Istri Tengil Mas Baron

Istri Tengil Mas Baron
To The Point


__ADS_3

Selepas makan malam mereka berempat kembali berbicara. Saat ini mereka sudah berada di ruang keluarga, Davyn memperhatikan dalam diam setiap kata yang dilontarkan oleh Baron. Pria muda itu menceritakan apa pun yang diketahuinya selama ini tanpa terlewat. Disisinya Delila juga hanya bisa diam memperhatikan sembari menopang dagu, Delila jadi ingat dengan pria paruh baya dan wanita serta anak perempuan kecil yang memanggil suaminya Papa juga Bima.


Apa mungkin Anggoro itu adalah pria tua tersebut?


"Kamu benar benar enggak tau keluarga dari Ayah kamu punya perusahaan besar? Apa gak ada yang ngasih tau kamu, nenek atau kakek kamu sebelum mereka berpulang?"


Davyn terus saja mencecar, dia masih tidak yakin kalau menantunya ini tidak mengetahui sama sekali tentang asal usul keluarga dari mendiang Ayahnya.


"Kalau saya tau Ayah punya perusahaan yang di garap sama orang, mending saya aja yang garap dari pada kerja di bengkel. Anak Papa juga gak bakalan ikut susah kalo saya tau!" gerutu Baron membuat Davyn berdecak kesal.


Rupanya menantunya benar benar tidak mengetahui semua masa lalu kedua orang tuanya. Ini cukup menyusahkan, saat ini dia berharap orang suruhannya akan segera datang dan memberikan informasi tentang manusia yang bernama Anggoro Gunadi itu.


"Kalo Mas Baron punya perusahaan, kita gak bakalan ketemu," cetus Delila sedikit tidak terima. Memang benar, kalau Baron tahu dari dulu Ayahnya ternyata memiliki perusahaan walaupun tidak sebesar milik Davyn dan anggota keluarga Prayoga lainnya, tidak mungkin mereka bertemu di insiden saat Delila kecopetan.


"Sudah jangan bertengkar! Sekarang kita tidur, ingat besok pagi kalian harus ke KUA buat ngajuin pernikahan secara negara. Papa sama Mama yang bakalan antar, setelah itu ayo kita temuin si Anggoro Anggoro itu. Kita tanya apa maunya, enak aja sudah bikin Papa kayak anak gadis yang ilang perawan!"


Davyn masih belum menerima apa yang sudah terjadi padanya saat di kampung. Dan itu akan dia balaskan pada Anggoro nanti saat mereka bertemu.





Senyuman Delila terus saja mengembang sepanjang perjalanan menuju KUA. Ekor matanya melirik pada Baron yang terlihat tampan dengan kemeja putih gading yang di pakainya. Mereka memang tidak akan mengucapkan ijab mobil untuk kedua kalinya, tapi sepertinya momen ini adalah saat saat yang paling berharga untuk keduanya, Delila pun memakai kebaya yang cukup simple namun elegan dengan rambut yang tertata sedemikian rupa.


"Papa bilang pesta pernikahannya bakalan diadain pas aku lulus," cetus nya memecah keheningan.


Baron menoleh sekejap, sudut bibirnya terangkat saat melihat raut wajah bahagia yang Delila tunjukan saat ini. Dia tidak menyahut, Baron hanya mengangguk, dia menyetujui apa pun yang diinginkan oleh Delila dan kedua mertuanya.


Dia akan menurut kali ini, lagian mau menentang pun dirinya tidak akan bisa, terlebih Kirana sudah turun tangan.


"Lo seneng nikah sama cowok kere kayak gue, Del?"


Delila menoleh, kedua mata bulatnya terus saja tertuju pada Baron yang tersenyum tipis dan kembali memfokuskan pandangannya ke arah jalanan.


"Hu'um, aku seneng, seneng banget. Gak peduli Mas Baron punya apa tinggal dimana, mau kere atau kaya aku gak peduli. Lagian harta warisan Papa gak bakalan abis kalo dimakan sama kita berempat, belum lagi dari Mama. Ngapain harus bingung punya suami kere, ya nikmatin aja lah harta warisan. Anaknya juga cuma aku doang, jadi kesiapa lagi harta Papa dikasihin."


