Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)

Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)
Bab 29


__ADS_3

"Namaku Revalina, Panggil saja aku Reva."


Arnetta tahu setelah dia mengucapkan kalimat itu, artinya kehidupannya sudah berubah. Dalam hatinya ia merasa gelisah sekaligus lega. Wanita itu gelisah jika nantinya keberadaannya mudah di temukan oleh orang-orang jahat itu, terutama Jullian. Ia sudah tidak sudi lagi untuk menyerahkan hidupnya kepada lelaki yang bisa saja melenyapkan nyawanya dan juga calon anaknya. Sejak awal ia tidak pernah menginginkan pernikahan. Kebebasan adalah keinginannya hingga detik ini.


Ia sengaja memakai nama belakangnya dan tidak menyebutkan nama depannya. Beruntungnya semua kartu identitasnya masih berada di tangan Jullian. Kepada Patrick, Arnetta harus bersujud terima kasih atas kebaikan pria itu. Entah apakah pria itu baik atau jahat, toh dirinya sudah bukan lagi perempuan baik-baik. Jullian beserta masa lalunya sudah merusaknya. Kalau pun ia akan mati, setidaknya dirinya tahu bahwa kematiannya bukan berada di tangan masa lalu kelamnya.


"Ada apa?"


Suara berat itu menyentak lamunan Arnetta. Sontak saja ia langsung menoleh pada pria yang masih setia mengendalikan kemudinya dengan lihai. Di jalanan yang sepi dan gelap, hanya kesunyian yang merambat diantara keduanya. Tidak ada alunan musik yang biasa dinyalakan oleh pengemudi mobil pada umumnya.


Arnetta menggelengkan kepalanya lemah sebagai jawaban atas pertanyaan itu. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa dirinya sedang mengkhawatirkan keberadaannya akan di temukan dengan cepat. Ia takut bahwa semua ini adalah mimpi dan ia akan terbangun di tempat tidur yang sama, dimana Jullian sering melecehkannya. Ada kehidupan baru yang menjanjikan untuknya dan Arnetta tidak mau menyia-nyiakannya.


"Maaf kalau kau tidak nyaman, tapi aku suka mengemudikan mobil dalam keadaan sunyi. Aku sering mengenang apa saja yang sudah kulakukan." Ujar Pria bernama Patrick sambil tetap mengemudikan mobil ke arah rumahnya.


Tatapan wanita itu jatuh kepada jari-jari Patrick yang belum melingkar sebuah cincin. Sejak tadi ia tidak begitu menyadari hal tersebut. Ia tidak mau hubungannya dengan Jullian dan Lusi akan terulang kembali.


"Kau belum menikah?"


Patrick sedikit terkejut mendengar pertanyaan yang terlontar dari wanita itu. Ia pun ikut memandangi ruas jari-jarinya mengikuti tatapan wanita bernama Revalina itu. Ia pun tersenyum kecut. Jika saja menemukan pasangan hidup sangatlah mudah, maka ia sudah menikah dengan gadis pilihan mendiang ibunya. Tapi, sayangnya ia tidak seberuntung itu.


"Ya, kau benar. Aku belum menikah dan mungkin akan sangat sulit."


Arnetta beralih menatap Patrick. Pria disampingnya bukan kriteria yang akan dihindari para wanita. Justru secara fisik Patrick adalah sosok yang menarik. Tampan dan berkharisma. Ditambah jambang di sekitar rahangnya menambah kesan maskulin yang membuat pria itu semakin menarik. Dan poin tambahan lainnya, Patrick bukan prja miskin. Dilihat dari mobil yang sedang ia tumpangi, Arnetta tahu pria itu kaya raya. Lantas, bagaimana bisa Patrick menilai dirinya sulit menikah?


"Tidak mungkin. Kau bisa mendapatkan wanita mana pun yang kau sukai."


Patrick terkekeh pelan mendengar ucapan Reva. Begitu jujur dan terus terang. Sekarang ia semakin yakin jika wanita yang ia beri tumpangan ini bukanlah wanita yang memiliki niat jahat. Ucapan dan tatapannya yang polos itu mengungkapkan bahwa Reva mengatakannya dengan tulus.


"Benarkah?" Sahutnya dengan kedua alis terangkat. "Kalau begitu, apakah aku bisa mendapatkanmu sebagai istriku?"


