Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)

Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)
Bab 36


__ADS_3

Seorang wanita tampak mematutkan dirinya di depan cermin. Bayangan cermin yang terpantul ke arahnya menampilkan seroang perempuan bertubuh mungil, tapi dengan perutnya yang tampak sudah membesar. Ya, wanita itu sedang hamil besar. Menjelang Trimester kedua wanita itu sudah mengalami banyak perubahan pada tubuh dan hormonnya. Yang paling penting adalah siklus kehidupannya.


Siapa yang bisa menyangka jika kehidupan berat yang dulu pernah ia jalani berubah sangat drastis begitu ia menemukan 'rumah' untuk pulang. Seorang pria asing sudah berhasil mengubah hidupnya sedemikian rupa hingga ada seberkas cahaya semangat hidup dalam dirinya. Semula ia pikir cahaya itu takkan pernah datang. Takkan pernah ada semangat lagi dalam hidupnya. Namun, perlahan Tuhan seperti sedang menunjukkan bahwa pasti ada cahaya setelah kegelapan.


Beberapa bulan ia sudah jalani dengan sempurna. Rasanya mimpi untuk hidup tenang telah ia dapatkan. Andai ibunya masih ada di sini, mungkin mereka akan menyambut kehamilannya dengan penuh suka cita. Meskipun kehadiran anak ini tak pernah ia harapkan, tapi wanita itu tidak pernah membencinya.


"Sudah siap Reva ?"


Seorang pria bertanya dari balik pintu kayu yang terdengar. Tak lama suara pintu kayu berderit pun terbuka dan menampilakn kepala pria yang selama ini telah menjadi seorang figur ayah dan suami yang sempurna, biapun hanyalah suami palsu.


Wanita yang dipanggil Reva itu membalikkan tubuhnya dan bertatapan dengan Patrick, sosok pria yang selama ini sudah banyak membantunya. Selama kehamilannya hingga sampai hari ini sudah memasuki usia enam bulan, Patrick selalu berada di sisinya. Menemaninya kala dirinya mengalami gejolak hormon yang hebat. Tak hanya itu saja, Pria itu pun bersedia untuk memenuhi fase mengidamnya yang hampir tak masuk akal.


"Sepertinya kau sangat semangat sekali hari ini." Cibir Reva yang terlihat geli melihat Patrick yang sudah kembali se siang ini dari rumah sakit.


Pekerjaanya sebagai seorang dokter kejiwaan di hampir empat rumah sakit membuat pria itu hampir tidak bisa menyempatkan dirinya untuk pulang di bawah jam 12 siang. Namun jika hal itu berurusan dengan jadwal kontrol kehamilan Reva, Patrick seperti memiliki seribu cara untuk menghilang dari rutinitasnya yang padat itu. Adalah hal mustahil melihat Patrick pulang ke rumah secepat ini.


Patrick terkekeh geli. Sama halnya dengan perasaan wanita itu, ia pun merasa aneh dengan dirinya. Ia begitu bersemangat pada setiap jadwal kontrol bulanan mereka. Hampir setiap saat jika itu berurusan dengan Reva, ia akan berusaha sebisa mungkin untuk menyempatkan dirinya mengosongkan waktu.

__ADS_1


"Aku harus menjadi yang paling pertama melihat jenis kelamin si kecil."


Reva dan Patrick sepakat untuk memanggil janin yang di kandungnya dengan sebutan si kecil. Setidaknya sampai keduanya tahu jenis kelamin si jabang bayi. Dan hari ini adalah saatnya mereka bisa mengetahui jenis kelamin si jabang bayi. Dan pria itu adalah sosok yang paling antusias sejak pertama kali mereka memeriksakan kandungannya.


Arnetta ingat pertama kali pria itu menemaninya untuk memeriksakan kandungannya, semua ibu-ibu yang ikut mengantri di ruang tunggu bersamanya mengira Patrick adalah suaminya. Bahkan tak jarang Arnetta mendengar bisikan yang mengatakan Patrick adalah sosok suami idaman yang tidak pernah absen menemaninya ke dokter kandungan. Hal itu bukannya membuat Patrick merasa risih, namun pria itu malah mengamini semua tuduhan yang mengarahkan bahwa dirinnya adalah ayah si jabang bayi.


