
Delila menguap tertahan saat keluar dari ruang kelas, ini adalah kelas terakhirnya hari ini. Kedua kakinya melangkah lesu menjauh dan bergegas keluar dari area gedung kampus.
Perutnya sudah memberontak minta diisi, matahari kian tinggi dan Delila yakin kalau ini sudah melewati jam makan siang.
Dia terlihat bingung mau makan dimana. Kalau dikantin kampus pasti ramai dan sendirian. Tapi kalau di luar area kampus dia akan kembali teringat dengan pria yang selama beberapa hari ini berjauhan dan mungkin tidak akan lagi bertemu dengannya.
"Dia pasti seneng gue pergi kan?" gumamnya pelan.
Kedua kalinya kembali melangkah, Delila memutuskan untuk keluar dari area kampus dan pulang ke rumah. Dia akan menaiki taksi, karena mungkin sopir yang mengantarnya tadi pagi masih berada di perusahaan Papanya.
Sesampainya di tepi jalan kedua mata Delila mengedar, dia mencari taksi yang akan di tumpangi nya. Helaan napasnya terdengar kasar, cukup banyak kendaraan yang lalu lalang tapi tidak ada satu pun taksi yang lewat.
Tin Tin!
Suara klakson mobil dari arah berlawanan dengan Delila berhasil membuat gadis itu terperanjat. Sebuah mini cooper merah mendekat, dahi Delila mengernyit kedua matanya tidak berkedip dan menatap penasaran pada pengendara itu.
Delila reflek menjauh dari bahu jalan saat mobil itu menepi didekatnya.
Kedua matanya mengerjap pelan kala melihat seseorang keluar dari dalam mobil.
"Masuk! Lo mau jadi ikan asin disini?!" cetus nya.
Delila mencebik, tapi pada akhirnya dia menuruti ucapan orang yang ternyata sudah dia kenal sejak orok.
Galexia Ranendra, putri tungga pasangan Galaska Gavy Ranendra dan Crystal Ranendra. Gadis berusia 24 tahun yang terkenal keras kepala, bar bar, masa bodoh dan juga tidak mudah akrab dengan orang asing, itulah Lexia- panggilan akrabnya.
"Kak Lexi, ngapain disini?" Delila menatap heran pada kakak sepupunya itu.
Kedua matanya menatap lekat pada si gadis Galaska yang terlihat mulai mengendari mobilnya.
"Kabur, gue lagi kabur dari Papi. Papi maksa gue mulu kenalan sama orang yang katanya mau dijodohin sama gue. Dih ogah banget, mereka kira gue kagak laku sampe di obralin gitu." sungut nya kesal.
Delila yang mendengarnya hanya mengangguk walaupun tidak begitu paham. Dia juga baru tahu kalau Omnya memaksa kakak sepupunya ini berkenalan bahkan akan di jodohkan dengan seorang pria, mengerikan sekali.
"Gue laper," cetus Delila tanpa beban.
__ADS_1
Gadis berambut ombre di sisiNya itu menoleh, tidak menyahut tapi dia peka dan segera membanting stir menuju area yang banyak menjajakan makanan enak tapi murah.
Cukup beberapa belas menit akhirnya mereka sampai. Keduanya turun dengan cepat, bahkan sepertinya Delila sangat tidak sabaran untuk memesan banyak makanan di tempat ini.
"Lo mau makan apa, Del?"
Kedua mata Delila masih mengedar, dia mengabaikan pertanyaan yang dilontarkan oleh Galexia.
"Apa aja deh, bingung gue. Udahlah yang penting kenyang, jangan lupa beli es Doger itu ya Kak. Tenggorokan gue kering kerontang ini!"
Galexia mencebik, dia melirik malas pada gadis kecil yang sudah mendudukkan diri disalah satu kursi beton sembari mengibas ngibaskan tangannya. Tapi sepertinya walaupun Galexia menggerutu dalam hati, gadis itu tetap mendekat ke arah tukang batagor, sate, dan Tukang Es Doger yang Delila inginkan.
"Bang, satenya dua porsi, batagor nya juga dua porsi Bang. Kalo udah jadi anterin ke sono yak!"
"Siap Neng!" sahut kedua pedagang itu kompak.
Setelah memesan makanan murah meriah tapi rasa wah itu, Galexia kembali melangkah mendekat ke arah Kang Es Doger. Galexia terlihat terdiam sesaat, kedua matanya menelisik penampilan pedagang es yang ada dihadapannya saat ini.
"Bang, es Doger nya dua!"
"Manis atau tidak?" tanyanya.
Galexia yang tadinya mencoba acuh kini kembali menatap, dahinya mengerut mendengar suara pria bertopi yang tengah melayaninya membuat es Doger.
"Manis, tapi kok banyak banget sih Bang. Harganya kan cuma lima re-,"
"Sial!"
Galexia terperanjat kala mendengar umpatan yang keluar dari mulut pria itu. Dan yang membuat sang gadis terkejut, tiba tiba pria bertopi itu berlari meninggalkan Es Dogernya yang belum sempat diberi gula.
Galexia menganga lebar, dia terkejut bukan main. Tapi sepertinya bukan hanya dia yang terkejut, tapi juga orang orang yang ada disana termasuk Delila.
"Pantesan harganya murah tapi dapetnya segayung," gumam Galexia.
Kedua matanya terus saja menatap lekat pada pria bertopi yang tengah memborgol seseorang dari jarak yang lumayan tidak jauh darinya.
__ADS_1
"Dia intel?"
🦋
🦋
🦋
Baron memasuki rumah kontrakannya dengan lesu. Dia berkali kali menghela napas kasar, dan segera mendudukkan dirinya di sofa usang yang ada di ruang tamu.
"Del!" panggilnya.
Kedua matanya terpejam, rasa lelah yang dia alami hari ini sepertinya cukup membuat kesadarannya terkuras bukan hanya tenaganya.
"Delila, buatin gue kopi dong!" cetus nya lagi tanpa sadar.
Baron masih memejamkan kedua mata, dia menunggu sahutan dari orang yang saat ini dipanggilnya berulang kali. Hingga saat dirinya hendak kembali membuka suara, Baron terlihat-
"Del, gue udah lap- sialan!" pria itu mengumpat kecil.
Kedua tangannya meraup kasar wajahnya, dia baru menyadari kalau nama yang dipanggilnya sudah tidak ada lagi di rumah ini.
"Apa yang harus gue lakukan?" de*sahnya pelan.
Kedua mata Baron terbuka, dia bangkit dan berjalan menuju dapur. Pria itu kembali mendesah saat melihat kondisi dapurnya, sepi dan cukup berantakan.
Pandangannya terarah pada meja kompor, entah kenapa didalam pandangannya saat ini ada seorang gadis tengah berdiri disana sembari membelakangi nya.
'Mas Baron duduk aja, bentar lagi masaka aku mateng. Minum kopi aja dulu ya!'
Suara itu terngiang didalam kepala Baron, dia menggaruk kepalanya kasar dan berlalu pergi menuju kamar mandi. Sepertinya dia butuh mandi dan keramas agar otaknya segar, Baron berharap setelah kepalanya terguyur air dirinya bisa sedikit rileks dan berpikir waras.
Semoga saja.
__ADS_1
HEALING DULU SONO, LO BUTUH OKSIGEN KAYAKNYA MAS SAMSON, SELAMA INI YANG LO ISEP KARBON MONOKSIDA🤣🤣🤣🤣