Istri Tengil Mas Baron

Istri Tengil Mas Baron
Bukti


__ADS_3

Delila memegang erat ujung kaos yang di pakai oleh Baron- suaminya. Ekor mata gadis itu terus saja bergerak tidak nyaman kala melihat orang orang yang mendatangi kediaman Baron terus saja terarah padanya.


Tidak lagi sembunyi sembunyi, mereka menatap penuh rasa penasaran dan keingintahuan yang sangat tinggi terhadap gadis yang di bawa oleh tetangganya itu.


"Jadi, kalian berpacaran?" Pak Lurah kembali memberikan pertanyaan pada Baron dan Delila.


Sepertinya pria paruh baya itu masih belum puas dengan penuturan Baron yang mengatakan kalau apa yang di katakan para warga tentangnya dan Delila, sama sekali tidak benar.


Mereka tidak pacaran, apa lagi kumpul kebo!


Lagian apanya yang kumpul kebo, tidur saja mereka masih berpisah. Delila menempati kamar utama, sementara Baron yang nota bene tuan rumah malah tidur di sembarang tempat- asal mengantuk dia akan tidur disana.


Sebut saja dia *****, nempel molor.


"Saya sudah bilang kita gak pacaran Pak Lurah, apa lagi kumpul kebo kumpul sapi kumpul badak, terserah apa namanya! Saya sama Delila itu suami istri, jadi gak ada yang namanya mesum atau pun berbuat yang bisa merugikan kampung ini!" Baron kian gemas, pria itu bahkan mengetatkan rahang serta giginya. Napasnya memberat, pikirannya semakin runyam- belum selesai menguak kehidupan masa lalunya, kini di tambah lagi dengan tuduhan orang orang sok tahu yang tengah menghakiminya.


"Apa ada bukti kalau kalian berdua memang pasangan sah?" lagi lagi Pak Lurah kembali berbicara, terdengar kian memojokkan keduanya. Para warga yang ikut serta pun terdengar kembali riuh, seperti anak burung yang meminta pakan.


Di tengah gemuruh riuh orang orang itu, Baron terlihat melirik pada Delila lewat ekor matanya. Lirikannya itu seakan tengah mengatakan 'lihat, benarkan yang gue bilang. Sekarang kita harus gimana? Bebal banget sih jadi cewek!'


Baron menghirup napas dalam saat melihat Delila menundukkan kepalanya, bibirnya maju beberapa mili, bahkan gadis itu terlihat memainkan kaos yang di pakainya layaknya seperti anak kecil yang tengah pasrah di marahi oleh orang tuanya.


"Sebentar, saya mau menghubungi mertua saya dulu!"


Baron kembali melirik pada Delila, kini bukan lagi lewat ujung matanya- melainkan secara terang terangan dan memberikan kode agar gadis itu segera melakukan apa yang dia katakan pada Pak Lurah tadi. Tapi sepertinya Delila sedikit blank akibat rasa kebas yang masih dia rasakan di area bokongnya, akibat pukulan manja yang di berikan oleh Baron.


"Del!" panggil Baron. Suara pria itu tertahan kala melihat Delila terdiam tidak merespon, gadis itu malah berkedip layaknya boneka yang ada di dashboard mobil derek miliknya.

__ADS_1


Baron kembali menghela napas, dia mengalihkan pandangannya ke arah Pak Lurah dan yang lainnya.


"Maaf, istri saya shock makanya dia seperti ini." setelah mengatakan itu Baron terlihat menoleh kepada Delila, pria itu mengulurkan satu tangannya untuk mengambil ponsel di tangan Delila.


Tanpa perlawanan gadis itu membiarkan suaminya mengambil benda di tangannya, dia memilih untuk diam- entah apa yang sedang Delila pikirkan saat ini, bahkan disaat sambungan telepon yang Baron lakukan sekarang tersambung dan di terima, Delila tetap seperti itu.


"Kenapa Sayang? Papa lagi di kantor, Mama di rumah. Gimana disana, Baron gak galakin kamu kan?"


