
Seorang pria dengan jas putih tampak intens memandangi sosok pria lainnya yang hari ini datang sebagai seorang pasien. Tatapannya tampak meneliti bukan karena pasien ini asing baginya, justru ia mengenal betul siapa sosok yang datang hari ini sebagai pasiennya. Betapa terkejutnya ia ketika Jullian, pria yang datang pagi buta seperti ini dengan maksud untuk berkonsultasi. Padahal ia tahu betul jika pria itu enggan berhubungan dengan rumah sakit. Bagi Jullian yang ia kenal, selama masih bisa berjalan dengan baik maka tidak perlu berobat ke rumah sakit. Bahkan ketika mereka pertama kali bertemu sesaat setelah kecelakaan motor yang di alami Jullian, pria itu tidak merintih kesakitan meskipun beberapa tulangnya patah.
Dan kini, sosok Jullian yang menurutnya seperti tidak memiliki indera perasa itu tampak pucat dengan kantung mata yang sangat kentara bagi matanya yang kecil. Ia bisa menebak dengan mudahnya jika pria itu kekurangan waktu istirahat. Ditambah tubuhnya yang semakin kurus membuatnya yakin perihal apa yang sedang di hadapinya.
"Kau jauh tampak lebih mengerikan dari pada yang terakhir kali kulihat." Ujar Rian, pria yang memang sudah menjadi dokter pribadi keluarga Jullian selama beberapa tahun belakangan ini.
Jullian tidak banyak menyahuti, meski memang itu karakternya yang tidak lagi terbiasa bicara sejak kejadian lima tahun lalu. Rian mengenal Jullian sebagai pribadi yang mudah bergaul di kalangan atas, tapi sejak pernikahannya pria itu mendadak berubah dan cenderung menjauhi lingkungan sosial atasnya. Padahal Jullian ternasuk sosok yang paling supel bergaul.
Ternyata memang benar, sebuah pernikahan memiliki dampak yang luar biasa bagi seseorang yang merasakannya. Termasuk Jullian ini, mendadak seperti bukan lelaki yang ia kenal sebelumnya.
"Ya, begitu. Aku memang merasa tidak enak badan." Sahutnya sekenanya dengan kedua pundak terangkat.
Sudah sejak kepergian Arnetta, hampir setiap harinya Jullian menggunakan waktu istirahatnya untuk mencari keberadaan wanita itu. Tak jarang ia turun langsung mencari keberadaan wanita yang kini sedang mengandung anaknya itu. Entah bagaimana selama berbulan-bulan ini pula ia belum berhasil menemukan jejaknya. Arnetta menghilang seperti di telan bumi. Semua orang yang berada di sekitar rumahnya sama sekali tidak pernah melihat sosok wanita itu, dan beberapa bahkan ada yang bertanya kembali, apakah sosok wanita yang dicari itu benar-benar tinggal di lingkungan mereka.
Sungguh, Jullian sangat kekurangan waktu istirahatnya. Ia hanya punya tiga waktu dalam hidupnya sekarang, bekerja, mengurus Arif dan mencari keberadaan Arnetta. Pernah terbesit dalam benaknya untuk mencari wanita itu ke rumah sakit sebagai identifikasi korban meninggal tanpa identitas, namun ia menepis anggapan itu. Ia yakin wanita itu pasti masih hidup.
Rian, pria itu hanya bisa memandangi Jullian dengan tatapan iba. Bukan rahasia lagi jika Jullian sudah menceraikan istri sosialitanya itu. Ditambah dengan skandal penggelapan dana yang dilakukan keluarga istrinya semakin membuat Jullian terkenal dengan julukan duda segar. Namun, alih-alih menjadi duda yang bahagia justru Jullian tampak dalam kondisi seperti depresi. Lihat saja, kantung mata yang dimiliki pria itu semakin kentara.
"Kau kesini sangat pagi, bahkan aku pun belum datang. Kira-kira apa yang membawa Jullian yang tidak mau menjadi pasien kalau belum pingsan ?" Tanya Rian sedikit sarkas. Ya, sikap Jullian itu lah yang terkadang membuat sedikit kesal.
Jullian terkekeh, tapi tak ada kesan akrab dalam nadanya. Hanya kehampaan seperti layaknya orang yang tidak memasukkan perkataan itu ke dalam hati.
"Aku sakit."
__ADS_1
Rian memutar bola matanya malas. Ya tentu saja siapa pun yang melakukan pengobatan ke rumah sakit tidak lain karena dirinya tidak sehat atau sakit. Kalau pria ini mencoba untuk membuang waktu hanya untuk berbasa-basi maka Rian akan dengan senang hati mengusir pria itu.
"Aku tahu itu. Jangan membuat kepalaku sakit."
Jullian yang duduk di depan Rian pun memajukan tubuhnya dan tanpa terduga pria itu menyugar rambutnya dengan frustasi sebelum akhirnya menenggelamkan wajahnya ke meja praktik Rian. Melihat hal itu pun Rian langsung menghentikan aktivitasnya mengecek jadwal pasien yang akan melakukan control hari ini. Ia pun tahu kalau sakit yang dimaksud pria itu bukanlah sakit fisik.
"Ada apa ?" Tanya Rian penuh kehati-hatian. Ia tahu pada fase seperti ini Jullian adalah sosok yang bermental lemah. Salah-salah, pria itu bisa mengambil keputusan yang salah.
Jullian masih menenggelamkan wajahnya diantara kedua tangannya. Pria itu tak banyak bicara sampai akhirnya mengangkat wajahnya dan mengusap kasar wajahnya. "Aku salah. Aku salah."
