Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)

Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)
Bab 27


__ADS_3

"Kau Arnetta?"


Wanita itu langsung mengalihkan tatapannya pada sumber suara. Dilihatnya diambang pintu kamarnya, seorang wanita paruh baya yang tengah menatapnya dengan tatapan tajam. Tak lupa ada sosok lainnya yang juga berdiri di belakang wanita paruh baya tersebut. Saat ia berusaha menajamkan penglihatannya, ia pun terkejut mendapati Lusi tengah berdiri disana dengan senyuman liciknya.


"Lusi?"


Wanita itu hanya tersenyum dengan wajah mendongak. Matanya menatap sinis Arnetta, seolah ia baru saja tahu bahwa kali ini dirinya akan menang. Sedangkan Arnetta hanya bisa terpaku di tempatnya melihat kedatangan dua orang yang entah bagaimana bisa mendatangi rumah Jullian hari ini. Setelah sekian lama ia terkurung baru kali ini ia melihat lagi Lusi, Saudaranya yang ia tahu tidak cukup baik untuk didekatinya.


"Apa kau tuli? Aku bertanya apakah kau Arnetta?"


Suara itu terdengar pelan, namun cukup menusuk hingga membuatnya mau tak mau kembali memusatkan dirinya pada sosok wanita paruh baya yang datang bersama Lusi. Dari wajahnya ia bisa menebak siapa sosok wanita ini. Dia pasti Ibu Jullian. Kemiripan keduanya tak bisa ia enyahkan begitu saja. Ia seperti melihat Jullian dalam versi wanita paruh baya.


"I-iya, aku Arnetta."


PLAK!


Serangan itu langsung meruntuhkan Arnetta. Wanita itu langsung terhempas ke lantai kala tamparan itu melayang ke pipinya. Sambil memegangi pipinya yang nyeri sekaligus panas, ia langsung melihat ke arah wanita yang tadi melayangkan tangan padanya. Tak pelak Arnetta tahu bahwa dirinya akan kembali merasakan sakit hatinya kembali. Untuk tiu tak ada niatan dalam dirinya untuk bangkit. Ia tetap terduduk di lantai sambil memegangi pipi dan perutnya. Setidaknya ia tahu tamparan tadi tidak berefek pada kehamilannya.


"****** sepertimu seharusnya tahu posisimu. Bagaimana bisa orang rendahan dan hina menuntut untuk di nikahi oleh putraku. Tidakkah kau menyadari bahwa Jullian sudah menikah dan memiliki istri?"


Arnetta hanya bisa menundukkan kepala. Tanpa perlu diberitahukan kembali ia sudah cukup sadar bahwa Jullian adalah pria beristri dan terlebih istrinya adalah kakak tirinya sendiri. Tapi, sejak awal ia tak pernah menginginkan semua ini. Berulang kali dirinya ingin melepaskan diri dari pria itu, namun Jullian bisa melakukan apa saja yang ia mau. Dan semua uang yang pernah ia pinjam pasti akan menyeretnya masuk ke dalam penjara. Bahkan, ia sudah meminta kematian pada Jullian dan tidak pernah diberikan.


Sungguh, Ia sudah lelah dengan semua drama hidupnya. Hidupnya tidak pernah berarti di mata siapapun. Ibunya pun sudah tidak ada. Lantas untuk apa Arnetta bertahan? Jika Jullian hanya menginginkan anak ini sama hancur seperti dirinya, bukankah lebih baik Arnetta membawanya sekalian dalam kematian.


Bayangan gelap terpantul di lantai. Dengusan dari suara yang tak asing baginya itu semakin mendekat padanya. Ia tahu Lusi sedang menertawakan dirinya sekarang. Ya, wanita itu pantas tertawa. Lusi sudah menang dalam hidupnya dengan merenggut Jullian darinya lima tahun lalu. Jika kini ia murka dengan Jullian yang kembali ke sisinya, Arnetta siap untuk menyerahkannya kembali. Ia juga ingin bebas dari semua penderitaan ini.


"Setelah semua hal kau rebut, aku rasa wanita hina sepertimu pantas menghilang dari muka bumi ini." desisnya.


