
Lelaki itu berdiri tegap dengan wajah datar berhadapan dengan sosok yang berjasa melahirkannya ke dunia. Sumbangsi Gen DNA yang paling dominan membuat keduanya seperti kembar berbeda generasi. Namun, jalinan tak kassat mata diantara keduanya tidak tampak sama sekali. Seolah keduanya adalah dua lelaki asing yang sedang terlibat perselisihan.
Pria paruh baya yang tampak duduk di kursi kebesarannya sebagai Presiden direktur perusahaan Basuki menampakkan wajah tak sukanya atas kedatangan puteranya yang 30 tahun lalu lahir. Seolah kedatangannya hari ini mengundang mendung di dalam hatinya. Ia bukannya tak tahu maksud dari kedatangan sang anak hari ini. Apalagi dengan berita dan juga undangan ditangannya yang baru saja sampai kemarin malam di meja kerjanya. Ia tahu kalau Jullian pasti akan melaksanakan apa yang selama ini ia larang.
"Apa maksudnya semua ini?"
Jullian mendengus tak suka. Bukankah tanpa ia beritahukan pun ayahnya pasti sudah bisa menebak maksud kedatangannya hari ini. Sebenarnya, bisa saja ia melaksanakan semuanya tanpa perlu bersusah payah menemui ayah atau ibunya. Tapi, ia masih memiliki tata krama. Ketika ia menikah, dirinya pun harus menempatkan dirinya sebagai seorang anak. Apalagi ia akan menjadi seorang ayah sebentar lagi. Jullian tak mau menambah karma atas semua perbuatannya selama ini. Setidaknya ia ingin kedua orang tuanya tahu bahwa ia akan menikah besok. Terlepas kalau nantinya kedua orang yang telah melahirkannya itu tidak sudi mendatangi pernikahannya, ia tak peduli. Sungguh, bisa lepas dari penikahannya bak neraka terdahulu sudah menjadi hadiah terindah untuknya.
"Seharusnya tidak perlu lagi ada pertanyaan basa-basi seperti itu, Ayah. Sudah jelas undangan ditanganmu telah memperjelas hasil investigasi yang dilakukan orang suruhanmu atas kehidupanku." jelasnya tanpa tedeng aling-aling.
Basuki tidak bisa membantah perkataan putranya. Ia memang menyuruh kaki tangannya mengikuti semua tindak tanduk puteranya selama ini. Pria paruh baya itu pun sudah tahu bahwa Jullian menawan wanita dari masa lalu yang hampir membuatnya kehilangan keutuhan keluarganya. Tapi, Seperti yang ia dapatkan hari ini dendam yang dulu pernah diucapkan putranya seolah lenyap begitu saja. Tidak ada lagi niatan Jullian untuk membalaskan dendamnya pada wanita bernama Arnetta itu.
Menikahi wanita itu sama saja meleburkan kesalahan yang terjadi di masa lalu. Apalagi dari berita yang ia dapatkan, kini Arnetta tengah mengandung anak Jullian, yang sudah pasti anak itu nantinya adalah penerus keluarga Basuki. Sungguh, ia mengidamkan menimang cucu darah dagingnya sendiri, tapi bukan dari wanita ular yang hampir membuat istrinya meregang nyawa.
Basuki menghela napas beratnya. Pria paruh baya itu terdiam sebentar sebelum akhirnya membuka suara, namun tanpa mengurangi kadar ketidaksukaannya atas keputusan yang akhirnya diambil Jullian.
"Kepalamu sakit atau sesuatu membentur kepalamu, Nak? Dia wanita yang hampir membuat ibumu meregang nyawa akibat serangan jantung lima tahun lalu. Dia juga wanita yang hampir menipumu dengan berpura-pura menjadi Lusi. Dia juga ..."
"Tapi, dia adalah wanita yang telah aku perkosa hingga kini hamil. Kau tahu, Aku hampir saja kehilangan anakku, darah dagingku sendiri karena kecerobohanku."
__ADS_1
Jullian langsung menepis ucapan sang ayah. Ia sudah tahu semua masa lalu yang terjadi diantara mereka. Sepertinya ia sudah cukup muak untuk diingatkan seberapa cerobohnya ia dulu. Tapi, apa yang ada di hadapannya sungguh berbeda. Ia tidak bisa menemukan sosok wanita ular yang baru saja di ucapkan ayahnya pada diri Arnetta. Malah, Semakin ia mencoba untuk menyakiti wanita itu semakin sakitĀ pula hatinya. Apalagi melihat betapa sayangnya Arnetta dengan Arif melebihi ibu kandungnya sendiri.
"Sejujurnya kedatanganku hari ini hanya sebuah bentuk kesopananku pada Ayah. Aku akan memiliki anakku sendiri, darah dagingku. Aku tidak mau karmaku jatuh kepada keturunanku nantinya. Tidak pernah terpikir sebelumnya bahwa kalian akan sudi datang ke pernikahanku. Intinya, agar kalian tahu bahwa anakmu ini akan menikah dan segera memberikan kalian cucu. Hanya itu. Aku tidak akan meminta penerimaan kalian kepada Arnetta atau anakku nantinya." ujar Jullian dengan nada lirih. Membayangkan jika nanti anaknya akan ditolak sebagai cucu oleh orang tuanya saja sudah mulai mengaburkan matanya.
Basuki hanya termenung diam di tempatnya. Matanya sendu menatap putranya yang sudah benar-benar memiliki tekad kuat. Jullian tak pernah seyakin ini. Bahkan putranya itu masih bisa merubah keputusannya demi ibunya. Kali ini ia tahu kalau anaknya tidak main-main dengan ucapannya.
