Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)

Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)
Bab 40


__ADS_3

"Jullian ..."


Sejak malam itu, Lusi adalah mimpi buruknya. Wanita yang telah membuat dirinya berubah menjadi monster yang kejam. Monster yang tidak seharusnya ia lakukan pada Arnetta. Dan ia tidak tahu apakah masih bisa bertahan dengan kewarasannya apa tidak.


"Aku tidak mau berbasa-basi denganmu. Melihat wajahmu saja aku sudah muak Lusi. Jangan membuatku melakukan hal yang sama dengan yang kulakukan pada ibumu."


Lusi masih berdiam di tempatnya, tapi kali ini wanita itu menangis. Air matanya sudah deras menjatuhi wajahnya. Rautnya nelangsa. Ia menginginkan pria ini. Ingin mempertahankan keluarga yang sudah lama ia impikan. Seperti Arnetta yang memiliki Ratih sebagai ibunya, Setidaknya ia ingin memiliki satu keluarga dalam hidupnya. Tempatnya berpulang meskipun itu semua hanyalah ilusi.


"Aku menginginkanmu Jullian. Sangat menginginkanmu." Ucapnya lirih.


BRAK!


Suara kencang itu membuat Lusi refleks menutup matanya penuh keterkejutan dan ketakutan. Benda kaca yang semula berada di atas meja kerja pria itu pun sudah hancur berkeping setelah terhempas dengan keras. Jullian melempar vas bunga kaca yang ada di mejanya dengan kencang sebelum akhirnya mengeluarkan suara tajam yang terdengar kejam di telinganya.


"Katakan sekali lagi apa yang kau inginkan, ******!"


Lusi berusaha untuk mengambil napasnya dalam-dalam. Anggaplah ia sangat egois di sini. Wanita ini hanya memiliki kesempatan terakhir untuk mengharapkan semuanya akan kembali membaik.


"Aku ... ingin suamiku."


Sejenak suasana mendadak hening. Seluruh udara terasa melingkupi sekeliling Lusi hingga membuat mata wanita itu hanya tertuju pada pria yang kini masih memunggunginya. Hanya melalui punggung lebar itu saja Lusi sudah merasakan dingin yang menusuk hatinya. Jullian seolah enggan untuk melihat wajahnya lagi. Apalagi pria itu sama sekali tidak mau datang saat sidang perceraian mereka. Semua ditangani oleh pengacara dan orang suruhannya. Sedangkan Lusi masih menantikan perubahan suaminya yang mau membatalkan perceraian mereka.


"Jullian ..."

__ADS_1


"HAHAHAHA !"


Suara itu nyaring mengelilingi ruangan sedetik kemudian. Melingkupi seluruh ruang di dalam sana dengan menggelegar. Namun, bukan jenis tawaan bahagia melainkan tawa mengerikan yang mampu membuat perut Lusi bergejolak. Wanita itu tahu kini Jullian bukan sekedar tidak menyukainya, tapi sudah sampai pada taraf membencinya.


"Suami ?" tanya pria itu dengan nada setengah tak percaya. "Siapa yang kau bilang itu ? aku ?"


Lusi berusaha menegakkan kepalanya. Ini adalah percakapan penuh emosi yang akan ia hadapi sejak terakhir kali Jullian hampir mencekiknya hingga kehabisan napas. "Ya, Kau suamiku. Sampai kapan pun kita masih suami istri."


Pria itu segera membalikkan tubuhnya. Wajahnya menampilkan rona yang tidak mengenakkan. Tidak ada Jullian yang ramah seperti yang pernah ia tampilkan saat pertama kali bertemu dengan Lusi. Semua seakan sudah lenyap. Wanita ini adalah penghancur hidupnya. Perusak segala-galanya.


Jullian berjalan mendekati Lusi dengan langkah pelan dan dengan tatapan tajamnya. Layaknya seorang predator yang siap memangsa korbannya, pria itu sudah tidak lagi memiliki belas kasih pada wanita itu.


"Kau tidak pernah menjadi istriku, Lusi. Tidak akan pernah."


Kasih sayang ibu.


Cinta dari seorang pria.


