Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)

Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)
Bab 45


__ADS_3

"Saya sudah menemukan tempat di mana wanita yang anda cari bersembunyi, Pak Jullian."


Jullian hanya bisa terdiam membisu setelah kalimat itu terdengar di telinganya. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya ia merasakan kelegaan yang luar biasa. Wanita yang selama ini ia cari ternyata masih ada di dunia yang sama dengannya. Arnetta-nya masih hidup sampai saat ini. Memikirkan wanita itu bisa saja menghilang dari dunia ini membuat pasokan oksigen di dalam dadanya menyempit. Meksipun ia tahu cuaca hari ini sangat cerah di hadapannya dan kendaraan di bawah sana berlalu lalang dari balik jendela yang ia lihat, seolah tak ada sesuatu hal yang buru terjadi,  Jullian tahu jika karena wanita itu ia seperti ini.


"Saya akan kirimkan segera alamat di mana wanita itu tinggal sekarang, Pak."


"T-Tunggu ..."


Pria itu menarik napasnya sepelan mungkin, meski ia tahu ada sesuatu yang mendebarkan di dadanya. Pandangannya pun mendadak putih dan hanya ada wajah wanita itu di dalam benaknya. Bagaimana ia sudah melewatka tawa wanita itu dengan sangat lama. Ia bahkan lupa bagaimana cara Arnetta menyunggingkan senyumannya.


"Bagaimana kondisinya saat ini ? M-Maksudku ... apakah dia .. baik-baik saja ?"


Mendadak Jullian merasa bibirnya terlalu kelu untuk menanyakan kabar wanita itu. Ia terlalu ... malu untuk mendengarkan betapa baiknya atau mungkin sebaliknya hidup wanita itu tanpa dirinya. Akan tetapi pertanyaan itu tidak langsung di jawab oleh orang suruhannya di seberang sana. Pria itu terdiam sejenak sampai membuat Jullian hampir akan melemparkan makian padanya.


"Wanita itu baik, tapi ..."


"Apa ?"


Siapapun bisa menebak betapa bimbangnya pria di seberang sana untuk melanjutkan ucapannya. Dan pastilah it bukan kabar yang ingin Jullian dengan darinya.


"Saat ini, wanita itu tinggal bersama seorang laki-laki. Mereka ... Baru saja berpelukan mesra."


BRAK!


Pria itu memukulkan jendela kaca di hadapannya dengan sekuat tenaga. Beruntung, jika jendela itu tidak mengalami retakan berarti karena ulahnya. Tatapan matanya yang terpantul dari jendela itu juga menampilkan wajah menngerikan yang seolah bisa menelan siapa saja yang ia lihat.

__ADS_1


Arnetta bersama pria lain ?


Berpelukan ?


Bukankah seharusnya wanita itu tidak melakukanya ? Dia sedang hamil. Jullian tahu jika wanita itu bukanlah tipikal yang nakan mudah jatuh ke dalam pelukan lain. Apakah ia sudah sangat terlambat untuk memperbaiki semuanya ?


Apakah ia terlalu lama mencari dan menyadari kesalahannya sehingga wanita itu bosan menunggunya ?


***"Biarkan dia bahagia meski itu bukan berada di pelukanmu." ***


Ucapan bibi Maria langsung berdengung bagaikan musik mengerikan di telinganya. Ia bisa membiarkan wanita itu bahagia, tapi tidak mungkin jika Arnetta bisa bahagia jika tidak bersamanya. Ia hanya ingin wanita itu seorang. Tidak mungkin ia bisa mewaraskan dirinya melihat wanita itu berada dalam dekapan pria lain.


Jullian harus bisa menenangkan dirinya. Ia berusaha untuk menghembuskan napasnya secara perlahan. Marah bukanlah pilihan yang bijak jika ia masih ingin bertemu dengan wanita itu. Setidaknya ia harus memastikan jika apa yang ditakutkannya tidak menjadi kenyataan.


**


Seorang wanita tampak berbaring di tempat tidur dengan mata lurus ke arah langit-langit kamar. Sebelah tangannya tampak memberikan elusan ringan pada perutnya yang buncit. Pagi ini ia merasakan bayinya berputar di dalam sana.


Pagi ini dengan perasaan yang beradu menjadi satu. banyak hal yang Arnetta rasakan. Berbagai banyak jejak pikiran yang masih bersarang di dalam kepalanya. Apalagi sejak kemarin, saat di mana Patrick dan dirinya saling mengungkapkan pikiran semuanya tampak berubah. Suasana hati dan juga suasana di rumah ini pun berubah. Setelah kepulangan mereka kemarin, Arnetta belum sama sekali bertegur sapa dengan pria itu. Selain karena hatinya yang terlalu lelah berdebat dengan batinnya, semakin hari kondisi tubuhnya pun semakin mudah lelah.