DEG

__ADS_1


Arnetta bungkam seribu bahasa. Ia langsung memutuskan tatapannya dengan pria itu dan memilih melihat kembali jalanan di luar sana yang mulai terlihat beberapa petak rumah bertingkat. Ucapan Patrick seperti baru saja melemparkan bom ke hatinya. Rasanya sakit mendengar bahwa Patrick memasukkannya ke dalan kriteria wanita yang akan dipilih. Terlepas ucapan itu hanya omong kosong, tapi dirinya merasa bahwa Patrick tidak pantas dengan wanita rusak seperti dirinya. Berbagai pelecehan dan hinaan sudah ia terima sejak dulu dan sekarang dirinya pun hamil diluar nikah setelah menjual tubuhnya pada Jullian.


Sungguh, Arnetta merasa sangat tidak pantas, bahkan untuk menerima perkataan pria itu. Sudah sepatut pria baik seperti Patrick juga mendapatkan wanita baik-baik.


"Ah, maaf jika kau tidak nyaman dengan perkataanku."


Melihat reaksi wanita itu, Patrick langsung merasa tidak enak hati. Sepertinya ucapannya sudag menyinggung hati Reva. Ia tidak bermaksud untuk membuat wanita itu tersinggung hingga enggan menatap wajahnya. Meskipun dalam hati ucapan itu bukan hanya sekedar guyonan semata.


Arnetta segera menoleh kembali ke arah pria itu. Ia menggeleng pelan sambil menunjukkan senyuman kecilnya. Namun, senyuman itu justru menyiratkan ada luka disana dan Patrick tidak buta untuk melihatnya dengan jelas.


"Bukan begitu. Hanya saja perkataanmu membuatku merasa tidak pantas." Sahutnya lirih.


"Apa maksudmu?"


Arnetta menggeleng lemah. Patrick tidak boleh menyukainya. Pria itu hanya boleh menanggapinya sebagai seorang pembantu, tidak lebih. Pria itu harus mencari wanita lain, yang pantas bersanding dengannya. Dan, Arnetta bukanlah termasuk ke dalam kategori wanita itu. Dirinya yang sudah kotor ini, harus mulai menyadari posisinya. Bisa diberi rumah dan pekerjaan oleh Patrick ia sudah sangat bersyukur. Setidaknya ia tahu kalau dirinya bisa merawat kehamilannya dengan baik dibandingkan harus terlunta-lunta di jalanan.


"Aku sangat berterima kasih atas tawaranmu. Sekarang aku punya tempat untuk berteduh dan pekerjaan. Setidaknya aku tidak menjadi gelandangan."


"Aku tidak berani membayangkan ada seorang pria menginginkan wanita sepertiku. Membayangkannya saja aku merasa sangat hina. Jadi, tolong ... Jangan sampai membuatku untuk berani melanggar batasan itu."


Ucapan Reva dalam menusuk sukma Patrick hingga membuat pria itu langsung membisu. Kehilangan kata atas ucapan wanita itu. Bagaimana bisa wanita ini merendahkan dirinya sendiri seperti ini. Padahal hatinya sudah bergetar hebat hanya dengan senyuman wanita itu. Tapi, dari pada membuat Reva pergi lagi dari hadapannya, lebih baik Patrick tidak melanjutkan pembicaraan ini. Cepat atau lambat ia pasti bisa membuat wanita ini luluh.


"Ah itu rumah ku."


Ketika mobil sudah memasuki kawasan perumahan elit, Arnetta disuguhkan dengan pemandangan deretan rumah mewah yabg saling berderetan rapi. Tidak seperti rumah mewah klasik yang Jullian dan dirinya tempati. Rumah yang ada di hadapannya lebih seperti perumahan elit dengan gaya modern. Sampai ketika mobil Patrick berhenti disalah satu rumah, Arnetta tahu bahwa mereka sudah sampai di tujuan.


Keduanya pun segera turun begitu mobil masuk melewati pagar otomatis yang dikendalikan Pria itu melalui remote di tangannya.


"Selamat datang di rumah kita."


Arnetta terperangah dengan deretan lima mobil mewah yang terparkir di halaman rumah ini. Ia tidak paham mengapa orang kaya senang sekali membeli mobil tanpa ada niatan memakainya. Sama sekali tidak terlihat debu yang menempel disana biarpun mobil-mobil ini hanya tertutup oleh Atap kanopi.

