
Jendela rumah terbuka perlahan, hembusan angin malam menyeruak masuk menimbulkan rasa dingin yang menusuk kulit, hingga orang yang ada di dalam ruangan itu sedikit bergidik. Terlebih hawa AC yang menyala kian menambah minusnya udara yang masuk.
"Pelan-pelan, kalau dia bangun bisa ketahuan kita," bisiknya pada sang rekan.
Kedua orang ber penutup wajah itu perlahan mendekati ranjang. Ada rasa ragu saat melihat gulungan selimut kian membelit tubuh seseorang yang tengah berbaring di tempat tidur.
"Kau yakin dia gadis itu, kenapa tubuhnya sedikit besar? Aku tidak ya-,"
"Sssttt- sudahlah! Aku yakin kalau kamar ini yang di tempati gadis cantik itu. Aku melihatnya sendiri waktu malam itu, jadi sekarang cepat eksekusi! Kita tidak punya waktu banyak."
Sang rekan ber mendesis kecil, dia cukup kesal pada orang yang ikut bersamanya malam ini. Bagaimana bisa rekannya itu meragukan dirinya, padahal beberapa malam yang lalu dirinya lah yang mengintai rumah serta penghuni rumahnya. Dan kamar ini lah yang di tempati oleh gadis incaran mereka.
Tanpa memprotes lagi orang itu kembali mengikuti langkah rekannya. Perlahan dia mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya, sebuah sapu tangan yang sudah di beri obat tidur.
Kedua kalinya melangkah hati hati, kian mendekat ke tepian tempat tidur, tangannya perlahan terulur untuk menyibakkan selimut tebal yang menghalangi tubuh targetnya, termasuk bagian kepala.
"Buruan! Tunggu apa lagi." bisik sang rekan gemas.
Dengan tangan bergetar dia mulai meraih selimut, menyingkapkannya perlahan agar tidak mengingatkan sang empunya. Lewat gerakan bola matanya kedua manusia itu saling berkomunikasi agar misi ini segera selesai.
"Aku yang membalikan tubuhnya, kau yang membekapnya!"
Rekannya mengangguk setuju, dan segeralah mereka menjalankan tugas masing masing.
Sementara di ruang berbeda, sepasang anak manusia masih menikmati mimpi tanpa terganggu sedikit pun. Keduanya kian merapatkan pelukan kala merasakan angin malam dan kipas angin saling mengadu kehebatan malam ini. Beruntung hanya kamar utama saja yang di berikan AC, hingga mereka tidak sampai menggigil kedinginan.
Walaupun rumah itu hampir sepenuhnya terbuat dari kayu, tapi kayu yang di gunakan bukan berkwalitas rendah melainkan kayu pilihan yang kuat dan kokoh dalam waktu yang lama.
Kedua tangan sang gadis membelit tubuh pria yang ada didekatnya. Sementara sang pria terlihat lelap seakan menikmati rengkuh anak gadis yang sudah sah menjadi istrinya selama beberapa bulan ini, walaupun pernikahan mereka belum tercatat di negara.
__ADS_1
Hingga suara teriakan seseorang dan suara keributan dari arah luar membuat keduanya tersentak. Mereka saling memandang satu sama lain dalam posisi masih berdekatan dan saling membelit.
"MALING LO YA?!"
Suara teriakan itu kembali terdengar. Keributan diluar kian jelas, umpatan dan sumpah serapah seseorang semakin membuat sepasang suami istri itu sigap melompat dari atas ranjang. Keduanya berlari mengerjang apa pun yang menghalanginya, hingga akhirnya saat mereka berdua sampai diluar kamar, pemandangan tak lazim dan tidak pernah terjadi sebelumnya membuat netral keduanya membulat.
Disana, diambang pintu Davyn tengah memukuli dia orang asing menggunakan tangkai sapu. Pria tua itu terus saja mengumpat, menyumpahi kedua orang asing yang berani masuk kedalam rumah ini. Satu tangannya memegangi sarung yang hampir saja terlepas, sementara tangan yang lain dengan bebas menghantam tubuh tak berdaya lawannya.
"LO KALO MAU MALING LIAT LIAT DULU! NGAPAIN LO ***** GREPEIN GUE?!"
