Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)

Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)
Bab 48


__ADS_3

Katanya rasa serakah dapat membuatmu jatuh ke dalam lubang kesedihan yang mendalam. Semua yang terlalu berlebihan tentu takkan baik jadinya. Ya, seperti itu katanya. Namun, bagaimana jika selama ini seorang manusia tidak pernah mendapatkan hidup, kembali hidup karena sebuah rasa ingin memiliki.


Bukan cinta, Wanita itu tahu persis perasaan di dalam hatinya. Rasa ingin memulai semuanya dengan selayaknya. Ingin merasakan rasa bagaimana dicintai. Soal mencinta, ia sudah lupa.


Arnetta memandangi punggung lebar pria yang baru saja meninggalkan rumahnya. Sosok pria yang bahkan baru dikenalnya beberapa bulan terakhir tak membuatnya curiga atau merasa takut. Justru sebaliknya, kehadiran pria itu membuat hidupnya lebih ringan. Bebannya sedikit terangkat.


Sedikit ?


Ya, hanya sedikit. Terkadang masa lalu membuat Arnetta enggan membuka diri sepenuhnya. Ada kepingan masa lalu yang berteriak di kepalanya. Betapa rendah dirinya yang dulu, membuat rasa tak percaya diri menguar dari pikirannya. Semua pengorbanan yang sudah ia lakukan seperti sebuah aib baginya. Ibunya tidak pernah kembali ke sisinya dan ia kehilangan martabat hidupnya.


Patrick adalah semua yang paea wanita inginkan. Baik, mapan, kaya, karir cemerlang dan juga rupawan. Pria itu telah menjelma sebagai perwujudan sosok yang selalu diimpikan semua wanita di dunia ini. Bahkan dulu ia sempag bermimpi untuk memiliki belahan jiwa seperti itu. Namun, Tuhan mengabulkan setelah dirinya mengalami banyak kesakitan. Ia sudah terlanjur menjual harga dirinya hanya untuk uang. Hal yang bahkan tidak bisa menyelamatkan nyawa ibunya. Ditambah lagi ia hanyalah wanita dari keluarga yang tidak harmonis. Ayahnya yang masih hidup pun entah bagaimana keadaannya saat ini. Memiliki keluarga baru dengan Lusi dan Amara, pasti sudah membuat pria paruh baya itu melupakan bahwa sosok Arnetta Revalina pernah terlahir sebagai darah dagingnya.


Wanita itu menutup daun pintu ketika sosok Patrick telah menghilang sempurna dari pandangannya. Kini hanya tinggal dirinya seorang di rumah ini. Kembali kepada rutinitasnya sebagai seorang wanita yang masih berstatis menumpang di sini. Ia menengadahkan kepalanya ke langit rumah. Pondasi kayu itu bersusun membentuk langit yang nampak sederhana. Sama seperti pemiliknya, Patrick menggambarkan rumahnya selayaknya kepribadiannya. Sederhana dan nyaman.

__ADS_1


Arnetta ingin egois. Ia mulai merasa ingin sekali memiliki pria itu. Perasaan yang selalu menggerogoti jantungnya. Ia ingin hidup sebagai seorang ibu dan seorang istri dari pria sebaik Patrick. Ia lelah menjadi kotor. Pikirannya selalu berkata bahwa ia pantas mendapatkan kesempatan. Namun, ingatan akan masa lalu menjadi puncak keraguan di hatinya. Cacian dan hinaan yang dulu ia terima masih menghantuinya disetiap malam. Rasanya bagai mimpi ia bisa bernapas dengan leluasa seperti ini.


Entah bagaimana orang-orang di masa lalunya, ia sudah tidak peduli lagi. Baik itu Lusi, Amara, ayahnya, atau pun ... lelaki yang telah menorehkan luka semakin dalam di hatinya. Arnetta sudah tidak mau mengingat orang-orang itu lagi. Kini dirinya yang sekarang adalah Reva, nama yang tak sengaja ia ambil dari nama tengahnya. Biarlah Patrick mengenalnya sebagai Reva, wanita hamil yang hidup sebatang kara. Kalau pun nantinya pria itu tidak lagi mau menampungnya, setidaknya ia akan menyiapkan jika saat itu ia dan bayinya dalam keadaan yang baik-baik saja.


