Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)

Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)
Bab 9


__ADS_3

Arnetta melangkahkan kakinya pelan menyusuri lorong rumah sakit. Siang ini setelah tubuhnya pulih dengan baik, ia memutuskan untuk menjenguk ibunya. Perlakuan yang diberikan Jullian sudah dianggapnya sebagai angin lalu. Meski hatinya perih, namun ia harus bertahan. Arnetta yakin setelah ini mungkin akan ada siksaan tak terduga lainnya yang akan dilakukan Jullian.


Seharusnya ia bisa saja berontak, bukan?


Ya, seharusnya ia bisa melakukannya. Namun, ibunya membutuhkan uang untuk kesembuhannya. Untuk itu, ia rela tubuhnya hancur demi keselamatan Ratih, sang ibu. Hanya wanita itu yang ia punya di dunia ini sekarang.


Anggap saja apa yang terjadi padanya adalah ucapan terima kasih atas bantuan lelaki itu pada ibunya. Melihat bagaimana sang ibu sudah dipindahkan ke ruangan intensif, Arnetta bisa bernapas lega. Ia sudah cukup menyenangi kehidupannya selama ini. Kini tinggal dirinya yang harus berusaha, meski tubuhnya hancur sekalipun.


Arnetta menarik napas panjang setibanya didepan pintu ruangan rawat Ratih. Ia tak boleh memperlihatkan raut wajah yanh membuat ibunya khawatir. Yang terpenting saat ini adalah kesembuhan sang ibu. Itu prioritasnya saat ini.


Pelan, ia pun membuka pintu rawat sang ibu yang langsung menampilkan sosok wanita yang terbaring diatas ranjang rumah sakit. Kepalanya yang menghadap ke jendela sudah memberikan jawaban padanya apa yang dilakukan ibunya saat ini. Ratih sudah terbangun dari tidurnya. Sekarang, giliran Arnetta yang harus menyambutnya dengan baik.


"Ibu ..."


Dari gerakannya, Arnetta tahu jika Ratih tidak benar-benar tertidur. Terlihat beberapa saat kemudian wanita paruh baya itu menoleh ke arahnya. Senyuman tak lupa diperlihatkan ibunya dari wajah lelahnya.


"Kau sudah datang, Nak?"


Arnetta berjalan mendekati sang ibu. Betapa batinnya sebagai seorang anak sangat tersiksa melihat ibunya yang terbaring lemah, sementara dirinya tak bisa berbuat apa-apa. Ingin rasanya Arnetta menggantikan posisi itu dengannya. Biarkanlah dirinya yang sakit asalkan Ibunya baik-baik saja.


"Aku akan selalu datang, Bu." Ucapnya parau.


Ratih mengangkat tangannya menyentuh wajah Arnetta dengan lembut. Meski sulit untuk melakukannya, ia tetap ingin menyentuh anak semata wayangnya itu. Namun, senyumnya memudar kala menyadari ada sesuatu yang salah pada wajah itu.


"Kenapa ini?" Ucapnya saat tangannya mengusap salah satu sudut bibir Arnetta yang terdapat darah kering disana. Kala tangannya menyentuhnya, Arnetta pun meringis.


Dengan segera, wanita itu menjauhkan tangan ibunya dari wajahnya. Ia tak bisa mengatakan yang sebenarnya atas luka itu. Ibunya pasti akan sangat menderita jika sampai tahu apa yang terjadi dengannya semalam. "Tidak apa-apa. Hanya terluka saat bekerja, Bu."

__ADS_1


Ratih tidak serta-merta mempercayai apa yang diucapkan Arnetta. Dulu, saat putrinya itu berbohong akan pekerjaannya sebagai pelayan club malam, ia bisa membaca gerak-gerik itu darinya. Kini hal yang sama terulang kembali hingga membuat batinnya cemas.


"Ibu harap itu bukanlah alasan kebohonganmu, Neeta."


