Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)

Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)
Bab 18


__ADS_3

Sejak kematian Ratih, Jullian tidak lagi menempatkan Arnetta di kamar yang sebelumnya ia gunakan untuk menyiksa wanita itu.  Sebuah kamar di lantai satu yang biasanya ditempati oleh tami,  disana lah Arnetta kini berbaring.  Kamar yang kini menjadi saksi bisu tidur malam wanita itu lebih besar dari kamar sebelumnya.  Ditambah dengan pakaian baru yang disediakan untuknya.  Arnetta tahu pakaian itu sangat pas dengan tubuhnya,  tapi entah mengapa untuk mengucapkan rasa terima kasihnya pun ia tak mampu.


"Aku sudah jijik padamu."


Kalimat itu terus menggaung di telinganya.  Setiap menit dan detik ia lewati hanya untuk mendengarkan kalimat yang semakin mengoyak hatinya.  Tangisnya di kala malampun selalu diiringi dengan dengungan kata-kata menyakitkan yang keluar dari mulut Jullian.


Seminggu sudah ibunya berpulang,  selama itu pula ia sadar bahwa dirinya sudah tidak punya siapa pun lagi di dunia ini.  Selama ini ia bertahan untuk ibunya.  Ia menyimpan luka hanya demi menumbuhkan senyuman di wajah ibunya.


Arnetta ingin berteriak,  memaki siapapun yang ia lihat.  Tapi,  tubuhnya menolak reaksi apapun.  Ia tak mampu hanya sekedar menggerakkan bibirnya untuk berucap.  Bahkan beberapa hari ini Bibi Maria selalu membantunya makan dan mandi karena ia tak bisa berdiri dengan tegak.


Di hari pertama memang Jullian yang mengurusnya. Namun,  karena ada perjalanan dinas,  hanya bibi Maria yang dioercaya mengurusnya. Arnetta tak ingin tahu rencana apa yang disusun oleh pria itu untuk menghancurkannya.  Hancur seperti apa lagi yang diinginkan oleh Jullian,  hanya Tuhan yang tahu.  Yang jelas,  kini Arnetta sudah hancur.  Mungkin jika mati membuatnya berada dalam tingkat kehancuran paling parah,  maka Jullian akan membuatnya mati.


Wanita itu sudah tak lagi memikirkan perasaan yang pernah tumbuh.  Lima tahun sudah cukup membuktikan bahwa dirinya masih bisa hidup normal tanpa Jullian.  Pria itu pun demikian.  Arnetta tak berharap lagi apakah rasa cinta itu masih ada atau tidak.  Memikirkan Jullian saja sudah membuat hatinya berantakan.  Ia tak tahu apakah dirinya akan kembali jatuh cinta pada pria itu.


Kini diatas kasurnya,  teraram sinar bulan yang menembus tirai kamarnya,  Arnetta menatap langit kamarnya.  Kedua matanya menatap kosong ke atas sana membayangkan hidupnya setelah ini.  Ia akan bekerja sebagai pelayan bagi pria yang tak jelas alasan kebenciannya.  Satu-satunya cara untuk melunasi hutang ibunya.


Sejak awal memang tak pernah ada perjanjian resmi sampai kapan Jullian akan mengurungnya.  Pria itu hanya mengatakan tak memberikan batas waktu pelunasannya, tapi ketika malam dimana pria itu memperkosanya Jullian sudah memperjelas bahwa dirinya akan terus di "gunakan" sampai pria itu bosan.  Jadi,  Arnetta akan terus bekerja sebagai pelayan.


"Bunda!"


Arnetta melihat ke arah pintu yang berada di depan kedua telapak kakinya.  Seorang bocah laki-laki tampak membuka pintu kamarnya sambil mengucek matanya.  Tak. Lama,  kaki-kaki mungil itu mendekati ranjang yang ditiduri Arnetta dan memanjat menaikinya.  Bocah laki-laki itu tanoa canggung langsung memosisikan dirinya tidur diatas perut wanita yang mulai ia anggap sebagai ibunya.


"Kata ayah, Bunda sakit.  Benar?"


Arnetta ingin sekali menjawab,  tapi mulutnya sulit terbuka.  Ia hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.  Tangannya ingin tergerak mengelus surai hitam milik Arif,  tapi lagi-lagi tak ada yang bisa ia lakukan selain diam.


"Arif bobok sama Bunda, ya. Kemarin kata ayah Arif tidak boleh ganggu bunda.  Tapi,  Arif kangen." ucapnya sambil memainkan kancing kemeja diatas perut Arnetta.