Ayah yang selalu membanggakannya.


Semua yang seharusnya bisa menjadi miliknya malah menjadi milik wanita itu. Ibunya selalu bilang bahwa semua yang ada pada ayahnya adalah miliknya. Semua yang ia dengarkan kalau Arnetta merebut semua miliknya. wanita itu tidak seharusnya menjadi dinding penghalang dalam hidupnya. Sekarang hanya Jullian dan pernikahan mereka yang bisa ia pertahankan. Asalkan Jullian mau melanjutkan pernikahan mereka, maka Lusi akan berubah. Ia takkan lagi mendengarkan perintah ibunya. Ia akan menjadi istri yang baik dan wanita yang diinginkan oleh pria itu.


"Aku bisa. Aku selalu bisa menjadi apapun yang kumau. Bahkan aku bisa menjadi Arnetta, wanita hina yang kau mau itu jika kau meminta."

__ADS_1


"DIAM!"


Jullian berteriak di depan wajah Lusi tanpa berpikir lagi bahwa tindakannya adalah bentuk kekerasan. Ia sudah tidak peduli lagi dengan fakta bahwa Lusi adalah wanita yang memang tidak boleh ia kasari. Di cengkramnya rahang wanita itu kuat-kuat lalu menghempaskan wanita itu ke lantai tanpa perasaan. Tak peduli bahwa wanita itu sedang mengaduh kesakitan. Napas pria itu terengah-engah seolah ada emosi besar yang ia tahan sejak lama.


Sampai detik ini Jullian tidak pernah memahami apa yang diinginkan oleh wanita ini. Entah bagaimana ia bisa menikahi wanita sakit jiwa ini. Andai waktu bisa ia putar, maka Jullian akan mengesampingkan emosinya. Ia akan memilih untuk menyelidiki ucapan berbisa wanita itu ketimbang harus menghabiskan waktu seumur hidupnya dengan wanita berbisa ini.


"Apa yang bisa kulakukan agar kau mau kembali padaku?"


Masih disela erangan sakit karena tangannya yang terkena ujung meja ruangan Jullian, wanita itu masih bersuara. Ia masih berusaha untuk memperbaiki keadaan. Ia tidak mau pernikahannya hancur.


"Tidak ada."


Lusi menengadahkan kepalanya melihat wajah pria itu. Ia menang tidak pernah mencintai Jullian, tapi ia tahu pria itu memang sudah ditakdirkan menjadi suaminya. Miliknya. Sampai kapan pun ia tidak akan rela membiarkan siapa pun menghancurkan pernikahannya.


Sedangkan Jullian tampak masih tidak sudi untuk memandang wajah mantan istrinya itu. Banyak luka yang akan diingat olehnya jika sampai ia bertatapan kembali dengan wanita itu. Lusi telah membuatnya berubah menjadi monster yang kejam. Menghancurkan sesuatu yang sama sekali tidak seharusnya ia hancurkan.


"Sejak kau meminta Arnetta menggantikanmu bertemu denganku saat perjodohan yang diatur orang tua kita, selamanya aku tidak bisa menerima wanita lain selain Arnetta." Jelasnya. Nampak bergetar, seolah Jullian sedang mengatur kembali emosinya. Ia masih harus berbelas kasih karena wanita itu telah berjasa melahirkan Arif, penyemangatnya ke dunia ini, meski anak itu bukanlah darah dagingnya.


"Kau sakit Lusi. Kau bukan mencintaiku. Kau hanya terobsesi untuk memiliki semua yang dimiliki oleh adik tirimu. Kau tidak waras."


Lusi menggelengkan kepalanya kencang. Ia tahu perkataan Jullian salah. Ia tahu dirinya benar dan sehat. Tidak seperti perkataan pria itu. Sudah selayaknya semua yang ia punya harus dipertahankan.


"Tidakkah pernah kau mencintaiku? Kenapa kau bisa mencintai wanita itu, tapi tidak bisa mencintaiku?"

__ADS_1


"Sekali pun kau berusaha menjadi Arnetta, kau tidak akan pernah menjadi dirinya. Aku tidak akan pernah mencintaimu."


__ADS_2