Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)

Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)
Bab 13


__ADS_3

Seorang anak laki-laki terlihat sedang berjalan ke arah pintu yang saat ini tidak tertutup rapat. Matanya memperhatikan dengan seksama siluet yang amat sangat dikenalinya tampak berjalan ke sana kemari di dalam ruangan tersebut. Langkah kakinya tak bersuara. Layaknya kucing, pergerakannya tak terdengar oleh siapapun.


Bahkan, dilarang untuk terdengar.


Sambil memeluk erat mainan mobil-mobilan ditangannya, anak itu memperhatikan bagaimana gerak-gerik wanita yang sangat ia rindukan. Dalam hati kecilnya, ia ingin memeluk wanita itu dari belakang dan bermanja dengannya. Namun, jika ia lakukan itu maka dunia akan membencinya. Wanita itu pasti akan sangat marah dengannya.


"Nyonya ..."


Hanya ketika mereka berdua panggilan itu mulai berlaku. Bocah laki-laki itu dilarang untuk memanggilnya seperti yang sudah selayaknya dilakukan. Wanita itu takkan pernah suka jika bibirnya memanggil dengan kata "ibu".


Wanita itu pun menoleh. Tangannya yang semula sedang memasukkan barang-barang ke dalam tas pun  terhenti. Wajahnya datar melihat bocah itu. Tak ada kehangatan ketika melihat sebagian dari dirinya berdiri dihadapannya. Ia berlaku seperti orang asing.


"Aku sedang mengepakkan semua bajumu. Kau akan pergi bersama ayahmu itu. Aku ingin jalan-jalan ke luar negeri." Ucapnya.


Bocah itu hanya terdiam membisu. Entah mengapa sesuatu dalam dirinya terasa sakit. Meski ia belum cukup besar untuk mengartikannya, bocah berumur lima tahun itu tahu sesuatu menyakitkan didalam sana telah melubangi dirinya. Semua itu hampir membuatnya menangis meraung, persis seperti yang dilakukannya ketika seorang diri.


Lusi, nama yang ia tahu adalah milik ibu yang telah melahirkannya ke dunia itu pasti takkan sudi mendengarkan tangisannya. Hanya cercaan yang akan ia dapatkan. Lima tahun sudah ia belajar betapa tidak diinginkannya ia berdekatan dengan ibunya. Bahkan menganggapnya seperti seorang ibu pun haram hukumnya. Hanya ayahnya yang mencintainya. Meski tinggal terpisah, entah mengapa ia begitu dekat dengan ayahnya. Pria yang senang bekerja, begitu pengasuh mengatakannya. Tapi, sesibuk apapun ayahnya bekerja, Arif akan tetap mendapatkan perhatian.


Dekat tapi terasa jauh dan jauh tapi terasa dekat.


Begitulah bocah kecil itu mulai memahami ikatan yang terjadi diantara kedua orang tuanya dengan dirinya sendiri. Ia dipaksa untuk menjadi dewasa dan harus mengerti bahwa ia takkan hidup seperti anak normal lainnya. Ketika ibunya berkata bahwa ia akan bersama dengan ayahnya, rasanya seperti angin segar. Ia bisa menjalani harinya dengan bermanja-manja bersama ayahnya. Dan ia menyukainya sampai terbit senyuman lebar yang disadari oleh wanita dewasa didepannya hingga terpaku.


***


Pria itu duduk diatas sofa yang sengaja berada di kamarnya. Ia memperhatikan wanita yang sejak tadi hanya diam dalam keadaan terlentang di tempat tidurnya. Mungkin dipikir orang diluar sana, ia akan menghabiskan malam penuh gairah bersama wanita ini. Wanita yang sengaja dipoles hingga menawan seperti bidadari itu nyatanya tak membuat minatnya bangkit. Justru pria itu malah mendiamkannya sambil mengamati.


Sejak malam itu, dimana Jullian membawa Arnetta ke rumah bordil kelas tinggi dan setelahnya kembali meniduri wanita itu dengan paksa, hanya kediaman yang ia dapatkan. Wanita itu bergerak sesuai dengan perintah. Bak boneka, tidak ada lagi suara yania dengar sejak malam itu. Arnetta memilih untuk mendiamkan semua orang seolah hanya dirinya yang hidup di dunia ini.


Jullian memijat pelipisnya. Kepalanya sangat sakit mengingat apa yang terjadi pada wanita itu dan juga dirinya. Seharusnya ia bahagia dan bangga atas apa yang sudah dilakukannya pada wanita itu. Sudah lima tahun ia meyakini bahwa wanita ini pantas mendapatkan penderitaan akibat dari perbuatannya.

