Istri Tengil Mas Baron

Istri Tengil Mas Baron
Haruskah Mencari Tahu?


__ADS_3

Delila terus saja memperhatikan gerak gerik suaminya, pria yang tengah mengotak atik mesin mobil itu terlihat tidak fokus seperti biasanya, semenjak pertemuan mereka dengan bocah perempuan dan wanita asing beberapa waktu yang lalu.


Delila tidak tahu apa yang Baron pikirkan saat ini, tapi dia yakin kalau saat ini Baron tengah memikirkan kejadian itu. Sejujurnya Delila juga penasaran, kenapa wanita asing yang tidak dia ketahui namanya dan juga bocah perempuan yang memanggil Baron papa itu seakan mengenal suaminya, tapi anehnya kenapa mereka memanggil Baron dengan nama Bima.


Siapa Bima? Ada hubungan apa antara Baron dengan orang yang bernama Bima itu?


Kedua bola mata Delila kian menajam, dia bangkit setelah selesai membereskan peralatan bengkel yang tadi di gunakan oleh Baron. Gadis itu berjalan mendekat ke arah suaminya, Delila berdiri tegap di dekat Baron yang saat ini terlihat sibuk mengotak atik dalaman mobil pelanggannya.


"Mas Baron masih mikirin kejadian kemaren ya?" tanpa basa basi Delila langsung berbicara pada topik permasalahan yang saat ini tengah menyerang otak suaminya.


Entah kenapa, walaupun dia tidak mendengar secara langsung dari mulut suaminya, kalau pria itu memang tengah memikirkan kejadian kemarin tapi Delila yakin hal itulah yang saat ini tengah menyerang otak seorang Baron Gunadi.


"Udah selesai?" tanyanya pelan, terlihat sekali kalau Baron tengah mengalihkan pembicaraan.


"Mas Baron jujur deh sama aku, Mas Baron itu pasti cowok yang lupa ingatan dulunya- terus di rawat sama orang tua angkat Mas Baron sampai gede, terus-,"


"Gak usah ngaco deh!" selanya cepat.

__ADS_1


Baron melirik gadis yang ada di sebelahnya kesal, bisa bisanya gadis cantik dan demplon itu menganggapnya lupa ingatan atau amnesia hingga melupakan keluarganya. Keluarga siapa? Yang Baron tahu hanya mendiang nenek dan kakeknya yang merawatnya sejak kecil, karena kedua orang tuanya sudah berpulang terlebih dahulu kehadapan Tuhan.


"Gue gak pernah amnesia, bapak sama ibu gue meninggal sejak gue masih bayi terus di rawat sama nenek dan kakek hingga gue bisa sekolah jurusan mesin dan bisa kerja. Tapi sayang Tuhan lebih sayang sama mereka, gue gak bisa ngebales apa pun- mereka udah pergi sebelum gue sukses." Baron mendes*ah pelan, kepalanya menunduk dalam saat mengingat kembali kejadian menyakitkan itu.


Di tinggalkan oleh kedua orang tuanya sejak bayi, lalu kemudian saat usianya baru menginjak usia 18 tahun- Baron kembali harus kehilangan dua sosok yang paling berjasa dalam hidupnya.


"Tapi kenapa perempuan itu kayak kenal banget sama Mas Baron, terus manggilnya Bima lagi. Gak mungkin kan kalau itu cuma-,"


Lagi lagi ucapan Delila terputus saat melihat Baron menatap lekat dan dalam ke arahnya. Gadis itu melipat bibirnya dalam, terlihat menunduk sembari memainkan kaki di lantai bengkel- hingga akhirnya dia tersentak kala merasakan sebuah usapan di kepalanya.


Delila mengangkat kepalanya yang tertunduk, kedua matanya berkedip pelan saat melihat Baron tengah mengusap pucuk kepalanya. Senyuman Delila mengembang, rasa bahagia kian menyelimuti hatinya- sampai akhirnya dia reflek memeluk tubuh pria itu dari samping tanpa peduli dengan sekitar.


"Mereka pacaran, gak usah heran. Lanjut kerja lo lo pada, jangan jadi tukang gosip!" kedua pria muda itu tersentak, mereka menoleh keasal suara dimana Maman berada.


"Elah Bang, santai dulu napa. Aus nih kita, beliin es napa Bang!"


Maman melirik sinis pada sang rekan, dia mengabaikan ocehan teman kerjanya dan lebih memilih untuk masuk kedalam bengkel guna mencari sesuatu yang di butuhkan nya.

__ADS_1


Sementara tidak jauh dari mereka, sepasang kekasih itu masih sibuk dengan dunianya. Delila belum menyadari tempat mereka sekarang berada, gadis itu masih memeluk tubuh besar milik Baron- sedangkan pria itu terlihat menyunggingkan senyuman tipis dengan tangan masih membelai lembut rambut panjang milik Delila.


Cukup lama Baron melakukannya, hingga akhirnya Delila menyadari sesuatu dan segera menjauh dan memicing tajam pada Baron.


"Mas Baron lap'in oli ke rambut aku?!" tudingnya.


"Apaan, udah sana beli makanan. Ini udah jam makan siang, jangan sampe lo kena maag terus sakit, bapak mertua bisa bisa nyusahin gue dua kali kalo anak semata wayangnya sakit gara gara gak di kasih makan!"


Delila kian mencebik, tapi tak urung juga gadis itu segera mematuhi perintah Baron dan menjauh dari pria itu. Selepas kepergiannya, senyuman tipis yang Baron tunjukan perlahan surut, raut wajahnya berubah datar. Dia terlihat berpikir sejenak, saat ini Baron tengah memikirkan ucapan Delila tadi.


Memang benar kalau dirinya tengah memikirkan hal itu, dan sejujurnya penasaran dengan sosok Bima yang tiba tiba melekat padanya.


Siapa Bima? Ada hubungan apa dengannya? Apakah wajah mereka berdua benar benar sama hingga wanita asing dan bocah itu mengira dirinya adalah pria yang bernama Bima?


Haruskah dirinya mencari tahu, atau membiarkannya begitu saja?


Baron sibuk dengan pemikirannya sendiri saat ini, hingga tidak menyadari ada beberapa mobil mewah masuk kedalam area bengkel. Sementara Delila dan ketiga rekannya sudah bersiap melihat siapa orang yang ada di dalam mobil mewah tidak dikenal itu.

__ADS_1



ALHAMDULILAH BISA UP WALAUPUN HARUS BEGADANG NUNGGUIN BABY GEN BOBOK๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ MAKASIH YANG UDAH SETIA NUNGGUIN MAK DUREN UP MAS BARON๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2