Sejak kepulangan mereka kemarin, Arnetta langsung masuk ke dalam kamar dan tertidur sampai pagi ini. Dan, sekarang ia merasa harinya akan berubah mulai dari sekarang. Entah apa yang akan ia ucapkan nanti saat bertemu dengan Patrick. Pasti akan sangat canggung apalagi secara tidak langsung sekarang mereka sudah menjalin hubungan.


Patrick ...


Wajah pria itu masih terbayang dalam benaknya apalagi semua kata-kata manis yang di ucapkannya. Rasanya Arnetta ingin sekali mengalami kasmaran ini saat sekolah dulu. Namun, sayangnya sekolah saja ia tidak selesai karena kurangnya biaya.

__ADS_1


Selama ini ia sudah banyak menerima perlakuan tidak baik dari makhluk berjenis kelamin laki-laki. Ia hampir tidak pernah lagi merasakan kasmaran. Terakhir ... Ya, bersama Jullian lima tahun lalu. Setelah itu ia sudah tidak lagi ingat bagaimana rasanya kasmaran. Apalagi sejak ia menerima perlakuan yang tidak ingin lagi ia ingat lagi.


Setelah sekian lama, Arnetta berharap jika Patrick adalah sosok yang selama ini ia nantikan. Wanita itu tahu jika jauh di dalam lubuk hatinya ia merindukan sosok keluarga, lelaki yang bisa menjadi tempatnya berpulang. Bohong jika dirinya sudah jatuh cinta pada pria itu. Sampai detik ini masih belum ada rasa yang ia pikir adalah cinta pada Patrick, tapi ia tahu kasih sayang itu sudah mulai tumbuh di hatinya.


Patrick adalah sosok yang sangat sempurna. Tidak pernah ada celah yang ia lihat dari pria itu. Pria itu juga membuatnya bisa membayangkan seperti apa sebuah pernikahan dengan suami, istri dan anak di dalamnya.


Sambil mengelus perutnya yang sudah membuncit, Arnetta masih memikirkan jika suatu saat anaknya mungkin akan tahu kenyataan bahwa dirinya pernah menjual tubuhnya untuk setumpuk uang. Tapi, tetap ia akan mencintai anaknya, apapun masa lalunya. Dan perasaan penerimaan ini juga berkat Patrick yang selalu menguatkannya.


"Patrick ..." Setiap kali menyebutkan namanya, Arnetta langsung mengingat saat - saat manis bersama pria itu. Seandainya ia bertemu dengannya lebih cepat, bisa saja hidupnya tidak akan berakhir tragis seperti ini, Akan tetapi, Ia sudah cukup berterima kasih sudah mempertemukan dirinya dan calon anaknya dengan pria yang sangat sempurna seperti Patrick.


Setelah berkutat dengan berbagai pikiran, Arnetta memutuskan untuk menyudahka lamunannya dan bersiap untuk memulai harinya yang ia rasa sudah berubah. Semua kekelaman dan kegundahannya seakan terangkat sedikit demi sedikit. Begitu ia membuka pintu kamarnya, hal pertama yang ia lihat adalah bayanganseorang pria yang ia yakini sebagai sosok yang sejak tadi memenuhi benaknya. Tampaknya pria itu sedang menikmati waktunya berada di depan kompor. Entah apa yang ia masak, yang jelas aromanya saja sudah menggugah seleranya.


Arnetta memutuskan untuk berjalan mendekati pria itu. Terlihat punggung lebar yang terasa hangat setiap kali ia melihatnya. Pelan, tanpa sadar Arnetta pun semakin mendekatkan dirinya pada pria itu. Dan, seketika tangannya terulur unntuk mengelilingi pria itu. Reaksi terperanjat saat sebuah tangan mungil miliknya memeluknya, mencari kehangatan yang ia rasakan saat memandangi pria itu.


"Hai !" Sapa Patrick setelah menetralkan debaran jantung di dadanya. Sialnya, ia tak sempat menyadari kehadiran wanita itu. Kupu-kupu di perutnya seakan sedang berterbangan saat ia merasakan tangan mungil itu memeluknya dari belakang.


Wanita itu tahu jika dirinya tidak boleh melakukan hal ini, tapi sayang seluruh tubuhnya mulai bergerak tanpa perintah dari akal sehatnya. Yang ia ingin lakukan saat ini adalah merengkuh tubuh pria ini. Jika Patrick marah dengan tindakannya, ia siap menerima amarah pria itu.


"Maaf, aku hanya ingin seperti ini." Ujar Reva dengan suara lirih.


Tak lama, Patrick menarik tangan wanita itu agar pelukannya melonggar. Ia pun berbalik dan menemukan wanita itu sedang menundukkan wajahnya ke lantai.


"Hai, it's okay."


Patrick mengangkat wajah itu dan melemparkan senyuman manis kepada Reva. Rasanya sangat indah harinya ia bisa menikmati pelukan itu. Ia mau dan rela melakukan apa saja agar momen ini tetap bertahan ... selamanya.

__ADS_1


__ADS_2