Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)

Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)
Bab 39


__ADS_3

Seorang pria nampak berdiri di ambang pintu yang tidak tertutup rapat. Matanya yang menerjap pekat di tengah gelapnya malam membuat sosok itu tidak terlihat sama sekali. Namun, pandangan matanya lurus menghadap sosok wanita yang sedang terbaring di dalam sana. Dengan posisi membelakanginya, punggung kecil itu menyiratkan banyak makna sekarang di matanya. 


Jullian melihat betapa beratnya punggung itu sebelumnya telah menopang beban hidup yang selama ini ia jalani. Tumpukkan kertas yang berada di tanganya tanpa sadar sudah tak lagi mulus. Tangan itu sudah mencengkram erat helaian kertas di tangannya. Banyak hal yang tertuang di sana yang tidak ia ketahui. Salah satunya apa yang sudah dialami oleh wanita yang sampai detik ini tidak mengetahui bahwa Jullian tengah mengamatinya dalam tidur. 


Keputusannya untuk menyelidiki semua yang terjadi selama lima tahun yang lalu telah membuat Jullian membuka mata selebar yang ia bisa. Sejak Arnetta mengalami depresi hingga tidak mau bicara, Jullian telah mengerahkan orang suruhannya untuk mencari informasi sedetail mungkin tentang tahun-tahun penuh kesalahpahaman dan juga tipuan telah membuatnya menjadi monster pendendam. Semua yang dipaparkan orang suruhannya telah berhasil menciptakan lubang luka yang sangat dalam. 


Arnetta, yang ia kira selama lima tahun ini hidup enak di luar negeri nyata mengalami banyak hal mengerikan. Bekerja sebagai pelayan restoran, buruh pabrik dan juga pekerja bar pasti sudah cukup memberatkan hidupnya. Apalagi wanita itu merawat mendiang ibunya yang kala itu sedang sakit parah. Ya, Ratih yang Jullian ingat sebagai wanita yang sangat ramah itu sedang sakit parah. Dan dengan teganya ketika Arnetta mendatanginya memohon bantuan yang ia berikan adalah neraka. 


Manusia macam apa dirinya, pikir Jullian. Ia bisa dengan teganya membawa trauma masa lalu itu kepada Arnetta. Semua yang tertuang dalam kertas di tangannya telah membuktikan kehidupan di neraka seperti apa yang sudah di hadapi wanita itu. 


Arnetta Revalina, bekerja sebagai pelayan restoran selama 10 jam dan dilanjutkan dengan pekerjaannya sebagai buruh pabrik dan malam harus bekerja sebagai pelayan bar malam. Dua tahun hidupnya di sana mengalami tindak pemerkosaan. Arnetta pernah di rawat selama satu bulan di pusat rehabilitasi kejiwaan akibat Post Traumatic Stress Disorder yang sangat parah dan pernah mencoba bunuh diri. 


Kenyataan itu seharusnya membuat Jullian cukup menyesalkan diri hingga rasanya ia ingin menenggelamkan dirinya sendiri hingga mati. 


"Monster macam apa aku ini." Gumamnya dengan mata yang sudah memanas. 


Memang pantang baginya untuk menangisi hal-hal remeh, tapi menyangkut Arnetta, wanita yang sampai saat ini masih ia cintai pun ia tidak bisa menahannya. Bahkan luka di tangannya yang memar pun belum kunjung menghilang. 


Ya, setiap kali ia selesai menyiksa Arnetta, Jullian harus mengalami sesal yang mendalam di dirinya. Pria itu berkali-kali memukuli dinding rumahnya hingga berdarah. Beberapa kali ia hampir meretakkan tulang jarinya. Ia tidak tahan. Kebencian yang bersarang di dadanya sering membuatnya lepas kendali. Saat dirinya mengingat foto-foto Arnetta dengan pria lain selalu membuatnya marah. Namun, ketika dirinya selesai menyiksa wanita itu ia ingin sekali melukai dirinya. 

__ADS_1


Dia gila. Jullian sudah tidak waras lagi. 


"Tuan ..."


Jullian tidak perlu menoleh ke belakang. Ia tahu jika suara Bibi Maria akan menjadi satu-satunya yang membuat dirinya tenang. Wanita paruh baya itu tahu segalanya setelah ia melakukan siksa itu kepada Arnetta. Hanya wanita itu yang datang pertama kalinya ketika ia mulai memukulkan dirinya sendiri ke dinding. Dan, sekarang perkataan itu sudah menjadi nyata. Ia sangat menyesali pembalasan dendam yang ia lakukan pada Arnetta. 