Delila berbicara cukup tenang, dia mengatakan hal yang apa adanya. Memang benar kalau semua harta milik Davyn dan Kirana tidak akan jatuh ke tangan siapa pun, hanya ke tangannya.


Baron tidak lagi menyahut, pria itu kembali memainkan stir mobil saat mereka sudah sampai di tempat tujuan. Ternyata di depan KUA bukan hanya ada Davyn dan Kirana, melainkan Gentala serta beberapa anggota keluarga Prayoga termasuk Galexia dan calon suaminya.


"Wah, Kak Xia juga disini!" serunya saat melihat sepupunya itu tersenyum.


"Kirain Om Davyn bohong soal kamu mau nikah hari ini, Del." Galexia memeluk tubuh kecil adik sepupunya, bahkan menepuk pundak Delila cukup keras untuk menyalurkan kekesalannya.


"Aku juga baru tau kalo calon suami Kak Xia itu polisi. Ah Kak Xia kena jerat sama Om Om hallo dek ya!" cibir nya.

__ADS_1


Galexia mendesis, dia melepaskan pelukannya dan kembali mundur mendekat pada pria berkemeja hitam yang tengah berbicara dengan Galaska Papinya.


"Ayo, kepala KUA sudah menunggu kalian!"


Davyn dan Kirana menggiring anak serta menantunya untuk segera masuk kedalam gedung KUA. Mereka ingin segera cepat menyelesaikan pernikahan Baron dan Delila, agar bisa menindak lanjuti pria yang bermakna Anggoro.


Di tempat lain, Anggoro terlihat menyunggingkan senyumannya saat sekretarisnya mengabarkan kalau CEO GG MOBILE ingin bertemu dengannya. Rasa percaya dirinya kian melambung, karena Anggoro yakin pria konglomerat pemilik perusahaan game itu akan mengajukan kerjasama dengannya.


Yang Anggoro dengar GG MOBILE tengah membuat boneka karakter di setiap permainan yang mereka buat, dan pastinya membutuhkan banyak bahan termasuk plastik berkualitas dari perusahaan yang tengah di pegangnya saat ini.


"Jam berapa Tuan Davyn menjadwalkannya?" tanyanya antusias.


"Habis makan siang Pak, beliau meminta anda datang ke kafe Gemilang tepat waktu."


Anggoro mengangguk paham, kemudian dia menginstruksikan sekretaris nya untuk keluar setelah wanita itu menyelesaikan laporannya.


"Aku akan kaya," gumamnya senang, sembari menyandarkan tubuhnya dengan nyaman dan memejamkan kedua matanya.





Anggoro terlihat berdecak saat dirinya sudah merasa bosan menunggu. Berulang kali matanya melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, sudah cukup lama dia menunggu kedatangan calon klien yang akan membuatnya kaya raya itu, kalau saja pertemuan ini tidak menguntungkan dirinya juga tidak akan sudi untuk tetap berada di tempat ini. Menunggu layaknya orang bodoh, sialan!


"Dengan Bapak Anggoro Gunadi?"


"Tuan Davyn, ah selamat datang. Silahkan duduk, buat anda senyaman mungkin. Saya akan memerankan minuman dan makanan untuk-,"


"Tidak perlu!" potong nya cepat.


Anggoro terlihat menganga, ada rasa kesal menyelimuti hatinya namun dia berusaha untuk tenang. Jaga emosi agar tangkapannya kali ini tidak lepas, tangkapan yang sangat menggiurkan.


"Ah baiklah, sepertinya anda sudah tidak sabaran ingin melakukan kerja sama dengan sa-,"


"Untuk apa kau meneror anak serta menantuku?!"


Deg!


Tubuh Anggoro membeku, kedua matanya menatap tidak percaya pada pria yang saat ini sudah menatap penuh intimidasi padanya. Namun dengan cepat dan cukup pandai dia menyembunyikan rasa keterkejutannya dengan senyuman.


"Maksud anda?" tanyanya tidak mengerti.


Davyn menyunggingkankan senyuman sinisnya, dia terlihat memberikan kode lewat gerakan jarinya pada seseorang agar segera mendekat. Dan tidak lama seorang pria muda berkaos hitam dan berjaket jeans pudar mendekat pada keduanya, disitu Anggoro sangat tercengang dia tidak dapat lagi menyembunyikan rasa terkejutnya.