Semula Arnetta bermaksud untuk meluruskan dengan mengatakan kalau Patrick hanyalah sanak saudaranya. Jujur saja ia tak tega melihat Patrick yang masih lajang harus di cap sebagai seorang calon ayah. Bisa saja ada wanita lain yang pria itu sukai dan kehadirannya bisa saja menjadi penghalang. Namun, lagi-lagi Patrick tak mau menepisnya. Pria itu malah semakin menunjukkan bahwa dirinyalah sang suami dan ayah yang sesungguhnya. Sungguh, Arnetta semakin tak enak hati dengan semua kebaikan yang ia terima.


Setiap kali Arnetta mencoba untuk meluruskan dan mengeluhkan perasaannya, Pria itu hanya mengatakan,


"Tidak masalah mereka menganggapku suamimu sekaligus ayah dari bayi yang kau kandung. Aku senang melakukannya. Toh, nantinya anak itu harus memanggilku ayah sebagai bentuk rasa cintaku padanya."


"Siap pergi melihat si kecil kita ?" Tanya Patrick sambil mengulurkan tangannya pada Reva.


Wanita itu pun hanya tersenyum lembut melihat tangan besar yang selalu memberikannya kehangatan dan tempat untuknya berpulang. Kalau saja malam itu ia tidak bertemu dengan Patrick mungkin takdirnya takkan seindah ini. Memiliki seseorang yang mau menerima kondisinya apa adanya adalah hal yang sangat ia syukuri.


"Ayo!" sahut Arnetta sambil membalas genggaman tangan itu. Hal yang entah sejak kapan sudah tidak lagi memiliki perasaan canggung di antara mereka. Malah, Arnetta mampu merasakan kenyamanan yang telah lama ia tidak lagi rasanya.

__ADS_1


Rasa nyaman dari seorang pria yang seakan mampu melindunginya dan memberikannya kehangatan dengan sepasang tangan besarnya itu.


**


Seorang pria tampak berdiri membelakangi pintu ruangan yang besar kala seseorang yang sudah lama meminta izin masuk ke dalam menghampirinya. Punggung besar itu tampak kokoh dan terkesan dingin bagi siapa saja yang melihatnya secara langsung. Tidak ada sambutan hangat bagi siapa saja yang berhadapan dengan sosok itu.


Sejak awal pria itu memang terkenal berhati dingin. Akan tetapi semakin tidak beperasaan sejak beberapa bulan yang lalu. Tidak ada yang menyadari perubahannya selain orang di sekitarnya. Perubahan yang semakin mengarah ke arah yang tidak baik itu semakin menjadi setiap harinya kala semua orang yang ia berikan tugas tak pernah membawakan hasil yang ia inginkan. Hari ini ia berharap jika hasil yang ia mau bisa di dengarnya sesegera mungkin. Sudah lama sejak ia menantikan hasil laporan dari pemantauan sosok yang sudah lama pergi itu datang.


"Permisi pak, kami sudah menemukan titik terang. Satu bulan yang lalu ada seorang kasir supermarket yang tak sengaja melihat wanita ini sedang berbelanja. Kasir itu menjelaskan bahwa wanita yang ia lihat sama dengan foto yang kami berikan dan kondisinya sedang hamil besar." jelasnya.


Pria itu yang sejak tadi membelakangi orang suruhannya segera membalikkan tubuhnya. Sosok Jullian yang berwajah angkuh itu mulai mencairkan es di hatinya. Pada akhirnya ia bisa mendengar kabar berita tentang wanita yang selama ini ia cari. Dalam hatinya ia bersyukur jika wanita itu dan juga bayi mereka baik-baik saja. Kalau kasir supermarket itu melihatnya dalam kondisi yang sedang hamil besar, artinya wanita itu dan anak mereka baik-bak saja.


"Dimana mereka sekarang ?"


Tanpa perlu memperjelas lagi siapa "Mereka" yang dimaksudkan oleh atasannya, pria yang sudah bekerja sebagai detektif selama sebulan itu langsung memastikan posisi orang yang dicarinya.


"Ada di kawasan Menteng dan kasir itu juga menjelaskan bahwa wanita itu tidak sendirian. Ada seorang pria yang menemaninya. Kasir itu yakin kalau pria itu adalah suaminya.

__ADS_1


"APA?!"


__ADS_2