
Rintik hujan memebasahi bumi dengan tenang. Pohon yang rindang di sekitar pemakaman mulai membiaskan tetesan basah bagi siapa saja yang berjalan di bawahnya. Sama halnya seperti pemakaman hari ini yang dibiarkan begitu saja. Terasa dingin dan sunyi.
Pemakaman Ratih tak diiringi oleh isak tangis. Tak ada satu pun dari tiga orang yang hadir disana mengeluarkan tangisannya. Hanya dua orang wanita dan seorang pria yang mengantarkan jasad itu menyatu dengab bumi.
Jullian menatap tanah yang mulai mengubur peti mati itu dengan tatapan sendu. Meski belum lama ia mengenal sosok itu, Jullian tahu bahwa ibu Arnetta adalah sosok yang penyayang. Wanita itulah yang pertama kali mengetahui hubungannya dengan Arnetta. Siapa yang menyangka dibalik sosoknya yang rapuh, Ratih bisa nekad mengakhiri hidupnya sendiri.
Ratih menegak racun. Begitulah penjelasan yang ia dapatkan dari pihak rumah sakit. Kendati penanganan sudah semaksimal mungkin, tapi kondisinya yang lemah membuatnya tak memiliki cukup harapan untuk hidup.
Sejenak tatapan Jullian berpindah ke arah wanita dengan balutan dress hitam yang duduk di atas kursi roda. Tatapan wanita itu kosong mengarah ke pusara dimana ibunya beristirahat. Kemarin, setelah Jullian menamparnya Arnetta jatuh pingsan. Wanita itu tak sadarkan diri untuk waktu yang cukup lama sehingga pemakaman Ratih harus di tunda selama dua hari. Biar bagaimana pun Jullian harus menghormati bahwa Arnetta berhak mengantar kepergian ibunya.
Sampai detik ini wanita itu tak bersuara. Arnetta kembali menjadi sosok yang diam seperti patung. Kantung mata yang membesar cukup memberikannya bukti kalau semalaman Arnetta menangis.
Setelah ini Jullian tak berani membayangkan apa yang akan terjadi dengan Arnetta. Seharusnya ia bisa membuang wanita itu begitu saja. Jullian harusnya tak usah memperdulikan Arnetta yang pingsan kala itu di rumah sakit. Ia bisa memerintahkan petugas keamanan untuk menyeret wanita itu ke jalanan. Tapi, anehnya Jullian malah merawatnya dan menungguinya saat Arnetta tak sadarkan diri. Bahkan, saat ini Maria ia tugaskan untuk merawat Arnetta yang tidak mau menggerakkan anggota tubuhnya sendikitpun. Jika kemaren wanita itu mau bereaksi saat berada di dekat Arif, sekarang Arnetta seperti menutup dirinya pada semua orang.
Arnetta hidup, tapi seperti mati. Tak ubahnya mayat hidup, wanita itu seolah tinggal menunggu Tuhan mencabut nyawanya. Tidak ada pancaran semangat hidup di kedua matanya. Semua redup saat perlahan hidupnya hancur berkeping.
"Lebih baik kita pulang. Hujannya semakin deras."
Jullian terengadah menatap langit. Hamparan luas di atasnya memang menampilkan awan gelap yang pekat. Hujan sebentar lagi akan turun sangat deras. Tentu saja, tetesan air yang banyak itu akan menyakiti dirinya.
"Baiklah, tapi ..."
__ADS_1
Pria itu berjalan arah Maria yang sejak awal mendorong kursi roda yang di duduki Arnetta. Ia mengambil alih tugas Maria dan mendorong pelan kursi itu.
"Biar aku yang mendorongnya."
Sejenak Maria diam terpaku. Ia masih belum melepaskan sebelah tangannya yang memegangi sebelah gagang dorongan kursi roda itu. Namun, Jullian meleparkan tatapan dalam pada pekerjanya yang sudah mengasuhnya sejak kecil. Ia sendiri maklum dengan reaksi wanita paruh baya itu. Siapa pun yang melihat sikapnya yang dulu membenci Arnetta pasti akan menaruh curiga. Bisa saja ia mendorong kursi roda itu ke jalanan dan membiarkan Arnetta di hantam oleh kendaraan yang melintas. Meski ia pernah ingin membunuh wanita itu, tapi detik ini Jullian tidak atau mungkin belum menginginkannya. Ia merasa tidak pantas memanfaatkan kondisi wanita itu yang sedang tidak berdaya.
"Kalau begitu, Bibi ke mobil terlebih dahulu."
Maria pergi begitu saja meninggalkan Jullian bersama Arnetta berdua. Awalnya ia menaruh curiga pada Jullian, namun ia tahu kali ini pria itu takkan tega menyakiti Arnetta yang sedang rapuh itu. Mungkin ada hal yang akan dibicarakan Jullian kepada Arnetta.