Arnetta tahu air matanya kembali mengalir.  Kali ini bukan diiringi oleh rasa nyeri,  melainkan rasa haru mengetahui ada yang masih memerdulikan dirinya.  Arif,  bagaimana bisa ia melupakan selama seminggu ini ada bocah kecil yang menanti kesembuhannya.  Ada sosok yang masih bisa ia percayai kebaikan dan kepolosannya.  Meski Arif bukan darah dagingnya,  Arnetta begitu mencintainya sampai terkadang ia lupa bahwa bukan dirinya yang melahirkan bocah tampan itu.


"Arif sayang Bunda."


Wanita itu sudah membuka mulutnya.  Urat di lehernya timbul sampai pada akhirnya suaranya keluar biarpun hanya berbuah sebuah bisikan untuk membalas ungkapan perasaan anak itu.  Arif perlu tahu ia juga menyayanginya, tidak,  Arnetta yakin ia jatuh cinta pada bocah itu.


"Bunda....  Sayang....  Arif."


Semalaman Arnetta mampu mimpi indah.  Ia melihat bintang dalam kegelapan mimpinya.  Hanya tubuhnya karena dekapan tangan mungil itu membuat dirinya ingin sembuh.  Setidaknya untuk seorang anak yang tak pernah diinginkan oleh ibunya.  Arif harus tahu jika Lusi tidak menginginkannya,  setidaknya Arnetta akan menjadi ibunya saat ini.

__ADS_1


"Bu,  aku punya anak.  Dia cucumu.  Namanya Arif.  Aku bisa, kan mencintainya?"


***


Seorang pria tampak menatap nyalang ke arah sepasang paruh baya yang membalas tatapannya tak kalah tajam. Apalagi sosok wanita paruh baya yang memiliki rupa sepertinya pun biasanya terlihat lemah,  kini malah bersikap seolah dirinya adalah wanita paling berkuasa dimuka bumi ini.  Terkadang Jullian curiga jika koma yang dialami wanita itu lima tahun silam adalah rekayasa mengingat betapa sehatnya wanita itu sekarang.


"Kau lebih mempercayakan cucuku pada ****** itu?  Benar-benar keterlaluan!" ucap James murka.


Andara yang duduk disamping suaminya pun ikut menghakimi keputusan sepihak anaknya yang menurutnya keterlaluan ini.  Siapa yang menduga bahwa Jullian menyerahkan segala urusan yang menyangkut Arif pada Seorang Arnetta,  pelacur yang ia kenal sebagai penghancur hubungan anak dan menantunya.


"Namanya Arnetta,  bukan pelacur.  Perlu kuingatkan jika menantu kesayangan kalian tak kalah jalangnya dengan sebutan itu." sahut Jullian santai.  Pria itu menyeringai saat melihat wajah murka kedua orang tuanya.  Ia sudah jengah diatur harus begini san begitu dalam berumah tangga.  Keputusannya untuk berpisah dengan Lusi sudah bulat.  Ia muak menjalani kehidupan penuh kelicikan ini. Jullian ingin istirahat.


"Kau?!"


Jullian berdiri dari sofa yang semula ia duduki.  Baru beberapa menit ia sampai di rumah yang telah menjadi saksi hidupnya sudah mengundang kejenuhan.  Ia tak terbiasa hidup dengan kedua orang tua yang dulu tidak memerdulikannya, lalu kemudian bertindak seperti Tuhan dalam hidupnya.


"Lusi akan menerima surat perceraian itu besok.  Dia sudah resmi menjadi mantan istriku dan Arif akan ikut denganku." jelasnya.


Andara langsung berdiri begitu mendengar langkah anaknya yang dinilainya sudah cukup keterlaluan.  "Kau tidak bisa melakukannya.  Arif membutuhkan Lusi."


"Arif membutuhkan Bundanya,  dan dia ada di rumahku sekarang."


"ARNETTA TAK PANTAS MENERIMA PANGGILAN YANG MULIA ITU.  DIA KOTOR!" teriak Andara di depan wajah sang anak.


"KALAU BEGITU LUSI SAMA KOTORNYA DENGAN WANITA ITU.  DIA MENGANDUNG ANAK PRIA LAIN SAAT MENIKAH DENGANKU!"


Ruangan tamu itu mendadak hening.  Wajah andara pias setelah mendengar pengakuan dari mulut anaknya. Ia tak pernah tahu hal ini.  Andara hanya tahu bahwa Lusi melahirkan Arif dalam proses prematur.