__ADS_1


"Banyak sekali mobilmu." Ujarnya sambil memperhatikan kendaraan roda empat yang berjejer disana. "Apakah kau mau membuka dealer?"


Patrick tergelak. "Tidak. Aku senang mengoleksinya."


Reva memberikan senyuman kecut pada pria itu. "Kalian orang kaya sepertinya bingung mau membuang uang untuk apa."


Patrick masih tertawa mendengar ucapan Reva yang menurutnya sangat lucu. Untuk orang yang baru saling mengenal, sepertinya keduanya tidak butuh waktu lama untuk mendekatkan diri. Dan Patrick sepertinya tidak perlu berjuang terlalu keras untuk meluluhkan perasaan wanita yang penuh luka batin itu.


**


Sedangkan di sebuah rumah lainnya, seorang pria tidak bisa menyembunyikan amarahnya. Rahangnya mengeras saat dirinya tidak menemukan sosok yang dicarinya. Betapa terkejutnya ia dan sang anak mendapati rumah mereka kedatangan orang yang tidak mereja harapkan kehadirannya.


Semula Jullian ingin membawa Arnetta untuk melakukan fitting gaun pengantin yang akan dipakainya dalam hitungan hari lagi. Namun, betapa terkejutnya ia menemukan seorang wanita yang tak ingin lagi dilihatnya sedang berkutat di dapur bersama para pelayan baru dan Maria, yang menatapnya penuh kecemasan.


Arif, sang anak, langsung berlari ke kamarnya tanpa berniat menyapa wanita yang sudah melahirkannya ke dunia itu. Tatapan si kecil yang penuh kebencian pada wanita itu tidak membuat sang wanita dewasa gentar. Deretan gigi yang terlihat di senyuman manisnya memperlihatkan dirinya sudah menang atas peperangan dingin ini.


"Aku sudah menyiapkan makan malam untuk kalian. Aku harap kau suka, suamiku."


Jullian menyeringai menanggapi ucapan mantan istrinya itu. Sepertinya ada satu hal yang Lusi belum pahami disini. Mereka sudah bukan lagi sepasang suami istri sejak palu hakim memutuskan hubungan keduanya. Bahkan hak asuh Arif pun sudah mutlak jatuh ke tangannya. Sudah banyak bukti bahwa Lusi memang tidak layak menjadi istrinya sekaligus ibu Arif. Bukti foto yang berisikan luka lebam di tubuh anak itu sudah memberatkan wanita itu. Beruntung, Jullian tidak memenjarakan Lusi dan juga ibunya yang culas itu.


"Apapun yang kau masak itu hanya akan berakhir di tempat sampah. Setelah puas bermain, kau bisa angkat kaki dari rumahku."


Sontak mendengar hal itu, Lusi langsung melemparkan piring ke arah pria itu meskipun piring itu hanya pecah di depan kaki Jullian.


"Rumah kita!" Teriaknya. "Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskanmu. Apalagi pada Arnetta, wanita sundal itu."


Dengan secepat mungkin, Jullian langsung bergerak mendekati wanita itu. Tangannya mencengkram leher Lusi hingga membuat wanita itu berontak melepaskan diri. Tapi tanpa belas kasihan, sepertinya Jullian ingin membuat Lusi tahu seberapa nekad dirinya. Bahkan Maria hanya diam saja melihat Lusi yang tercekik olehnya.


"Jangan pernah berani menghina wanita yang sedang mengandung anakku. Harus kau tahu, dia, wanita yang kau sebut sundal itu adalah istriku dan juga ibu dari anak-anakku. Bahkan Arif lebih memilih wanita yang kau sebut sundal itu dari pada kau, wanita yang sudah jelas melahirkannya. Sekarang siapa yang hina? Kau atau Arnettaku?"


Jullian langsung melepaskan Lusi dan membiarkan wanita itu luruh ke lantai sambil terbatuk-batuk.

__ADS_1


"Sejauh apapun tindakan kalian untuk mengusir wanitaku, cepat atau lambat kalian akan melihat pernikahan kami. Katakan juga pada ibumu, jika masih ingin hidup tenang maka jangan coba menghasut siapapun lagi. Aku bisa menghancurkan perusahaan ayahmu yang seharusnya milik Arnetta."


__ADS_2