Setelah melihat Maria berjalan cukup jauh di depannya, Jullian mendorong kursi roda itu dengan perlahan. Semilir angin dingin yang menerpa wajahnya dirasakannya dan dinikmatinya dengan hikmat. Ia tahu meski enggan bicara, tapi Arnetta tak mungkin tidak menyadari kehadirannya.
"Aku memang membencimu. Aku benci atas kenangan kita yang sudah berlalu. Aku ingin menghancurkanmu."
Wanita itu senantiasa mendiamkan apa yang di ucapkan Jullian. Tatapan matanya lurus ke depan dengan kekosongan. Jarinya pun tak merespon hal tersebut.
"Saat ini aku tahu kau rapuh. Untuk itu aku takkan menyiksamu lagi. Kau hanya perlu melunasi sisa hutangmu dengan menjadi pelayan. Aku tidak mau menyentuhmu lagi."
Jullian tahu keputusannya ini seperti meluluhlantahkan usahanya untuk membalaskan dendam pada Arnetta. Seharusnya ia menyesal dan merasa sia-sia, tapi anehnya justru ia merasa lega. Ia lebih baik melihat Arnetta menjadi pelayannya saja. Jullian tahu setelah melihat betapa hancurnya Arnetta saat kepergian ibunya, bukan lagi pada wanita itu ia merasa jijik. Tapi, Jullian pasti merasa jijik pada dirinya sendiri.
"Anggap saja aku sudah merasa jijik padamu, tapi tak ingin membuangmu ke jalanan atau membunuhmu. Itu saja." jelasnya diakhir.
__ADS_1
Namun, pria itu tak tahu bahwa saat kalimat itu tercetus, setetes air mata jatuh begitu saja menuruni mata wanita itu. Dalam. Kediamannya, Arnetta merasa rendah. Hatinya yang hancur semakin merata dengan tanah. Ia sudah tak memiliki apapun untuk merasakan sebuah rasa. Hatinya hanya menunjukkan rasa sakit yang mendalam sampai tulangnya terasa ngilu.
Jullian sudah jijik, lebih buruk dari pada pria itu yang menjadikannya budak napsu. Itu artinya, ia sudah tak ada artinya lagi.
Saat Jullian sampai di depan mobil, pria itu memerintahkan supirnya yang tadi menggendong tubuh Arnetta dari mobil ke kursi roda untuk menjauh. Pria itu dengan mudahnya memgangkat tubuh ringkih itu masuk ke dalam mobil. Ketika ia sudah duduk di samping Arnetta di kursi penumpang, alismya tertaut. Wajah wanita itu basah seperti habis menangis. Jullian tak bisa membedakan kedua mata itu, karena sejak kemarin mata Arnetta memang tampak memerah.
"Wajahnya basah." gumamnya.
"Mungkin hujannya sudah mulai deras." ucap Maria yang duduk di samping kursi supir. Dalam hati ia merasa lega melihat sikap Jullian yang mulai berubah beberapa hari ini. Pria itu sudah tidak lagi mengutuk wanita malang itu. Ia merasa kasihan melihat kemalangan bertubi-tubi yang dialaminya. Jalan Arnetta menuju kebahagiaan sepertinya masih sangat panjang.
Setelah mobil Jullian meninggalkan kompleks pemakaman, seorang wanita muda lainnya dengan kacamata hitam dan payung hitam yang menutupinya dari hujan mendatangi makam Ratih. Rahangnya mengetat saat melihat nama yang terukir diatas nisan itu. Ia sungguh tak menyangka jika ucapannya tak sebanding dengan rasa cintanya pada Arnetta.
Kenapa semua orang mencintai wanita sialan itu?
Bertahun-tahun ia berusaha meyakinkan Ratih untuk meninggalkan Arnetta, tapi tak pernah si gubrisnya. Bahkan, wanita itu rela mati demi menyelamatkan harga diri anaknya.
Huh!
Arnetta sudah tidak memilikinya. Wanita yang sudah bertanggung jawab atas beban yang di pikulnya harus menderita. Terutama, wanita yang sudah menghancurkan. Kehidupan pernikahannya.
"Aku rasa cintaku saja tidak cukup untuk menggantikan anak sialanmu itu, Bu. Aku benci mengatakan jika kau ikut bersamaku dan ayah pasti sekarang kita sudah bahagia. Aku tidak butuh Amara sebagai ibuku. Aku hanya ingin kau yang menjadi ibuku. Tapi, sepertinya kau lebih memilih mati dari pada melupakan anakmu itu."
__ADS_1
Meski perkataan yang keluar dari mulutnya terdengar sinis, tapi wanita itu tak kuasa menitihkan air mata. Betapa ia mencintai Ratih seperti ibunya sendiri. Puluhan tahun ia berusaha menggantikan posisi Arnetta dihati Ratih. Kini, wanita yang ia inginkan untuk melengkapi hidupnya telah menyatu dengan tanah. Tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain satu hal. Setelah itu, wanita itu akan hidup dengan tenang.
"Semuanya harus menderita, terutama Arnetta. Kau tidak pantas hidup tenang. Namaku bukan Lusi jika kau tidak hancur di tanganku!"