Tidak! Arif cucunya.


"Tidak! Aku tahu Arif cucuku.  Kau pasti mengada-ngada." Racau Andara setengah tak percaya.  Mulutnya tak bisa menutup lagi dengan bongkahan batu yang mendarat tepat di hatinya.


Sedangkan James langsung melepaskan kacamatanya dan memijat tulang hidungnya.  Sejujurnya ia tak mau mengakuinya,  tapi kecurigaannya selama ini telah mendapatkan jawabannya.


"Mungkin saja.  Arif tidak mungkin lahir delapan bulan kehamilan Lusi,  padahal kami baru saja menikah selama enam bulan. Dia sudah membohongi kalian."


Tubuh renta Andara jatuh begitu saja di sofa. James dengan sigap langsung memegangi kedua pundak istrinya.

__ADS_1


"Lusi tidak mungkin membohongiku.  Dia..."


"Dia benar. Lusi telah membohongi kita." ucap James yang langsung membuat kedua orang itu terkejut.  Namun,  James memilih untuk melanjutkan perkataannya. "Saat Arif lahir aku sempat bertanya usia kehamilan Lusi saat kontraksi dulu."


Andara tak tahu harus mempercayai siapa lagi.  Anak dan suaminya memilih bungkam dari kenyataan ini dan menyimpannya rapat.  Wanita paruh baya itu merasa bodoh,  karena dirinya menjadi yang terakhir mengetahuinya.


"Aku akan pulang.  Pikirkan kebenaran dari keputusanku.  Jika aku masih dianggap anak kalian,  hormatilah keputusanku." ucap Jullian sebelum akhirnya pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang masih terpukul dengan semua ini.


**


Jullian terbangun karena suara benturan sebuah kayu terdengar di telinganya. Ia menyadari lampu kristal yang ia kenali berada di ruang tamunya tergantung di atas kepalanya.  Kedua matanya terpaksa untuk terbuka lantaran sinar yang menyilaukan dari arah sampingnya.


Pria itu sadar ia sampai ke rumah pukul tiga pagi.  Semua orang rumahnya sudah jatuh tertidur. Hanya satpam yang menjaga rumahnya saja,  yang terpaksa terbangun karena membukakannya pintu.  Semalaman ia hanya memutarkan kendaraannya tak tentu arah demi menghilangkan perasaan gamang dihatinya. Pertemuan singkatnya dengan kedua orang tuanya sedikit banyak. Mempengaruhinya. Ia tak terbiasa kehidupannya diusik sedemikian jauh, apalagi ayahnya yang hampir tak pernah menghargainya sebagai anak.


Ketika pria itu sudah berhasil menyadarkan diri dan duduk, ia melihat punggung sempit seorang wanita yang sedang menggendong seorang anak di belakangnya.  Wanita itu tampak sedang membersikan perabotan dengan bulu kemoceng begitu seriusnya sampai tidak menyadari kehadirannya.


Arif!


Anak yang sedang di gendong oleh wanita itu adalah anaknya. Sontak saja Jullian berdiri dan menatap tajam wanita yang berani membawa anaknya ke tempat penuh debu.


"Hei kau!  Turunkan anakku sekarang!"


Saat sosok wanita itu berbalik,  Jullian reflek memundurkan tubuhnya.  Ia memang tak memperhatikan sosok wanita yang mengenakan pakaian pelayan itu.  Ia tak pernah melihat ada pelayannya yang berambut pendek sepundak.  Namun,  ketika menyadari sosok itu,  amarahnya menguao seketika.


"Arnetta... "


Arif yang berada dalam gendongannya pun enggan menatap wajahnya,  karena ketakutan.


"Maafkan saya,  Tuan.  Tuan muda tidak mau saya turunkan." ucapnya.


Arif yang berada dalam gendongan  kain wanita itu menggerakkan kakinya murka.  "Namaku Arif, Bunda.  Bukan Tuan muda.  Siapa sih Tuan muda itu? Nakal!"


Mau tak mau Jullian pun mengedarkan pandangannya ke seluruh tubuh milik wanita itu.  Rambut panjangnya menghilang dan seragam pelayan yang dikenakannya membentuk tubuh kecil itu dengan sempurna.


Sialan!


Jullian memikirkan untuk menciumi wanita itu kalau saja tidak menyadari tatapan kosong yang ditujukan untuknya.  Arnetta tak merasakan apapun untuknya selain kekosongan.

__ADS_1


__ADS_2