
Davyn tengah menikmati makan malam bersama putri serta menantunya, dan juga Joko sang sopir. Setelah siang hingga sore tadi pria paruh baya itu sibuk mengomeli menantunya, yang mengakibatkan dirinya kesasar ke kebun terong- dan setelah puas beristirahat Davyn akhirnya bisa menikmati masakan menantu semata wayangnya yang lumayan enak.
Dan tentunya tidak ada campur tangan Delila, karena setahunya anak gadisnya hanya membantu memotong bahan bahan makanan tidak ikut mengolah.
"Jadi, gimana, sudah dapat apa yang kamu cari disini?" Davyn membuka suara setelah menyelesaikan makan malamnya. Bola mata pria itu menatap pada anak menantunya yang masih menikmati makanannya.
"Sudah Pa," sahutnya singkat.
Ekor mata Baron melirik ke arah Delila yang masih menyantap potongan buah alpukat. Istrinya terlihat santai dan enggan menatap ke arahnya maupun sangat Papa.
"Memangnya apa yang kamu cari disini? Apa disini masih ada keluarga kamu? Papa mau ketemu sama mereka,"
Davyn kembali bersuara, pria itu terus saja menatap lekat pada Baron. Perlahan Davyn menyandarkan punggungnya di kursi, jujur saat ini sekujur tubuhnya sakit dan juga pegal akibat perjalanan jauh. Ingin rasanya dia segera merebahkan punggung tuanya di kasur, walaupun malam ini dan mungkin beberapa malam kedepan dirinya tidak tidur ditemani Kirana sangat istri.
Davyn tidak yakin dirinya bisa memejamkan kedua mata dan tidur lelap sementara guling hidup kesayangannya tidak dia bawa.
"Enggak ada," lagi lagi jawaban yang Baron berikan cukup singkat dan hanya menyisakan helaan napas kasar mertuanya.
"Papa mau nelpon Mama kalian dulu, udah itu langsung tidur. Encok Papa kayaknya kumat nih,"
Davyn bangkit, pria paruh baya itu terlihat memegangi pinggangnya yang terasa kaku dan kebas. Kedua kakinya membawa dia menuju salah satu kamar yang ada di rumah itu.
"Saya juga mau pamit Non, Den. Pinggang saya juga kayaknya kena encok sama kayak Pak Boss." Joko ikut bangkit, pria yang usianya beberapa tahun dari Baron terlihat berjalan lesu, rasa kantuk dan lelah semakin menyerangnya. Dia berjalan menuju kamar yang tidak jauh dari kamar yang di tempati oleh majikannya.
Selepas kepergian kedua orang itu, Baron pun ikut bangkit. Pria berkaos tanpa lengan itu terlihat menumpuk piring kotor dan meletakkan nya di meja.
__ADS_1
"Gak usah di beresin sekarang, besok pagi aja. Gue mau tidur, besok pagi ada yang harus gue urus."
Baron melenggang pergi setelah mengatakan hal itu. Dia tidak lagi menoleh pada Delila yang sudah menghabiskan buah alpukatnya. Sang gadis terlihat mengangkat kepala, kedua matanya menatap lekat pada punggung lebar suaminya dengan dahi mengerut.
"Aku tidur dimana?"
Pertanyaan yang Delila lontarkan sontak membuat langkah Baron terhenti. Pria itu perlahan berbalik, mata lelahnya menatap datar pada gadis yang masih terdiam ditempatnya. Karena setahunya hanya ada tiga buah kamar yang bisa di tempati di rumah ini, jadi malam ini dirinya tidur dimana? tidak mungkinkan kalau dengan Davyn- Papanya.
"Tidur sama gue lah. Mau dimana lagi? Apa lo mau tidur di kamar yang masih berantakan kayak gudang di belakang?" cetus nya sedikit kesal.
"Serius?" Delila berbinar dibuatnya.
Bahkan gadis itu segera beranjak dari duduknya, berlari kecil mendekat pada pria yang menjadi suaminya beberapa bulan ini. Baron mengangguk sebagai jawaban, setelah itu dia kembali melangkah tenang diikuti oleh Delila dengan wajah riangnya.
"Aku tidur dimana? Disini gak ada sofa atau kar-,"
"Lo gak liat tuh ranjang segede gaban?"
Bibir Delila terjatuh rapat, dia mengerucut kesal sembari melihat Baron sudah berada diatas tempat tidur dan mulai membaringkan tubuhnya. Delila dapat melihat kedua mata suaminya terpejam, sepertinya Baron cukup lelah hari ini hingga tidak kuat lagi menahan kantuk.
"Mau sampe kapan lo berdiri di situ?"
Delila tersentak, kedua mata bulat gadis itu mengerjap cepat. Dengan ragu dia melangkah mendekat pada Baron, helaan napasnya terdengar saat dirinya sudah berdiri ditepian tempat tidur.
"Tidur! Mau sampe pagi lo berdiri. Jangan ngereog kalo tidur, yang anteng!"
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu tidak ada lagi suara yang terdengar dari bibir Baron. Pria itu sudah mulai memasuki alam mimpinya, bahkan saat Delila mulai naik ke atas tempat tidur dengan perlahan dan hati hati, sudah tidak ada lagi pergerakan yang berarti.
'Langsung tidur aja nih, kagak ada acara yang lain gitu?' gerutu Delila dalam hati, berharap sesuatu yang lebih dari ini.
Dia sudah merebahkan dirinya di dekat Baron, matanya yang memaksa terpejam terlihat mengintip guna memastikan sesuatu. Hingga akhirnya tangannya terasa gatal, perlahan Delila menggeser tubuhnya agar mendekat pada Baron. Tangan mulusnya terulur untuk memeluk tubuh besar yang saat ini sudah terlelap sembari terlentang.
"Jangan mulai Delila!" gumam Baron terdengar lemah.
Rasa kantuk yang menyerangnya semakin berat, namun dia masih bisa merasakan apa yang ada disekitarnya saat ini.
"Peluk doang gak macem macem. Aku takut kilat, kayak mau ujan." Delila pun terdengar bergumam. Satu tangannya mendekap tubuh Baron posesif, bahkan tanpa sadar kakinya sudah membelit kedua kaki Baron.
Karena sudah terlelap, Baron sama sekali tidak menyahut apa lagi menyingkirkan Delila dari tubuhnya. Kedua anak manusia itu kian memasuki alam mimpi, Delila sampai mendengkur pelan saking lelapnya. Hadirnya Baron disisinya membuat kwalitas tidurnya meningkat, termasuk Baron juga.
Pria itu seakan mati, tidak ada pergerakan yang berarti saat Delila menguasai tubuh lelahnya. Bahkan saking lelapnya seluruh penghuni rumah, mereka tidak dapat mendengar atau pun menyadari kalau saat ini ada beberapa orang ber penutup wajah tengah membobol jendela rumah.
"Inget pesen orang itu, bawa si cewek hidup hidup jangan sampe ketahuan!" titahnya.
"Beres! Jangan lupa bayaran kita di tambah juga."
Dia tidak menyahut, kedua matanya kembali fokus menatap orangnya yang saat ini sudah berhasil membobol jendela untuk jalan masuk.
yakin mas Baron kuat nahanππππ
__ADS_1