Arnetta menggeleng lemah sembari tersenyum. Meski ia tahu ibunya pada membaca peringainya, ia takkan pernah bicara jujur. Bagaimana pun ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada ibunya tentang kejadian semalam. Terlalu fatal akibatnya jika sampai ibunya tahu bahwa semalam ...


Ah, Tidak!


Itu sudah merupakan kewajibannya untuk membalas kebaikan Jullian. Lelaki itu pantas memperlakukannya seperti itu, karena memang ia sudah berhutang banyak. Kalau bukan karena Jullian, mungkin Arnetta sudah tak lagi melihat ibunya bernapas. Selama lelaki itu mau membayarnya, Arnetta akan melakukan apa saja. Ya, apa saja asalkan ibunya tetap bertahan disisinya.


"Bu, bertahanlah demi Arnetta. Arnetta sangat sayang sama ibu. Cuma ibu yang Arnetta punya. Kalau sampai terjadi sesuatu pada ibu, Arnetta sudah tidak memiliki alasan lagi untuk hidup di dunia ini." Ucapnya parau, yang ia yakini takkan didengar oleh Ratih, karena wanita paruh baya itu sudah jatuh tertidur dalam singgahsananya.


***


Sepasang intan kelam itu tengah memandangi sosok ringkih yang berjalan ke arah rumahnya. Langkahnya yang pelan seolah tengah memperlihatkan bagaimana buruknya kondisi wanita itu. Tak seperti wanita normal lainnya, Arnetta yang ia tahu baru saja menjenguk ibunya berjalan terseok. Entah apakah itu karena wanita itu pergi cukup jauh atau karena perlakuannya semalam.


Masih segar dalam ingatannya letupan perasaan bahagia saat mereka saling mengutarakan perasaan di dalam bianglala. Untuk kali pertama Jullian mengakui bahwa jatuh cinta itu indah. Membuat raganya seolah terlahir kembali. Rasa semu yang seharusnya tak ia rasakan dulu telah membutakan akal sehatnya.


"Tuan, Nona Arnetta sudah kembali."


Suara bibi Maria yang berasal dari balik punggungnya menyentak bayangannya tentang wanita itu. Ia tak mampu bergerak membalikkan tubuhnya. Ia tahu wanita tua itu sejak tadi memperhatikannya melihat kepulangan Arnetta. Hanya saja, Jullian terlalu gengsi menunjukkan rasa sakit kala mengingat kejadian lima tahun silam.


"Jika anda bertanya bagaimana pendapat saya tentang kejadian dulu, saya akan mengatakan hal yang sama. Bagi saya Arnetta adalah wanita baik-baik." Ujarnya tenang. Maria mungkin menjadi satu-satunya orang yang tidak mempercayai bukti yang diberikan Lusi saat itu, mengingat betapa bahagianya Jullian dan wanita itu saat berkencan bersama. Ia melihat sendiri bagaimana perasaan wanita itu kepada Tuannya.


"Tidak ada wanita baik-baik yang akan membuka kakinya bagi semau pria." Sahut Jullian ketus. Ia pun segera berbalik dan menangkat dagunya tinggi-tinggi.


"Katakan padanya untuk menunggu di kamar 'khusus'nya. Sudah waktunya ia bekerja untukku."

__ADS_1


Maria sudah tak terkejut lagi. Ia hanya menganggukan kepalanya pelan. Sekeras apapun ungkapkan yang ia utarakan pada aank asuhnya itu, Jullian akan tetap pada pendiriannya sampai melihatnya dengan mata dan kepala sendiri. Maria hanya tak ingin jika dikemudian hari Tuannya akan menyesali keputusannya, karena waktu yang telah berlalu takkan bisa berputar mundur kembali.


