ISTRI TENGIL TUAN AGAM (Musuh jadi Menantu)

ISTRI TENGIL TUAN AGAM (Musuh jadi Menantu)
Bab 53


__ADS_3

Setelah mengakhiri panggilannya dengan Marsha, sikap Daniel mendadak menjadi kaku. Ia masih merasa malu pada Alana karena pipi tampannya telah di cium olehnya. Sedangkan Alana sikapnya malah terlihat biasa saja. Ia bahkan tidak bersikap malu-malu kambing seperti Daniel padanya.


Daniel yang sedang mengerjakan pekerjaannya mengintip Alana sedikit, pandangannya memang tertuju pada laptop tapi sekali - sekali ia melirik Alana.


' Astaga, aku tidak menyangka jika bibirnya yang cerewet itu tadi menempel di pipiku ' gumam Daniel dalam hati, tanpa sadar ia menyentuh pipinya yang tadi di kecup oleh Alana. Masih sangat terasa bibir kenyal itu menempel di pipinya hingga saat ini.


Alana pun melihat sekilas jika Daniel sedang memegang pipinya dengan pandangan kosong. Alana terlihat berpikir apa mungkin wajahnya masih terasa sangat sakit akibat p u k u l a n dari Agam. Ia jadi merasa tidak enak pada Daniel.


"Apa pipimu terasa sakit ?" Tanya Alana, namun Daniel belum bergeming dan masih betah dengan posisinya konyolnya yaitu memegang pipi sambil melamun.


"Isshh....kenapa beruang kebun itu hanya diam saja. Oh ya aku panggil apa ya dia. " gumam Alana yang masih melihat ke arah Daniel.


"Kak, " panggilnya


"Astaga mulutku sampai bergetar memanggilnya Kakak" ucap Alana, namun yang di panggil masih anteng saja melamun.


"Baiklah, Kakak....Kak Daniel...!!!" panggil Alana dengan sangat kencang. Hingga Daniel pun terkejut dan langsung melihat ke arah Alana.


"A-ada apa, kenapa berteriak aku tidak tuli " jawab Daniel sambil melihat ke arah laptopnya lagi untuk menghilangkan kegugupannya saat melihat Alana.


"Apa pipimu masih sakit ?" Tanya Alana. Daniel langsung melihat ke arah Alana.


"Sakit ?"


"Wajahmu masih terlihat lebam gara-gara Kakak-ku, dimana kotak p3k nya biar aku bantu obati " ucap Alana.


"Di sana " tunjuk Daniel pada sebuah lemari kecil , Alana pun berdiri dan mengambil kotak obat itu untuk mengobati Daniel. Setelah itu ia duduk di samping Daniel tanpa merasa canggung atau pun malu pada rivalnya itu.

__ADS_1


"Dekat kan wajahmu, " ucap Alana.


"Apa ?"


"Maksudku, agak menunduk sedikit karena kau sangat tinggi" ucap Alana.


"Bukan aku yang tinggi tapi kau yang pendek " jawab Daniel sambil memalingkan wajahnya karena ia merasa gugup melihat wajah Alana dari dekat.


"Kemarikan aku obati saja sendiri wajahku" ucap Daniel sambil mengambil kotak itu dari Alana namun Alana tidak memberikannya.


"Sudahlah diam, atau aku akan menekan luka mu itu biar tambah sakit ! " ketus Alana.


"Apa kau tidak bisa bersikap manis sedikit saja " Daniel menggeleng-gelengkan kepalanya melihat istri kecilnya yang galak ini.


"Aku bukan gula, jadi jangan pernah berharap aku akan bersikap manis ! " ucapnya lagi dengan kesal.


Alana mulai mengoleskan salep ke wajahnya untuk mencegah pembengkakan dan juga meredam rasa sakitnya. Wajah cantik Alana kini terlihat sangat dekat, sungguh pemandangan yang indah pahatan dari yang Maha Kuasa ini memang terlihat sempurna di mata Daniel.


' Dia sangat cantik, bibirnya juga sangat indah tapi kenapa jika berbicara terdengar seperti suara petasan sunat sangat berisik' batin Daniel.


Daniel diam dan menurut saja pada Alana dari pada lukanya malah di tekan olah Alana hingga ia merasa sakit lagi bahkan mungkin bengkak.


"Ya ampun wajahmu terlihat seperti mochi yang sudah dikunyah " ucap Alana sambil tertawa, namun Daniel hanya berdecak sebal saja pada Alana.


"Memangnya ini gara-gara siapa ?" Tanya Daniel.


"Maaf..." ucap Alana dengan tulus.

__ADS_1


' Kenapa dia jadi merasa bersalah seperti itu, wajah singanya berubah lagi menjadi kucing imut. Aku masih belum paham dengan sikap ulat nakal ini ' batin Daniel.


"Sudahlah, tidak usah dibahas lagi mungkin sudah takdirnya seperti ini " ucap Daniel.


"Benar juga, mungkin memang sudah takdirnya harus seperti ini. " gumam Alana


"Jadilah istri yang baik, jangan nakal dan jangan membuat ulah" ucap Daniel.


"Jangan cerewet, aku bukan anak kecil yang harus terus kau nasihati" ketus Alana.


*


*


Sementara di rumahnya kini ia sedang merias diri dan menggunakan hadiah yang diberikan oleh Naura yaitu sebuah pakaian dinas . "Mamah bilang kalau aku memakai ini maka Kak Agam akan semakin mencintaiku " ucapnya sambil tersenyum senang dan memakai pakaian berbentuk saringan yang diberikan oleh Naura.


"Ya ampun aku terlihat seperti orang yang akan memancing ikan " ucapnya sambil tersenyum terbahak karena bahan pakaian itu terlihat seperti sebuah saringan untuk menangkap ikan. Namun saat sedang tertawa sebuah lengan kekar melingkar di pinggang kecilnya.


"Kau memang terlihat seperti sedang memancing, tetapi memancing keinginanku " ucap Agam sambil menyingkirkan rambut panjang Alyra dan mengecup leher putih dan jenjang itu.


"Aihhh Kak Agam..." ucapnya sambil merasakan sentuhan-sentuhan Agam padanya. Namun sedetik kemudian Agam malah merobek pakaian itu hingga Alyra terkejut.


"Kak Agam ! Kau merusak hadiah dari mamah" ucap Alyra, sambil memukul pelan bahu Agam, karena kini Agam sedang menelusuri sumber kesenangannya.


"Nanti aku akan menggantinya " ucap Agam sambil membungkam bibir kecil itu. Alyra pun pasrah saja dengan apa yang dilakukan oleh Agam padanya. Memangnya harus bagaimana lagi, ia sangat suka jika suaminya menyentuhnya.


***

__ADS_1


Udah 2 bab nihhh 😚😚😚 likenya jangan lupa 💃💃💃


__ADS_2