"Kau yakin? Jika ibumu tahu maka dia akan kembali meregang nyawa seperti lima tahun lalu. Sampai detik ini pun ibumu belum mengetahui perceraianmu dengan Lusi. Bagaimana caranya kita menjelaskan ini semua, Nak?" Ucap Basuki dengan kekhawatiran.
Jullian tidak langsung menjawab. Ia terdiam sebentar. Lima tahun lalu ia telah berkorban untuk menerima Arif yang notabenennya Jullian sendiri tak tahu dari mana asal usul putranya itu. Ia juga rela meninggalkan Arnetta demi menikahi Lusi atas permintaan ibunya. Kini, ia tak mau lagi menyembunyikan apapun lagi. Sudah cukup waktunya terbuang hanya untuk banyak kebohongan yang akan semakin parah nantinya.
"Aku harus menjelaskan semuanya kepada ibu, Yah!" Putusnya.
Basuki langsung berdiri dari kursinya dan berteriak ke arah Jullian. Matanya terbelalak begitu mendengar keputusan putranya. Bayangan sang istri yang pucat terbaring lemah di ranjang rumah sakit membayanginya bagai mimpi buruk. Bagaimana pun ia sendiri tak ingin kehilangan wanita yang sudah puluhan tahun bersamanya. Hanya Jullian harapan yang tersisa agar sang istri tidak kembali dalam kondisi mengenaskan seperti dulu.
"Aku harus! Ayah pikir aku tidak tersiksa selama ini. Banyak kebohongan yang sudah kita lakukan demi Ibu. Sekarang, sudah saatnya ibu menyadari bahwa kehidupan tidak bisa berjalan beriringan dengan mimpinya. Dia harus tahu bahwa aku menikahi Lusi yang sudah mengandung anak dari pria lain. Sudah cukup aku menahan semuanya. Dendam dan kebohongan yang selama ini kulakukan hanya akan membuatku kehilangan orang yang sejak dulu aku cintai."
Basuki mengusap wajahnya pias. Ia tak habis pikir bagaimana Jullian bisa sebodoh itu, masih mencintai wanita yang jelas nyaris membuat hidup mereka berantakkan. Andai wanita itu tidak nekad mengirim foto mesranya bersama Jullian, mungkin ia tidak semarah ini. Apalagi istrinya tahu bahwa Arnetta pernah menjajakkan tubuhnya hanya demi uang.
Namun, pikiran Basuki langsung terpecah belah kala melihat putranya sudah memosisikan dirinya bersujud dihadapannya. Putrany menunduk dan merendahkan harga dirinya saat ini. Tak ayal layaknya anak kecil yang memohon belas kasihan, Kini Jullian bersujud di hadapan sang ayah. Memohon untuk menyudahi semua penderitaan ini. Ia sudah cukup menderita dengan pengorbanan yang selama ini ia lakukan. Ibunya harus mengerti bahwa Jullian memiliki kebahagiaannya sendiri.
__ADS_1
Arnetta dan anak yang ada di dalam kandungannya adalah sumber kebahagiaannya saat ini. Ia pun sudah lupa dendam yang dulu pernah ia ucapkan.
"Tolong, kali ini biarkan aku menentukan hidupku sendiri. Aku tidak meminta apapun selain belas kasihan kedua orang tuaku. Ijinkan aku menikah dan menjadi seorang ayah yang sesungguhnya."
***
Arnetta mematutkan wajahnya di cermin. Dress kuning gading yang baru saja dipakaikan oleh para pelayan membuatnya tampak seperti seorang putri. Berbeda dengan keadaan sebelumnya, kali ini ia dilayani bak ratu di rumah ini. Semua pekerja sangat menghormatinya dan bersedia melakukan apapun yang ia minta. Bahkan hanya turun ke lantai bawah pun ia harus diam-diam, lantara semua yang ada disana melarangnya melakukan kegiatan apapun selain makan dan beristirahat. Hanya untuk mandi saja, Arnetta akan dilayani oleh tiga orang pelayan sekaligus.
Ketika ia bertanya mengapa semua sikap para pekerja di rumah ini tampak berbeda, Bibi Maria langsung menjawab,
"Tuan Jullian memerintahkan mereka untuk menjagamu dengan ketat. Bahkan, beliau mengatakan bahwa semua permintaanmu adalah perintah. Nikmati saja untuk saat ini dan jangan pikirkan apapun."
Wanita itu mengarahkan tangannya ke atas perutnya. Meski belum begitu besar, tapi Arnetta tahu sudah ada lekuk yang berbeda dari tubuhnya. Ia juga merasakan kehangatan yang mendalam saat tangannya menyentuh permukaan perutnya. Ada sebuah nyawa yang tumbuh disana, dan itu adalah darah dagingnya sendiri.
Tuhan mungkin telah mengambil sang ibu dari sisinya, tapi telah digantikan dengan seorang bayi yang akan lahir dalam kurun waktu 8 bulan. Ia sudah tak sabar untuk menimang bayi kecilnya.
"Kau Arnetta?"
Wanita itu langsung mengalihkan tatapannya pada sumber suara. Dilihatnya diambang pintu kamarnya, seorang wanita paruh baya yang tengah menatapnya dengan tatapan tajam. Tak lupa ada sosok lainnya yang juga berdiri di belakang wanita paruh baya tersebut. Saat ia berusaha menajamkan penglihatannya, ia pun terkejut mendapati Lusi tengah berdiri disana dengan senyuman liciknya.
__ADS_1
"Lusi?"