"Kau benar, Bibi. Aku menyesal. Neraka yang kuciptakan nyatanya membuatku semakin tidak bahagia." ucapnya lirih. 


Dibelakang sana, Maria dengan wajah tuanya tidak bisa berbuat banyak. Tatapannya sendu memandang anak yang sudah ia asuh sejak kecil itu. Ia sudah tahu kalau semuanya akan berakhir seperti ini. Tidak ada yang bisa ia perbuat, meskipun Maria sudah mengatakan hal itu pada Jullian. Pria itu sudah di selimuti dendam yang tidak berkesudahan. Dan kini hanya tersisa penyesalan di dadanya. 


"Aku ... tidak bisa lagi memberikan janji untuk menebus semuanya. Aku harus menebusnya. Tidak bisa lagi dengan janji. Aku telah merengut hidupnya dan aku harus memberikannya hidup. Aku... masih mencintainya."


Sekali lagi Jullian menerawang melalui punggung sempit itu. Ia bisa mempersembahkan hidupnya untuk Arnetta, bahkan jika wanita itu ingin dirinya mati maka akan ia lakukan. Namun membiarkan Arnetta bahagia tidak bersama dirinya malah akan membuatnya semakin membenci keadaan ini. 


"Aku tidak tahu bisa melakukannya."


**


"Jullian, bisa kita bicara ?"

__ADS_1


Jullian hanya bisa tersenyum miris. Apakah ia bisa mengusir wanita ini tanpa mencekiknya seperti yang ia lakukan kepada Amara. Karena wanita inilah, Jullian bisa tega menyakiti wanita yang sebenarnya adalah obsesi cintanya. Bukan Obsesi kebenciannya.


Pria itu tertawa. Entah apa yang ia tertawakan. Apakah itu kebodohannya atau nasibnya yang sama sekali tidak bisa dikatakan bagus untuk diingat. Betapa ia sangat depresi mengingat semua perbuatannya dulu kepada Arnetta. Jullian mencaci, menghina, mengasari, bahkan memperkosa wanita itu sampai hamil. Semua adalah kombinasi siksaan yang sudah ia berikan kepada Arnetta dan gerbang pembuka semua siksaan itu adalah wanita yang kini berada di hadapannya dengan wajah pucat pasi.


Tidak pernah sekalipun dalam pertemuan mereka yang terakhir kali Jullian sudi melihat wajah sang mantan istri. Bahkan saat sidang perceraian pun Jullian enggan untuk datang dalam rangka mediasi. Baginya tidak ada lagi bagian dari pernikahan mereka yang bisa di selamatkan. Semuanya tercipta atas kebohongan yang sudah diciptakan oleh keluarga Lusi. Semula ia pikir bisa dengan mudah untuk mencintai wanita ini. Apalagi saat itu Lusi sedang mengandung buah hatinya. Namun, begitu Arif lahir Jullian sadar kalau itulah kebohongan pertama dari banyaknya kebohongan yang sudah ia terima sehingga membuat satu pihak yang sama sekali tidak bersalah mendapatkan akibatnya.


"Jullian ..."


Sejak malam itu, Lusi adalah mimpi buruknya. Wanita yang telah membuat dirinya berubah menjadi monster yang kejam. Monster yang tidak seharusnya ia lakukan pada Arnetta. Dan ia tidak tahu apakah masih bisa bertahan dengan kewarasannya apa tidak.


"Aku tidak mau berbasa-basi denganmu. Melihat wajahmu saja aku sudah muak Lusi. Jangan membuatku melakukan hal yang sama dengan yang kulakukan pada ibumu."


Lusi masih berdiam di tempatnya, tapi kali ini wanita itu menangis. Air matanya sudah deras menjatuhi wajahnya. Rautnya nelangsa. Ia menginginkan pria ini. Ingin mempertahankan keluarga yang sudah lama ia impikan. Seperti Arnetta yang memiliki Ratih sebagai ibunya, Setidaknya ia ingin memiliki satu keluarga dalam hidupnya. Tempatnya berpulang meskipun itu semua hanyalah ilusi.


"Aku menginginkanmu Jullian. Sangat menginginkanmu." Ucapnya lirih.


BRAK!


Suara kencang itu membuat Lusi refleks menutup matanya penuh keterkejutan dan ketakutan. Benda kaca yang semula berada di atas meja kerja pria itu pun sudah hancur berkeping setelah terhempas dengan keras. Jullian melempar vas bunga kaca yang ada di mejanya dengan kencang sebelum akhirnya mengeluarkan suara tajam yang terdengar kejam di telinganya.

__ADS_1


"Katakan sekali lagi apa yang kau inginkan, ******!"


__ADS_2