Baron menelan salivanya berat kala mendengar celotehan Papa mertuanya diujung telepon sana. Dia berusaha tenang saat Davyn kembali berbicara, namun belum sempat berucap banyak dia sudah terlebih dahulu memotongnya.


"Pa, ini aku Baron. Kita lagi di sidang, di sangka kumpul kebo, aku sama Delila-,"


"KUMPUL KEBO! SIAPA YANG NUDUH KALIAN KUMPUL KEBO?!"


Baron menjauhkan teleponnya saat Davyn berteriak, bahkan orang orang disana ikut tersentak kaget mendengarnya- begitu pula dengan Pak Lurah. Bahkan kopiah yang di pakai pria paruh baya itu terjatuh karena reflek menghindar yang dilakukannya.


Beruntung samanya tidak kambuh, atau lebih parah terkena serangan jantung dadakan.


"Kirim alamat kampung kamu dimana! Enak aja nuduh anak sama menantu semata wayang Davyn Prayoga kumpul kebo! Kirim Baron kirim, kalo enggak lihat aja, lato lato kamu bakalan saya pen-,"


Tut tut tut tut...


Dengan cepat Baron mematikan sambungan telepon mereka. Kedua mata pria itu menatap datar pada Pak Lurah yang masih terlihat belum puas dengan bukti yang di perlihatkan nya tadi, begitu juga dengan para warga.


"Papa mertua saya akan datang ke kampung ini. Jadi, kalau kalian masih belum puas tunggu kedatangannya biar enggak ada gosip dan fitnah murahan seperti ini lagi tentang kami berdua!" geram Baron. Dia meremas ponsel milik Delila kencang, bahkan dengan posesif Baron meraih pinggang istrinya dan kian mendekatkan tubuh mereka.


Bola mata tajam milik Baron bergerak, mengarah pada ketiga orang pria yang tadi pagi mendatangi rumahnya dan sekarang tengah menatap pada Delila dengan tatapan dalam.

__ADS_1


Dia tidak suka melihatnya!


"Kalau Pak Lurah sama yang lainnya gak ada urusan lagi disini, silahkan keluar karena saya dan ISTRI saya masih banyak kegiatan. Kami baru sehari sampai disini dan belum membereskan rumah ini, jadi-,"


"Baiklah, saya dan warga akan menunggu kedatangan mertua kamu. Kalau begitu saya permisi dan maaf sudah mengganggu waktu kalian."


Pak Lurah bangkit, dia segera berpamitan pada tuan rumah dan keluar dari sana. Beberapa warga pun turut mengekor, termasuk ketiga pria yang sedari tadi tidak lepas dari kedua mata tajam milik Baron.


"Papa mau kesini?"


Baron tersentak saat Delila tiba tiba berbicara dan memeluk pinggangnya secara tiba tiba. Gadis itu bahkan tanpa malu merebahkan kepala di lengannya, wajahnya masih terlihat masam dengan mata terus saja terarah pada orang orang yang sudah keluar dari kediamannya.


Baron hanya mengangguk untuk menanggapinya, entah mengapa dia membiarkan Delila memeluknya tanpa ingin menyingkirkan kedua tangan itu dari tubuhnya.


Sementara di tempat lain, dua orang manusia tengah mengerutuki pria itu. Satu dari mereka mengumpati Baron karena sudah berani mematikan sambungan telepon tanpa izin, sedangkan yang lainnya terlihat serius mendengarkan keterangan salah satu bawahannya.


"Jadi dia ada di kampung halamannya?"


Sang bawahan mengangguk, dia menyerahkan sebuah flashdisk lalu setelah itu kembali mundur ke tempat semula.


"Lalu sekarang apa yang akan anda lakukan, Tuan?" tanyanya.


Orang itu menyeringai, dia menggenggam benda kecil yang tadi diberikan oleh bawahannya.


"Ikuti, dan bereskan!" titahnya.


Pria muda yang ada di hadapannya itu hanya mengangguk patuh, dia segera berbalik dan meninggalkan orang yang memerintah nya untuk segera bergegas melaksanakan tugasnya.

__ADS_1



PINGIN HEALING πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ


__ADS_2