Dahi kedua orang yang sedari tadi diam memperhatikan mereka terlihat berkedip berulang kali. Bahkan saat Joko, sopir muda yang datang bersama Davyn keluar dari kamarnya sembari menenteng raket nyamuk, keduanya sama sekali belum menyadarinya.
"Mana malingnya mana?" tanyanya dengan raut wajah waspada. Tangannya siap menghantam kepala seseorang menggunakan benda yang ada didalam kuasanya.
Sementara sepasang suami istri yang ada didekatnya sama sekali tidak bersuara, mereka berdua hanya menoleh pada Joko lalu menunjuk ke arah Davyn yang masih meluapkan emosinya.
"Astaga Pak Boss! Jadi ini malingnya, bener bener minta di setrum!" koar nya sembari melangkah cepat mendekat pada Davyn dan kedua orang asing yang saat ini tengah menghalangi kepalanya agar tidak terkena hantaman sapu.
"Siapa yang nyuruh kalian? Kalian pasti bukan mau nyulik saya kan, tapi salah satu dari mereka?" Aura yang Davyn keluarkan mampu membuat kedua orang asing itu menegang, keduanya saling lirik lewat ujung mata. Tertunduk dalam tidak berani menatap pria tua yang ada dihadapannya yang tengah mengistrogasi.
Bukan hanya tidak berani menatap pria tua itu, mereka berdua juga tidak sanggup untuk melihat kedua mata tajam yang sejak tadi terlihat ingin mengikuti dan menghabiskan mereka berdua ditempat ini.
"JAWAB!" bentak Davyn.
Kedua orang itu tersentak, termasuk Joko yang tengah berdiri di sisi tuannya. Pria muda itu mengusap dadanya dramatis, menghembuskan napasnya pelan sebelum kembali diam mematung.
"Lo mau jawab atau gue-,"
"Mas, jangan gitu! Kalo mereka mati kita gak tau siapa yang nyuruh,"
__ADS_1
Delila memeluk tubuh Baron, menahan pria itu saat hendak mencengkeram leher salah satu dari kedua orang asing tersebut.
"Katakan, siapa yang menyuruh kalian? Kalau memang kalian tidak mau jujur, bersiaplah polisi akan-,"
"Tuan Anggoro, dia yang menyuruh kami. Dia menginginkan tanda tangan Baron tapi dengan cara memaksa dan berencana menyulik istrinya. Hanya itu yang kami tahu, selebihnya kami tidak tahu apa apa, sumpah." cetus nya cepat, tubuhnya sedikit bergetar kala mendengar kata polisi.
Tidak, dirinya tidak mau masuk kedalam sel tahanan.
Davyn melirik pada menantunya, pria itu seakan bertanya siapa itu Anggoro? Dan ada urusan apa dengan Baron hingga membutuhkan tanda tangan pria muda itu, bahkan merencanakan penculikan.
"Siapa Anggoro?" tanya Delila.
Gadis itu menatap lekat pada suaminya, dahinya berkerut dalam karena tidak paham.
"Siapa Anggoro?" kini giliran Davyn yang bertanya, pertanyaan yang sama dengan Delila.
Baron masih terdiam
"Siapa Anggo-," Joko mengagumkan bibirnya saat melihat lirikan tajam menantu tuannya. Pria itu memalingkan wajahnya menghindari mata berkilat Baron yang begitu mengerikan.
"Gue gak kenal siapa Anggoro. Tapi kalo dia memang ada urusan sama gue, datang sendiri. Hadapin gue empat mata, jangan jadi pecundang sampe berniat nyulik binik gue. Bilang sama dia, datang kalo memang butuh gue!" tukas Baron pelan namun tajam.
Matanya menatap dingin pada dua orang pria yang menjadi tetangga kampungnya selama ini. Sayang, salah satu dari ketiga orang itu berhasil lari, jadi Baron dan Davyn tidak bisa memberikan hadiah spesial pada mereka bertiga.
Lihat saja, Baron akan melakukan sesuatu pada orang yang bernama Anggoro kalau sampai pria itu berani datang padanya.
papa Davyn๐๐๐
__ADS_1