Rian hanya bisa terdiam membisu. Banyak sesekali spekulasi bertebaran di dalam kepalanya, salah satunya adalah penyesalan akibat pernikahannya dengan Lusi. Sejak pernikahankeduanya, Seperti yang sudah-sudah, Jullian seakan menutup diri dari dunia yang sebelumnya ada pria itu eksis di dalamnya. Pria itu mendadak jadi irit bicara dan jarang datang ke perkumpulan, apalagi setelah kelahiran Arif, anak semata wayangnya. Namun, beberapa tahu setelahnya Rian tahu kalau anak itu bukanlah anak biologi dari Jullian.
Akan tetapi, setelah semua fakta itu Jullian tetap mempertahankan pernikahannya dengan Lusi. Dan selalu mengatakan Arif adalah anak semata wayangnya. Rian pun tidak melihat perbedaan kasih sayang. Jullian tampak sangat mencintai anak lelakinya itu.
Arnetta, sepertinya ia pernah mendengar nama itu di suatu tempat. Rian mencoba mengingat sosok wanita yang baru saja di sebutkan oleh Jullian. Tapi, rasanya sudah sangat lama ia tidak lagi mendengar nama itu. Asing baginya.
"Lima tahun lalu, wanita yang kau periksa di apartemenku. Dia lah ... wanita yang sedang kucari."
Rian mencoba kembali mengingat kenangan lima tahun lalu. Ya, ia ingat ada seorang wanita yang pingsan dan Jullian mengatakan kalau wanita itu bernama Arnetta, sosok yang datang menggantikan posisi Lusi saat pertemuan perjodohan mereka. Lantas ... mengapa ?
"Sebelum menikah dengan Lusi, aku sempat jatuh cinta dan berniat untuk menikahi wanita itu. Arnetta bukanlah orang asing, Dia adalah calon adik iparku. Tapi, ..." Jullian menghela napasnya sebelum akhirnya kembali melanjutkan, "Lusi membuatku membenci wanita itu. Wanita sialan itu pernah menjebak Arnetta dengan foto-foto tanpa busananya dengan pria lain. Aku pikir itu adalah foto yang memang menggambarkan Arnetta sebagai sosok murahan. Saat itu aku terlalu terbakar emosi dan langsung menikahi Lusi tanpa berpikir semua itu nyata atau hanya karangannya saja. Nyatanya, Lusi sudah menghancurkan hidupku dan membuatku seperti monster."
Rian mendengarkan dengan seksama cerita itu. Jika begitu adanya, tidak heran jika Jullian berubah menjadi sosok yang dingin setelah pernikahannya. Wanita yang pernah di cintainya sekaligus di bencinya.
__ADS_1
Jullian menegakkan tubuhnya. Wajahnya yang pias menggambarkan betapa banyak masalah yang sudah ia lewati.
"Lima tahun kemudian Arnetta yang dulu pergi ke luar negeri, kembali pulang dengan ibunya. Saat wanita itu membutuhkan uang untuk biaya pengobatan ibunya, aku malah memanfaatkannya. Aku ... menjebaknya hingga hamil. Aku memberikannya uang dengan balasan aku bisa menikmati tubuhnya sesuka hatiku."
"APA?!"
Rian sampai berdiri dari kursinya saking terkejutnya. Betapa bejatnya pria yang ada di hadapannya ini. Tidak disangka jika Jullian bisa sebegini kejinya.
"Apa yang kau pikirkan Jullian? Hanya karena wanita itu memiliki beberapa foto syur dan menyakiti perasaanmu, bukan egomu, tapi bukan berarti kau bisa menghancurkan hidup wanita itu." Sahut Rian dengan menggebu-gebu sambil memijat pelipisnya. Ia tak pernah mendukung bahkan membenci tindakan kasar laki-laki terhadap perempuan. Ia pernah memiliki sejarah laki-laki bejat seperti itu.
Jullian sudah menduga reaksi apa yang ia terima. Mungkin ia sudah gila membuka masalah hidupnya, tapi hatinya semakin sakit. Ia butuh seseorang yang menyalahkan dirinya, bukan mengatakan dirinya untuk bersabar menemukan wanita itu seperti yang dikatakan Maria. Pria itu buku penghakiman untuk mmebuta dirinya sendiri jera.
"Sekarang dia pergi. Aku sudah menghancurkan hidupnya. Dia mengira aku adalah harapannya, tapi aku malah membawa neraka dunia padanya." Ujar Jullian lagi dengan penuh sesal. Ia snagat menyesal. Betapa banyak luka yang sudah ia torehkan pada wanita itu. Kalau pun Arnetta nanti menusuknya dengan pisau, ia rela. Sudah sepantasnya jika wanita itu membencinya.
"Lantas, sekarang kau masih mencarinya ?" Tanya Rian dengan mimik serius dan tatapan tajam. Pria itu berharap Jullian bisa menyesali perbuatannya. Karena kalau tidak, ia sendiri yang mungkin akan menyadarkannya dengan segala cara.
Jullian mengangguk pasti dengan pandangan kosong dari mata elangnya. "Ya, aku sangat mencintainya. Aku pernah mencintainya, pernah membencinya dan kini aku semakin mencintainya. Apalagi kami akan memiliki anak."
"Biar pun dia nantinya tidak memilihmu dan memiliki masa depan dengan laki-laki lain, apakah kau bersedia ?"
Kali ini sepasang mata elang itu pun menghilangkan pandangan kosongnya dan memandang Rian dengan mata memerah. "Tidak, aku sudah memastikan aku tidak akan membiarkan orang lain memilikinya. Kalau pun aku harus mati, aku perlu memastikan tidak akan ada laki-laki lain yang bersanding di sampingnya."
"Kau gila, Jullian! Kau tidak waras."
__ADS_1