ISTRI TENGIL TUAN AGAM (Musuh jadi Menantu)

ISTRI TENGIL TUAN AGAM (Musuh jadi Menantu)
Bab 65


__ADS_3

Sejak mendapat panggilan dari orang yang tidak ia kenal, hidup Marsha menjadi tidak tenang. Di kantor pun ia tampak selalu melamun saja. Apalagi jika melihat Agam jantungnya terasa semakin berdegup kencang. Ia sangat takut sekali jika ia sampai ketahuan oleh Agam jika ia yang sudah membuat istrinya terluka. Namun nyatanya, Agam bersikap seperti biasa saja saat melihatnya. Tampak datar dan tidak peduli.


Jika Agam bersikap seperti itu berarti memang ia belum mengetahui penyebab celakanya adik dan juga istrinya. Karena yang ia tahu tentang Agam, ia tidak akan pernah melepaskan orang yang sudah membuat orang-orang tersayangnya terluka.


"Marsha," panggil Agam. Marsha yang tampak melamun pun sangat terkejut mendengar Agam memanggilnya.


"I-ya, ada apa ? Tanya Marsha.


"Aku minta laporan secepatnya, kenapa kau sangat terkejut aku memanggilmu ?" Tanya Agam mengernyit heran saat melihat wanita yang pernah ia cintai itu terjingkat kaget saat dipanggil olehnya.


"I-itu, karena aku sedang melamun maaf " jawab Marsha sekenanya. Ia berpikir jika seharusnya ia tidak boleh memperlihatkan ketegangan saat bersama dengan Agam. Karena itu bisa membuat Agam curiga.


"Hmm... Fokuslah " ucap Agam sambil berlalu pergi, Marsha pun hanya menghela napas kasar saja. Dan segera melakukan perintah Agam.


*


*


Sejak Daniel menciumnya, tingkah Alana menjadi pendiam, ia merasa sangat malu karena ia di cium dalam keadaan berantakan dan tidak cantik menurutnya. Padahal di mata Daniel ia selalu terlihat sangat cantik bagaimana pun keadaannya.


Malah semalaman Daniel tak beranjak dari samping Alana, ia terus menjaga istrinya itu. Walaupun tidak ada kata yang terucap tapi Alana sangat merasakan jika Daniel sangat mengkhawatirkannya.


' Kenapa jantungku jadi berdegup kencang begini, detakannya benar-benar tidak normal saat dekat dengannya ' batin Alana.


Daniel kini sedang menyiapkan makanan yang di bawa suster untuk Alana. Alana terus memperhatikan suaminya ini.


"Ayo makanlah," ucap Daniel sambil menyuapkan satu sendok makanan pada Alana.


"Aki bisa makan sendiri" Jawabnya karena jujur saja Alana masih merasa sungkan pada Daniel, padahal ia adalah seorang gadis yang sangat suka dimanja. Tapi sikap Daniel padanya membuat ia menjadi sangat gugup dan ia merasa tidak nyaman jika disuapi oleh Daniel.


"Sudahlah aku akan menyuapimu, kau tinggal membuka mulutmu dan kunyah saja " ucap Daniel, sama sekali tidak ada romantis-romantisnya. Alana mencebikkan bibirnya saat melihat sikap Daniel yang ia harapkan akan membujuknya dengan sangat manis. Nyatanya bicaranya sangat hambar. Alana pun membuka mulutnya dan menerima suapan dari Daniel.


"Mudah kan, ?"

__ADS_1


"Jangan cerewet !" Ketus Alana.


"Jangan menggodaku, ini masih di rumah sakit " ucap Daniel yang gemas melihat wajah Alana yang sedang marah.


"Aku marah padamu, bukan menggodamu dasar beruang kebun !" jawab Alana dengan mulut penuh oleh makanan.


"Cepatlah sembuh, aku ingin segera membawamu pulang"


"Isshh, aku juga tidak mau sakit tahu. Dan aku juga ingin cepat pulang "


"Berarti perasaanmu sama denganku?" Tanya Daniel


"Maksudmu, ?" Tanya Alana yang jujur saja ia tidak mengerti.


"Kau ingin cepat pulang karena kau ingin bermesraan denganku ?" Tanya Daniel dengan wajah tersenyum jahil.


"Enak saja kau, siapa yang mau bermesraan denganmu " Alana memalingkan wajahnya karena merasa malu dengan ucapan Daniel. Namun Daniel tersenyum saat melihat gadis galaknya yang terlihat malu-malu padanya.


*


*


Tapi Papanya Rio sangat mengkhawatirkannya, ia merasa tidak tenang putrinya ditinggalkan sendirian di rumah. Padahal di rumahnya ia tidak sendiri karena da Art yang membantunya mengerjakan pekerjaannya di rumah.


Karena ingin memastikan keadaan anaknya baik-baik saja, akhirnya Rio pergi ke rumah Alyra. Di sana Alyra sedang duduk manis sambil melihat ponselnya. Rio tersenyum melihat putrinya baik-baik saja.


"Alyra," panggil Rio, mendengar suara papa nya Alyra pun langsung melihat ke arah Rio, ia tersenyum senang karena papanya datang menemuinya.


"Papa, " ucap Alyra dan hendak bangun untuk memeluknya.


"Eits, duduk saja sayang biar Papa yang menghampirimu" ucap Rio dan segera menghampiri anaknya dan memeluknya.


"Bagaimana kabarmu ?"

__ADS_1


"Aku sudah sehat, lukanya tinggal sedikit lagi " ucap Alyra sambil memperlihatkan luka di kakinya yang mulai mengering.


"Syukurlah papa senang mendengarnya, tapi seharusnya suamimu itu jangan dulu bekerja. Harusnya dia menjagamu sampai sembuh" ucap Rio dengan kesal.


"Sudahlah jangan terlalu manja, Kak Agam juga sebenarnya tidak mau bekerja tapi aku yang memaksanya pergi " ucap Alyra.


"Kenapa kau malah menyuruhnya bekerja, kau ini "


Sebenarnya Alyra memang sengaja menyuruh Agam untuk pergi bekerja. Karena jika ia berada di rumah maka Agam akan terus meminta jatah aye-aye padanya. Dan Alyra tidak mungkin memberitahukan itu pada Papanya. Bisa-bisa burung gagah milik suaminya akan di pangkas oleh Rio.


"Sudahlah, Kak Agam itu kan seorang kepala keluarga dia harus mencari nafkah memangnya Papa mau anak Papa ini kekurangan uang " ucap Alyra.


"Ada uang Papa, masih banyak kau tidak perlu khawatir"


"Uhhh dasar, teh celup sombong"


*


*


*


Malam ini Marsha baru keluar dari kantor karena ia lembur. Ia berjalan dengan gontai karena tubuhnya terasa sangat lelah. Ia berjalan perlahan ke apartemennya namun ia terkejut karena tiba-tiba ada yang membekapnya dari belakang. Dan memaksanya masuk ke dalam sebuah mobil.


"Lepaskan aku !!! "


"Diam !!!, kalau kau tidak mau pisau ini melukai wajah cantikmu !" Ancamnya dengan tegas.


"S-siapa kau, ? Tanya Marsha dengan takut. Pria yang yang menahan tubuhnya ini belum terlihat jelas wajahnya ini karena suasana mobil yang gelap. Namun perlahan ia menatap ke arah Marsha.


"Aku adalah calon suamimu, " jawabnya santai sambil tersenyum jahat.


"Apa...!!!"

__ADS_1


****


Maafkan belum maksimal up nya ya, karena Mimin masih sakit 🤕🤕🤕


__ADS_2