, sebagai sodara kandungnya. Bila perlu gunakan Sheren untuk mengumpannya!"


Wanita bergaun sage itu menatap malas pada sang Papa, terlebih pria paruh baya itu kembali memaksanya untuk ikut menceburkan diri pada obsesi gila harta yang menjeratnya sejak dulu, hingga sampai tega memisahkan seorang anak dengan orang tua serta saudara kandungnya agar semua harta yang di tinggalkan saudaranya bisa dia kuasi dan miliki.


Walaupun pada akhirnya orang yang dia harapkan selalu memberikan pundi pundi uang padanya itu berakhir sama dengan kedua orang tuanya.


"Bukannya aku sudah bilang sama Papa, aku tidak mau lagi terlihat dengan masalah yang Papa buat. Aku mau hidup tenang bersama Sheren Pa, tolong jangan lagi libatkan aku!" ucapnya penuh mohon.


Dia bangkit, meraih tas miliknya yang tergeletak di meja, lalu berjalan menuju pintu keluar.


"Aku peringatan, lebih baik Papa berhenti. Berikan apa yang menjadi hak pria itu dan hentikan obsesi gila Papa itu pada harta Bima dan keluarganya. Aku pergi dulu, guru Sheren sudah memberi kabar kalau sekolahnya pulang awal. See you Papa, jaga kesehatan mu jangan terlalu lemah." imbuhnya.

__ADS_1


Setelah mengatakan itu dia kembali melangkah lebar, dirinya tidak sanggup kalau harus kembali berurusan dengan hal yang tidak akan di dapatkan. Apa lagi setelah Bima tiada, itu semakin sulit karena dia dan papanya tidak memiliki sesuatu yang mampu menghasilkan semua harta benda keluarga Gunadi, kecuali kalau Sheren adalah anak dari benih Bima.



__ADS_2