***


Arnetta duduk gelisah diatas tempat tidurnya. Ia menautkan jemarinya yang dingin dengan erat. Setelah semalam, ini adalah kali pertama ia kembali bertemu dengan Jullian. Seorang wanita tua baru saja mengatakan bahwa Jullian memintanya untuk menunggu disini, didalam kamar yang menjadi saksi bisu kesakitan yang ia alami. Membayangkan kejadian semalam membuat Arnetta hanya bisa tersenyum kecut. Tidak ada yang mampu membayangkan jika berada di posisinya. Sosok yang ia kira akan membantunya sepenuh hati, ternyata tetap meminta imbalan. Ya, seharusnya ia tetap berpegang teguh pada prinsip bahwa, tidak ada yang gratis di dunia ini.


Sama halnya seperti orang lain, Jullian pun menginginkan sebuah imbalan atas kebaikannya meminjamkan uang kepadanya.


"Rupanya jalangku sedang berpikir."


Suara bariton itu langsung menyentak tubuh Arnetta. Wanita itu langsung menunduk setelah bertemu pandangan dengan wajah sinis milik Jullian dalam sekejap. Entah mengapa tekadnya untuk kembali menatap wajah itu ciut setelah mendengar nada sindiran darinya. Tubuhnya nyaris mundur hingga akhirnya menahan diri gemetaran.


Jullian berjalan ke arah Arnetta yang terdiam di atas ranjang sambil menunduk. Ia suka ketika melihat wanita ini tak berdaya. Sudah seharusnya orang yang berani menyakiti perasaannya harus dihukum seberat-beratnya. Baginya Arnetta tidak pantas untuk menghancurkan perasaannya. Wanita miskin yang rela melakukan apa saja demi uang sekalipun menjual tubuhnya, hanyalah sampah baginya.


"Jadi, bagaimana dengan kejadian semalam? Apa kau sudah mengerti pekerjaanmu untuk menebus semua hutangmu padaku?" Tanyanya ketus.


Jemari Arnetta bertaut semakin erat sampai buku jarinya memutih. Wanita itu menahan giginya yang gemetaran didalam mulutnya. Tiba-tiba saja tubuhnya seperti menggigil mendengar suara Jullian yang kini berdiri dihadapannya.


"A-aku s-sudah m-mengerti."


Jullian menyeringai lebar menyadari ketakutan wanita itu. Entah kemana perginya sosok yang tadi pagi berusaha kuat menceritakan bahwa dirinya pernah diperkosa. Dipikirnya, Jullian akan merasa kasihan. Tidak, Jullian sudah tahu peringai buruk wanita ini.


'GREB'


Jullian menarik paksa dagu Arnetta agar memandanginya lekat-lekat. Ia pun memperhatikan luka yang masih bersarang disudut bibir wanita itu. Ia yakin dirinya takkan pernah mengasihani wanita ini. Sosok yang telah menghancurkan perasaannya. Pantulan dirinya dibalik sepasang intan hitam yang melihatmya dengan raut ketakutan takkan mempengaruhinya sedikit pun. Ia tak mau Arnetta kembali menguasainya dan memberikannya kesempatan untuk kembali menyakiti hatinya.


"Kalau kau sudah mengerti, maka akan kuingatkan kembali posisimu dirumah ini. Kau lebih rendah dari pegawaiku, pembantuku, bahkan peliharaanku. Kau,  hanyalah wanita yang akan membuka selangkanganmu untukku. Jika sampai kau berani melawanku, maka aku akan menghancurkanmu dan ibumu. Dan, jika  aku mendapati kau hamil, maka aku akan menjadi orang pertama yang akan menghabisi janin itu. Kau paham?"

__ADS_1


Kedua mata wanita itu panas. Air mata sialan yang entah datang dari mana berhasil memburamkan pandangannya pada wajah itu. Ia tahu hidupnya bahkan tidak lebih berharga dari seekor binatan peliharaan dimata Jullian. Ia sudah tidak bisa memilih sendiri kehidupannya. Itu sudah menjadi keputusannya sejak awal, bahwa ia akan menjadi budak lelaki ini demi keselamatan ibunya. Meskipun ia harus hidup seolah dirinya sudah mati.


__ADS_2