Arnetta mengangkat wajah dan melihat langsung ke arah dua bola mata hitam milik kakak tirinya itu. Tatapan penuh kebencian ia terima dari wanita itu sanga dalam, seolah apa yang Arnetta pernah lakukan adalah kesalahan fatal. Sampai detik ini pun ia sama sekali tidak bisa menemukan jawaban mengapa Lusi begitu membencinya. Sejak awal wanita itulah yang memintanya bertukar posisi untuk menemui acara perjodohan dengan Jullian. Wanita itu yang mendatanginya dan meminta pertolongan. Bahkan saat mereka muda dulu, Lusi lebih banyak menghabiskan waktu dengannya dan ibunya, dibandingkan dengan ibu kandungnya sendiri. Entah kemana sosok Lusi yang dulu pernah menjadi sahabat kecilnya. Wanita yang ada di hadapannya seperti wanita dewasa yang tak pernah tumbuh menjadi Lusi yang pernah ia kenal semasa kecil.

__ADS_1


"Kenapa?"


Suara Arnetta bertanya lirih, pelan, bahkan hampir tak terdengar. Namun, reaksi Lusi mengatakan bahwa wanita itu mampu mendengarkannya dengan jelas. Wajah sinisnya sontak berubah menjadi wajah wanita yang menyimpan luka mendalam dihatinya. Seperti ada luka lama yang bersarang di hati Lusi.


"Kau ... memiliki semua yang tidak mampu aku milik, Netta. Kau merenggut semua yang seharusnya menjadi milikku."


Air mata Arnetta perlahan jatuh. Miliknya yang mana yang diinginkan oleh Lusi. Hidupnya sudah hancur. Tidak ada satu pun dari kehidupan yang dimilikinya bisa membuat orang lain merasa iri, apalagi Lusi. Sejak kecil kasih sayang seorang ayah tidak pernah ia dapatkan. Ayah mereka hanya mencintai Lusi dan menganggap wanita itu anak semata wayangnya. Harta dan kehormatan yang membayangi Lusi adalah hal yang paling diinginkan semua wanita, termasuk dirinya. Wanita itu tidak pernah bekerja hingga mempertaruhkan hidup seperti yang pernah dilakukannya. Semua yang ada di kehidupan Lusi tampak sempurna dan menyilaukan Arnetta. Seharusnya ia yang merasa iri hati atas semua yang ada di kehidupan wanita itu.


"Milikku yang mana, yang membuatmu merasa begitu membenciku? Di benci oleh ayah kandungku sendiri atau menjadi pelacur bagi kakak iparmu sendiri." Tantang Arnetta dengan suara yang hampir berteriak.


Ibu Jullian terdiam di tempatnya melihat interaksi kedua orang itu. Ia mulai curiga jika Lusi pernah mengenal wanita ini. Dilihat dari cara keduanya berbicara, ia yakin bahwa Lusi melewatkan satu cerita yang tak pernah ia ketahui.


"Lusi, apakah kau mengenal wanita ini?"


Lusi memandang Arnetta dengan mata berkaca-kaca. Hatinya nyeri jika harus menjabarkan hal apa saja yang membuatnya begitu benci pada adik tirinya itu. Mungkin hal sepele tapi ia tahu bahwa sejak lama batinnya selalu menginginkan apa yang membuat Arnetta kuat selama ini.


"Kau, ... Aku membencimu ketika ayah kandungku sendiri membandingkanku. Mengatakan bahwa seharusnya aku lebih mampu darimu, karena aku terlahir sebagai anaknya. Dan, kau memiliki kasih seorang ibu yang tak pernah kumiliki. Bahkan ibuku sendiri mengumpaniku pada pria hidung belang agar bisnisnya tercapai."


Lusi pun berdiri dan menghapus jejak air matanya. Dengan pundak tegak, ia memandangi Arnetta yang masih terduduk di lantai.


"Kau menjual tubuhmu demi seorang ibu yang sedang sekarat. Ada cinta yang besar dalam niatmu. Sedangkan aku, aku sudah kotor dan hina bukan karena cinta, tapi karena keserakahan ibuku. Tidakkah kau pikir hidupmu lebih beruntung? Tidakkah kau mengerti bahwa aku ingin memiliki hidup yang normal? Bahkan, selama kami menikah Jullian sama sekali tidak pernah menganggapku sebagai manusia. Dia lebih memilih Arif dari pada aku istrinya. Disaat aku mengalami keguguran pada kehamilan keduaku, pria itu tidak sudi melihat keadaanku di rumah sakit."