__ADS_1


Menyelingkuhi dan juga membuat ibunya terkena serangan jantung. Itulah yang membuat Jullian begitu membenci Arnetta. Setelah foto-foto adegan panas wanita itu dengan seorang pria yang ditunjukkan Lusi kepadanya, Arnetta seolah tak habis menggempurnya dengan mengirimkan foto ciuman mereka kepada ibunya saat mereka sedang berkencan di taman hiburan. Jullian tak habis pikir dengan perbuatannya saat itu. Namun, apa yang dipikirkannya pantas untuk Arnetta ternyata tak mampu memuaskan hatinya. Malah, ia merasakan sakit setiap kali menyakiti wanita itu.


Pria itu menunduk, memperhatikan bekas luka ditangannya. Memar yang kini sudah menghitam itu bukan diakibatkan oleh kekerasan yang diberikan orang lain kepadanya, tapi dirinya sendiri yang menyakiti tubuhnya. Jullian ingat pertama kali ia memperkosa Arnetta, ia pun tak tahan dan memukulkan tangannya ke dinding hingga dirinya mengalami cidera. Tak ada yang mengetahui tentang hal ini. Tidak juga Bibi Maria yang dirasanya membela Arnetta sejak dulu.


Jullian menyimpannya seorang diri. Setiap kesakitan yang dirasakan wanita itu akan selalu ditebusnya dengan kesakitan pula. Ia sendiri tak mengerti mengapa dirinya melakukan itu semua. Ketika hatinya merasa perih setelah menyakiti wanita yang pernah dicintainya, tubuhnya akan bergerak tanpa perintah dan mulai mencetak luka disekujur tubuhnya.


Mencintai memang indah, tapi dalam kehidupan Jullian kata itu berbanding terbalik. Ia mencintai Arnetta dan juga melubangi hatinya. Ia belum siap untuk disakiti, disaat Arnetta melubangi hatinya. Jullian benci mengakui jika saat ini pun hati kecilnya masih mendambakan wanita itu sepanjang hidupnya.


Perlahan, Jullian bangkit dan berjalan ke arah Arnetta. Wanita itu tak bereaksi sama sekali, bahkan ketika Jullian sudah mulai mendudukkan dirinya di pinggir tempat tidur. Wajahnya yang sedikit pucat tak bisa disamarkan oleh make up tebal yang sudah diperintahkan Jullian kepada para pelayannya. Baginya, ia lebih baik melihat Arnetta yang seperti ini dari pada harus melihat wajah menyakitkan wanita itu. Rasanya hatinya remuk redam tanpa disadarinya. Sejujurnya sewaktu Arnetta bersujud di kakinya, Jullian ingin memeluknya dan menciuminya sampai mereka kehilangan napas. Tapi, bayangan menyakitkan lima tahun lalu sulit untuk dilenyapkan. Apalagi Arnetta sudah berani mengusik kehidupan ibunya, wanita yang paling ia hormati di dunia ini.


BRAK!


Pintu terbuka begitu saja ketika Jullian hampir mengangkat tangannya menyentuh wajah Arnetta. Sontak saja kemarahan pun bangkit kala dirinya merasa terusik dengan suara gaduh itu. Tapi, ketika ia menolehkan wajahnya ke arah pintu dibelakangnya, amarah pun suruh dan tergantikan oleh senyuman. Siapa yang menduga saat semua orang di rumah ini tunduk kepadanya, hanya akan ada sosok yang paling tidak sopan masuk ke dalam hidupnya. Dan sejak kelahirannya pun, Jullian sudah mengijinkan sosok ini untuk bertingkah tak sopan dengannya.


Dengan langkah kecilnya, sosok itu pun berlari ke arah Jullian dan langsung merentangkan tangannya. Bocah itu langsung memeluk erat pria favoritnya sepanjang masa. Tak ada yang pernah bisa menyayanginya seperti yang dilakukan Jullian kepadanya.


"Ayah, aku merindukanmu!" Serunya penuh semangat.


"Ayah juga sangat merindukanmu, Jagoan."


Jullian meresapi wangi bedak yang sangat ia suka dari Arif. Anaknya yang amat ia cintai meski ia tahu bocah itu bukanlah darah dagingnya. Rasa cinta itu sudah terbit ketika pertama kali suster menyerahkannya. Jullian sudah berjanji takkan melibatkan anak itu ke dalam kehidupannya yang rumit.


