Istri Tengil Mas Baron

Istri Tengil Mas Baron
Ancaman Karat Perusak


__ADS_3

Baron tersentak saat merasakan seseorang mendekat ke arahnya, pria itu menoleh- wajahnya terlihat sama bingungnya dengan gadis yang saat ini tengah memegang lengannya. Netra bulat milik sangat gadis terarah pada dua buah mobil mewah yang sudah terparkir di depan bengkel, begitu pula dengan Baron.


Pria itu menatap lekat saat melihat beberapa orang keluar dari dalam mobil, dan dua diantara mereka pernah bertemu dengannya kemarin. Bocah perempuan bergaun biru yang memanggil Baron Papa terlihat berbinar saat melihat pria itu.


Senyumannya mengembang, dia terlihat berjingkrak heboh sembari menyeret seorang pria paruh baya yang keluar bersamanya. Sedangkan Baron dan Delila masih terdiam di tempat, sepasang sejoli itu belum merespon lewat gerakan atau suara apa pun. Terlebih Baron, pria itu mematung- dia bahkan kesulitan untuk mengedipkan kedua matanya karena terkejut.


Baron masih tidak menyangka, kenapa dia orang asing itu bisa tahu tempatnya bekerja dan siapa pria tua yang bersama mereka?


"Mereka mau ngapain lagi sih?" bisik Delila.


Gadis itu reflek menggenggam tangan Baron, meremas nya pelan- Delila masih kesal saat mengingat wanita asing itu memeluk suaminya tanpa izin. Sekali itu saja, dia tidak akan pernah lagi membiarkan wanita lain mendekap tubuh hangat suaminya.


Termasuk bocah perempuan yang sama kecentilannya dengan ibunya.


"Lihat Kek, itu Papa! Aku sama Mama gak bohong kan!"


Bocah itu memekik senang, kedua matanya berbinar- bahkan berjalan cepat sembari menyeret pria paruh baya yang ikut bersamanya saat ini. Wanita yang dia panggil Mama pun terlihat mengembangkan senyumannya, tapi tidak dengan pria paruh baya di depannya- pria itu termenung kala melihat wajah Baron.


Sesekali menelan salivanya, menatap lekat pada pria yang saat ini belum memberikan respon apa pun- Baron terkesan dingin dan menunjukan raut wajah tidak bersahabatnya. Bahkan secara tidak sadar dia membalas genggaman tangan Delila dan meremas nya erat membuat gadis itu sedikit meringis di buatnya.


"Papa, lihat aku sama Mama bawa Kakek kesini! Papa seneng kan ketemu sama Kakek?"

__ADS_1


Bocah itu sedikit berlari saat jarak antara dirinya dan Baron kian terkikis, niat hati ingin memeluk pria berseragam bengkel itu- tapi sayang gadis yang sedari tadi bersama Baron segera memasang badan dan menghalangi sangat bocah agar tidak lagi memeluk suaminya dengan seenaknya.


"Kakak kenapa ngebayangin aku?! Awas, aku mau-,"


"Enggak sopan meluk suami orang sembarangan!" cetus Delila tidak mau kalah.


Wajah imutnya berubah tidak sedap di pandang, senyuman yang selalu menghiasi bibirnya berganti dengan cebikan sinis yang dia tujukan pada kedua orang perempuan beda usia itu. Demi apa pun Delila akan tetap berada di depan Baron untuk menghalangi virus karat yang bisa saja menggerogoti hubungannya dengan pria itu.


Baron hanya miliknya dan sampai kapan pun akan tetap menjadi miliknya!


"Kamu cukup kejam sama anak anak, gak pantas rasanya untuk-,"


"Gue memang kejam sama anak-anak, apa lagi anak-anak macam anak lo itu!" sela Delila cepat.


"Kamu tidak sopan pada anak dan cucu saya! Kalau dilihat dari penampilan kamu, saya yakin kalau kamu bukan orang yang terpela-,"


"Mau ngapain kalian kesini? Datang datang ngejude istri gue seenaknya, dan lo- buat apa lo bawa bapak lo kesini dan bikin onar!"


Baron yang sedari tadi diam mulai angkat bicara, dia mendekat pada Delila lalu salah satu tangannya meraih pinggang kecil sang gadis dan menggeser tubuh kecil itu agar berada di belakangnya. Kedua mata Baron menatap lekat pada pria paruh baya yang saat ini tengah memusatkan pandangannya pada satu titik, yaitu dirinya.


"Mas Bima, kita-,"

__ADS_1


"UDAH GUE BILANG GUE BUKAN BIMA!" bentak Baron.


Delila bahkan terkejut di buatnya, dia reflek mengusap dadanya pelan- begitu pula dengan Maman dan kedua rekannya. Delila memang sering melihat wajah marah Baron, sikap cueknya, dingin serta kaku, tapi dia tidak pernah melihat atau mendengar pria itu membentak dan memarahi seseorang dengan nada tinggi. Baru kali ini Delila melihat serta mendengarnya dan itu terlihat mengerikan.


"Kamu Mas Bima, Mas! Kamu-,"


"Kamu tidak ingat sama saya?" pria paruh baya itu menyela cepat ucapan wanita yang dia sebut sebagai anaknya. Sang wanita terlihat tidak suka dan mencetak kesal karena di bungkam paksa oleh Ayahnya sendiri.


Sementara Baron masih diam, dia tidak memberikan respon apa pun membuat pria paruh baya yang ada di hadapannya mengulas senyuman tipis.


"Gue gak peduli siapa kalian!" tukasnya tajam.


Senyuman pria itu kian melebar, bahkan terlihat mengikis jarak dengan Baron dan Delila, terlihat angkuh dan arogan di mata keduanya.


"Tapi saya peduli, kalau saja Afni dan Anjar tidak membawa kamu pergi- mungkin kita akan saling mengenal dan sangat dekat- bahkan kamu bisa lebih dekat dengan saudaramu yang lainnya juga, termasuk Sheren dan anak ku Sintya."


Baron terdiam, dia tidak lagi merespon- saat ini dirinya membiarkan pria paruh baya itu berbicara sepuasnya. Sementara dirinya mencoba mencerna setiap ucapan yang dilontarkan lawan mainnya, di dekatnya Delila terlihat memilih ujung seragam bengkel yang di pakai Baron. Entah mengapa instingnya berkata kalau pria paruh baya yang ada dihadapan suaminya itu menjadi salah satu karat yang akan menggerogoti kekokohan hubungannya dengan Baron.



**MAAF YA KALO UP NYA JARANG JARANG, OTHOR BERUSAHA NGATUR WAKTU BUAT DI RL DAN DUNIA HALU, MASIH BUTUH BANYAK ISTIRAHAT JUGA KARENA MASIH SUKA BEGADANG🙈 BUAT YANG KOMEN ' KOK UPNYA DIKIT, KOK LAMA BNGET, KOK GAK UP UP, CERITANYA BAGUS TAPI UP NYA JARANG GAK ASIK AH' MANGGA NUNGGU END AJA BACANYA YA BIAR PUAS🙏🙈

__ADS_1


MARHABAN YA RAMADHAN**


__ADS_2