"K-kau!" tunjuk nya pada pria muda yang saat ini sudah duduk di sisi Davyn.

__ADS_1


"Katakan apa mau mu, aku tidak suka orang yang basa basi!" Davyn kembali berbicara penuh intimidasi. Davyn yang biasanya konyol walaupun usianya tidak lagi muda kini terlihat sangat berbeda.


"maaf Tuan Davyn, saya benar benar tidak-,"


Namanya Anggoro, dia yang menyuruh kita buat nyulik gadis yang ada di rumah ini buat mancing Baron agar dia ngasih tanda tangannya, selebihnya nya kita enggak tau siapa dia!


Suara rekaman yang terdengar kembali mencengangkan Anggoro. Dia mengalihkan pandangannya pada pria muda yang mirip sekali dengan mendiang menantunya yang berhasil dia singkirkan beberapa tahun yang lalu.


"Tidak perlu kau meminta tanda tangan menantu saya dan melakukan hal yang menjijikan itu. Kau menginginkan perusahaan itu bukan? Ambil saja, menantuku tidak akan kekurangan uang hanya karena kehilangan perusahaan milik mendiang Ayahnya. Milik mertuanya sudah cukup dan itu tidak akan habis biarpun dia memberikan selusin cucu untuk saya. Jangan bersikap seperti orang susah! Ambil perusahaan itu sebagai sumbangan dari menantuku karena sudah mau merawat mendiang kakaknya."


Glek!


Anggoro hanya mampu menelan ludahnya susah payah, kedua matanya yang tadi menajam kini terlihat tidak memiliki kekuatan apa pun.


"Oh iya, jangan lupa dengan kejahatan yang sudah kau lakukan pada besan ku dan putra pertama mereka. Mungkin aku akan melepaskan mu kalau kau tidak lagi mengganggu kehidupan menantu dan putriku, tapi sepertinya itu bukan kewenangan ku, aku akan menyerahkan semua itu pada Baron menantuku, bagaimana? Apa yang akan kamu lakukan sekarang? Membebaskan atau-,"


"Terserah Papa, yang jelas saya gak mau melihat dia berkeliaran bebas sementara ibu Ayah dan Kakak saya sudah berada di akhirat." cetus Baron dingin.


Matanya memancarkan kekecewaan, kesedihan, dendam serta sakit hati. Namun sepertinya dia tengah menekan semua itu agar tidak meledak dan membuatnya semakin kacau.


"Kau dengar, menantu ku menuntut keadilan. Jadi mulai sekarang bersiaplah, karena tidak lama lagi pihak berwajib akan-,"


Brakk!


Sebelum Davyn menyelesaikan ucapannya Anggoro terlebih dahulu bergerak dan berlari cepat meninggalkan kedua orang yang mengintimidasinya sejak tadi. Dia harus menyelematkan diri dan kebebasannya.


Luar negeri adalah tujuannya sekarang, karena kalau dia tetap berada di negara ini sudah pasti Davyn tidak akan membiarkan nya bebas begitu saja.


Baron hendak mengejar, namun langkahnya terhenti saat ponsel miliknya bergetar. Pria itu berdecak, lalu dengan cepat merogoh nya dan melihat siapa yang sudah mengganggunya sekarang.


Demplon


Satu nama yang tertera di layar, Baron menetralkan napasnya sebelum dia menerima panggilan dari istrinya itu.


"Ha-


" Mas Baron, Eyang Damar kritis. Tolong bawa Papa ke rumah sakit, aku sama Mama udah disini. Semua orang udah di rumah sakit, kita tinggal nunggu Papa sama-


Bip


Belum selesai Delila berbicara Baron sudah terlebih dahulu mematikan sambungannya. Dia menoleh cepat pada Davyn yang tengah menatap ke arahnya dengan dahi mengernyit.


"Ada a-,"


"Eyang Damar kritis, yang lain sudah nunggu Papa di rumah sakit!"


__ADS_1


Papa Davyn lagi mode serius🙈🙈🙈


Capter kali ini harus nya buat tiga bab aku jadiin satu bab🤣🤣🤣🤣


__ADS_2