Setelah merasa nyaman dengan suasana rumah yang cukup hening, Arnetta atau bisa dikatakan sekarang adalah, Reva, mulai memosisikan dirinya duduk di sofa panjang sambil menaikkan kakinya agar sejajar dengan tubuhnya. Kehamilan membuat ia mengalami banyak perubahan bentuk fisik, salah satunya di kaki. Ia sering mengeluhkan bahwa kakinya telah mengembang seperti kepala paus. Tapi keluhan itu terdengar oleh Patrick maka pria itu tak segan memberikan tatapan tajam. Pria itu selalu berkata bahwa semua wanita hamil yang berkaki bengkak adalah kecantikan yang mutlak. Tidak ada makhluk paling mulia dan tercantik di dunia ini selain seorang ibu hamil. Ya, meski terdengar sangat dilebih-lebihkan tapi Arnetta cukup terhibur dengan ucapan itu.


Kadang ia sendiri sangat takut jika mimpi buruk itu datang lagi. Sosok itu sudah tidak lagi menjadi damba di hatinya. Ketika ia mencoba memejamkan mata dan sosok itu tertangkap oleh retinanya, maka saat itu ia ingin melenyakan dirinya sendiri.


Perlahan ia bangkit dan berjalan menyusuri rumah yang belum lama ini ia tinggali. Tatapannya jatuh pada kolam ikan kecil yang berada di taman belakang. Sejak awal kedatangannya tempat itu memang sudah ada, tapi berkali-kali Patrick bilang taman itu bagus untuknya dan juga calon anaknya menghabiskan waktu. Ya, Sebentar lagi anaknya akan lahir dan mungkin saja akan menempati rumah ini. Entah sebagai apa. Apakah sebagai anak dari pemilik rumah atau hanya ... anak pembantu. Yang jelas ia cuma ingin hidup damai bersama buah hatinya. Meski ia tak pernah mengharapkan datangnya janin ini, tapi ia sudah sangat menyayanginya. Ia tidak lagi sendiri di dunia ini. Ditambah ada Patrick dengan sejuta harapan yang ia tahu tidak bisa dipercaya sepenuhnya.


"Reva, kita kedatangan tamu!"


"Sebentar aku ke sana !"

__ADS_1


Tidak tahu sudah berapa lama Reva terjebak dalam lamunannya, kala suara yang tak asing itu menyergap di telinganya. Ia segera melangkahkan kakinya ke arah suara. Pertama ia melihat pantulan sepasang kaki yang ia yakini adalah Patrick terpantul di lantai rumah. Namun, tak lama menyusul sepasang kaki lain yang mengekor di belakang. Reva tidak langsung mengangkat wajahnya untuk melihat siapa pemilik kaki-kaki asing itu. Patrick hampir tidak pernah membawa siapapun ke rumah ini. Ini adalah kali pertama Reva melihatnya.


Suara Patrick semakin santer terdengar kala wanita yang ia cari tidak menyahutinya. Pria itu tidak mengetahui jika sosok yang sedang ia cari sedang menerka siapa sosok asing di belakang sana. Pelan, tapi pasti ia mengangkat wajahnya dan melihat siapa sosok asing yang bertamu ke rumahnya.


DEG


Wanita itu tidak bisa berkutik. Ia tidak tahu sampai sejauh mana ia berjalan menuju suara Patrick. Dunianya mendadak gelap. Napasnya menghilang. Hilang entah kemana, Ia tahu saat matanya bersitatap dengan mata itu, dunianya hancur. Bayangan betapa sakit hati yang ia rasakan langsung muncul sepeti putaran film usang yang tidak ingin ia tonton.


Dia Jullian, iblis yang tidak ingin ia temui seumur hidupnya. Sosok yang mengajarkannya cara untuk tidak percaya pada dunia. Yang mengajarkannya betapa tidak berarti dirinya di dunia ini. Jullian, iblis jahat itu.


"Arnetta ..."


Mual, itulah yang ia rasakan. Reva ingin muntah mendengar pria itu memanggil namanya dengan lirih. Perutnya keram. Ia ingin segera menghilang, dan sedetik kemudian Tuhan mengabulkannya, Tatapannya mendadak gelap bersamaan dengan tubuhnya yang limbung ke lantai dan menyisakan teriakan panik semua orang.

__ADS_1


Termasuk Jullian, iblis itu.


__ADS_2