Pandangan Arif pun teralih pada sosok yang duduk dibelakang sang ayah. Sosok wanita yang ia ingat pernah bertemu dengannya beberapa waktu lalu.


"Tante cantik."


Jullian pun tertegun mendengar panggilan itu. Sesaat ia tersadar dimana mereka sekarang dan Arif telah melihat Arnetta yang berada di kamar ini.


"Ayah, tante cantik melamun."

__ADS_1


Pria itu mulai menguraikan pelukan mereka dan ikut memandangi wajah Arnetta yang masih saja memandangi langit kamar dengan tatapan kosong. Entah apakah Arif menyadari kondisinya atau anak itu hanya sekedar mengenalinya.


"Kau tahu dia?" Tanya Jullian dan langsung dibalas anggukan semangat oleh Arif. Bpcah kecil itu pun merangkak menjauhi sang ayah dan mengarahkan kakinya ke sisi kosong Arnetta. Ia pun ikut terbaring disamping wanita itu dan membisikkan kata,


"Tante, masih ingat denganku?"


Hening.


Percuma. Takkan ada kata yang keluar dari bibir wanita itu. Arnetta hanya diam tanpa ada niat membalas pertanyaan yang dilayangkan Arif kepadanya. Hal itu pun tak luput dari pandangan Jullian sebelum pada akhirnya terputus karena ponsel disakunya berdering. Melihat id caller, Jullian dengan terpaksa meninggalkan keduanya. Meski berat, ia berharap Arif tak mengetahui apapun dari mulut Arnetta yang terbuka membongkar semuanya.


Pria itu pun keluar dari kamar tanpa menutup pintunya. Rahangnya menegang begitu mendengar suara yang paling ia benci. Wanita itu takkan pernah berhenti mengganggunya dan akan selalu begitu. Tanpa basa-basi, Jullian pun bertanya apa yang diinginkan olehnya dengan nada tak bersahabat.


"Mengganggu orang yang sedang sibuk, kau pikir kepentingan apa itu sampai harus mengganggu kesenanganku, Lusi?"


Wanita di seberang sana terdengar mendengus tak suka. "Aku sudah menepati janjiku dengan mengirim Arif kesana. Kesepakatan kita adalah kau yang akan menginvestasikan setengah sahammu kepada ayahku. Apa kau lupa?"


Jullian menyeringai sinis. Kalau bukan uang, tentunya Lusi takkan berani selancang ini kepadanya. "Aku tidak lupa. Aku bukan laki-laki seperti itu, istriku."


"Aku hanya memastikan penandatanganan berkas harus kau lakukan nanti malam di Makassar. Aku harap anak sialan itu tidak menahanmu."


Kalau saja wanita itu sudah berada dihadapannya, sudah pasti Jullian akan memukulinya sampai memohon ampun. Ia takkan segan menyakiti siapapun yang menghina anaknya, meskipun ia harus menyakiti seorang wanita.


"Sekali lagi kau menghina anakku, maka akan kupastikan ibumu akan hangus terbakar di rumahnya bersama uang sialan itu!"


Tak ada kata di seberang sana sampai akhirnya Jullian mendengar sambungan telepon mereka terputus. Sama seperti Jullian yang melindungi Arif, Lusi juga melakukan hal yang sama dengan ibunya. Takkan ada yang bisa dilakukannya selain menurut bila Jullian sudah menyeret ibu mertuanya itu ke dalam pembicaraan mereka.


"Aku sudah makan tadi di rumah, tapi kalau tante mau makan, Arif juga akan makan."


"Kalau begitu, kita turun dan kau akan makan bersamaku."

__ADS_1


Mungkin jika mendengar suara Arif saja membuatnya tak seterkejut ini. Jullian sampai menahan napasnya kala mendengar suara Arnetta ikut menimpali. Setelah nyaris empat hari terdiam bagai patung, kini suara itu kembali terdengar dan ketika Jullian membalikkan tubuhnya, ia menemukan Arif yang sedang duduk dipangkuang Arnetta yang sedang menciumi kepala belakang anaknya.


Ia berhenti bernapas, apalagi saat melihat senyuman lembut milik wanita itu untuk anaknya. Sebuah rasa yang tak asing seolah kembali hidup didalam hatinya. Dengan senyuman yang sama seperti lima tahun silam, Jullian tahu rasa cinta sialan itu masih ada dan suatu saat bisa bangkit seperti sekarang ini. Tapi, dirinya seolah terlarang untuk menghentikan pemandangan ini dan semakin larut seolah sedang melihat anaknya yang sedang bercengkrama dengan istrinya.


__ADS_2