Ibu Jullian tak kuasa menahan tangisnya. Ia ingat betul semalaman dirinyalah yang berada di sisi menantunya, membantunya melewati masa berat kehilangan calon anak mereka. Jullian kala itu lebih memilih untuk tidak meninggalkan perjalanan bisnisnya ke new york.


Lusi mengalihkan pandangan kepada ibu mertuanya dengan air mata berlinang.


"Ma, biarkan aku tetap menjadi menantumu. Merasakan kasih sayang orang tua yang tidak pernah aku rasakan. Aku istri sah anakmu dan wanita yang telah memberikanmu seorang cucu. Tolong bantu aku untuk menyingkirkan wanita ini dari kehidupan rumah tangga kami."


Ibu Jullian langsung mengangguk setuju tanpa berpikir dua kali. Dengan tatapan nyalang menatap Arnetta, ia menghembuskan napas kencang dan menghardik wanita itu dengan kasar.

__ADS_1


"Sekarang pilih, pergi dengan keinginanmu sendiri atau pergi dengan cara kasar yang tidak pernah bisa kau bayangkan?"


Arnetta masih menangis tanpa suara sambil memegangi perutnya. Ia harus tetap bertahan setidaknya untuk calon anaknya.


Bukankah kebebasan ini yang ia inginkan? Tapi, entah mengapa hatinya perih mendengar pengakuan Lusi. Benar, wanita itu adalah istri sahnya. Sudah sepatutnya Lusi yang berada di rumah ini, sebagai pendamping Jullian dan juga ibu dari Arif. Arnetta hanya wanita yang merenggut semua tanpa sadar.


"Baik, aku akan pergi. Aku ... Pergi."


***


Arnetta memandang kosong jalanan di depannya. Masih dengan segeggam uang puluhan ribu yang ia dapatkan dari ibu Jullian. Sebenarnya wanita itu memberikannya uang seratus ribu untuknya. Namun, sepanjang ia menyusuri jalanan kota ia sudah memakai uang tersebut untuk makan dan juga naik bis. Sekarang, Arnetta sendiri tidak tahu dimana dirinya. Bis yang membawanya keluar kota sudah tiba di pemberhentian terakhirnya dan menyisakan Arnetta yang harus turun di halte terakhir.


Ia tidak tahu pukul berapa sekarang, tapi yang jelas matahari yang telah berganti dengan bulan sudah menandakan hari telah malam. Ia tidak tahu seberapa jauh dirinya pergi. Yang jelas ketika Jullian dan Arif pulang, mereka sudah tidak bisa mendapati kehadirannya di rumah itu.


Sambil mengelus perutnya yang sedokit menonjol, Arnetta paham bahwa kini hanya ada dirinya dan calon anaknya.


"Kita sekarang cuma berdua, sayang. Mama akan merawatmu nanti dengan penuh cinta. Tidak akan mama biarkan kamu berakhir seperti mama." Ucapnya.


Tak lama sebuah mobil sedan hitam berhenti di depannya. Sontak saja hal itu membuat Arnetta sedikit berwaspada. Ia pun langsung berdiri dan bersiap untuk lari. Bisa saja itu orang jahat, atau mungkin Jullian yang murka telah berhasil menemukannya.


Ketika ia sudah siap untuk melangkah, suara yang entah pernah ia dengar dimana membuatnya berhenti dan berbalik. Seorang pria dengan blazer hitam keluar dari mobil. Arnetta tidak mengenal siapa pria itu, tapi wajahnya tidak asing dalam ingatannya.


"Kukira aku salah orang, ternyata itu memang kau." Ucapnya dengan senyuman lebar.


Arnetta mengerutkan keningnya. Ia merasa tidak asing dengan pria ini, tapi sama sekali tak terbesit dalam otaknya apakah ia pernah berinteraksi dengannya.


"S-Siapa kau?"


Alih-alih langsung menjawab, pria itu malah semakin melebarkan senyumannya yang mencetak kedua lesung pipi di wajahnya. Tepat ia bediri didepan Arnetta, pria itu langsung mengucapkan namanya.

__ADS_1


"Kita pernah bertemu di rumah sakit dan kau tau ... Aku masih mengingatmu dengan jelas. Perkenalkan, Aku Patrick."


__ADS_2