
"Maaf, aku hanya ingin seperti ini." Ujar Reva dengan suara lirih.
Tak lama, Patrick menarik tangan wanita itu agar pelukannya melonggar. Ia pun berbalik dan menemukan wanita itu sedang menundukkan wajahnya ke lantai.
"Hai,* it's okay."*
Patrick mengangkat wajah itu dan melemparkan senyuman manis kepada Reva. Rasanya sangat indah harinya ia bisa menikmati pelukan itu. Ia mau dan rela melakukan apa saja agar momen ini tetap bertahan ... selamanya. Momen yang sudah ia rindukan. Kini ada sosok yang membuatnya merindukan rumahnya.
Arnetta menatap gugup ke arah lantai. Ia sungguh takut jika perubahan sikapnya yang tiba-tiba ini malah membuat Patrick berubah dan menjauhinya. Apalah dirinya, menurut Arnetta. Ia tidak mau berekspektasi terlalu jauh. Sudah di terima dengan baik di rumah ini ia merasa sangat bersyukur.
Pria itu menyadari jika wanita yang berdiri di hadapannya sedang berpikir keras. Ia tahu kalau dibalik tubuh ringkih ini tersimpan banyak luka dan sedikit harapan. Meski hanya satu persen, Patrick berkeinginan untuk mewujudkan harapan itu menjadi nyata. Ia ingin Reva bersamanya dengan banyak mimpi yang sebisa mungkin akan ia wujudkan.
"Kau tidak perlu takut padaku." Ujar Patrick. Pria itu langsung menerima tatapan penuh tanya dari Reva yang kini memandangnya dengan sepasang mata hitam besarnya yang memantulkan bayangan dirinya. "Aku suka dengan kau seutuhnya. Kalau pun kau berubah, aku pasti akan menyukai perubahan itu."
Arnetta menggeleng kepalanya lemah. Ia tahu sedikit banyak setelah tinggal seatap dengan pria ini, Patrick adalah laki-laki yang sangat baik dan sempurna. Tidak ada celah yang bisa ia lihat pada lelaki itu. Hanya kurang percaya diri dalam hatinya lah yang masih mengganjal hingga saat ini. Dulu ia pernah mengenal seorang laki-laki yang ia pikir adalah sosok sempurna. Tak pernah ada keraguan jika sosok itu akan mencintainya.
Akan tetapi semua harapan itu lenyap seketika saat ia mengetahui kenyataan bahwa pria itu membencinya. Cinta yang lima tahun lalu pernah mereka rasakan sudah padam. Arnetta sudah melihat bahwa hanya perasaannya yang masih mendamba sedangkan pria itu tidak. Ia takut Patrick akan berubah demikian dan malah membencinya.
"Reva ..."
Patrick memang wanita itu lekat-lekat seolah ia bisa menelannya. Pria itu pun tampak tidak memiliki maksud jahat, tapi Arnetta merasa agak kurang nyaman dengan tatapan itu.
"Ada apa ?"
Wanita itu menggeleng lemah. Ia ingin sekali menikmati momen ini sementara. Sudah terlalu banyak hal menyakitkan yang terlewati olehnya dan ia ingin sekali merasakan ada pria yang bisa menyayangi dan menerima kehadirannya dengan tulus di dunia ini.
"Terima kasih. Terima kasih sudah mau menyukai wanita sepertiku."
Patrick tertegun untuk sesaat. Pria itu tidak bereaksi apapun dan tetap memandangi wanita yang kini tengah menatapnya dengan penuh harapan. Namun, seketika ia pun langsung menarik tubuh itu erat ke dalam pelukannya. Seandainya ia bisa, mungkin Reva akan remuk oleh pelukannya.
"Aku yang seharusnya mengucapkan hal itu. Kalau wanita itu bukan dirimu, mungkin aku tidak bisa mencintai wanita sedalam ini."
__ADS_1
***
Keduanya menghabiskan waktu seharian di rumah tanpa aktivitas berarti. Patrick pun mendadak jadi pengangguran hari ini karena ia membolos kerja dan menemani wanita pujaannya itu di rumah. Sesekali mereka mengobrol santai di teras belakang sambil tangan pria itu mengelus perut buncit Reva yang akan selalu merespon tangan pria itu dengan tendangan.
"Dia aktif sekali ya?"
Reva hanya bisa terkikik geli melihat reaksi Patrick yang sangat antusias dengan pergerakan anaknya. Bahkan setiap kali pria itu membuka obrolan di depan perut besarnya, bayinya akan menendang lebih keras. Seolah sedang menyahuti suara pria yang mencintai ibunya.
"Aku yakin dia akan sangat menyayangimu." ujar Reva tanpa sadar.
"Ya, dia akan menjadi kesayanganmu setelah dirimu." ujarnya tanpa berhenti mengusap perut bunci wanita itu.
Patrick mulai merasakan pikiran-pikiran tentang bayangan bagaimana anak ini nantinya akan lahir. Sepasang kaki mungil pasti akan muncul dan menginjak rumput terasnya, berlari kesana kemari tanpa henti. Dia juga mulai membayangkan jika nantinya anak ini mungkin ... akan memanggilnya dengan sebutan ayah. Tapi pemikiran itu ia tepis dulu. Rasanya terlalu cepaf jika ia meminta hal itu kepada Reva. Rasa kepercayaan wanita itu kepadanya harus muncul lebih kuat sebelum akhirnya ia akan memikat lagi hati wanita itu. Ia yakin cepat atau lambat, Reva akan jatuh ke dalam pelukannya dan Patrick akan sabar menantinya.
Keduanya pun larut dalam kebahagiaan sepanjang siang hari meski hanya dihabiskan berdua dengan kegiatan baru yakni berbicara dengan calon anak Reva. Sampai tiba waktu makan malam, Patrick melihay ada gerak-gerik aneh pada wanita itu.
Sejak sore, Reva selalu terlihat gelisah. Sesekali wanita itu terlihat menggigiti kuku tangannya. Bahkan sering Reva berjalan mondar-mandir tak jelas mengelilingi rumah.
"Ada apa, Reva ?"
"Ah, tidak ada apa-apa." sahutnya sambil memgeluarkan ekspresi tak enak. Reva tahu jika dirinya sejak sore memang merasa tubuhnya aneh. Ingin menangis saat ia hendak menenangkan pikirannya, tapi ia tahu dirinya tidak bisa apa-apa.
Patrick malah menatap wanita itu penuh curiga dan menyipitkan matanya. "Katakan saja! kau membuatku semakin curiga."
Arnetta semakin gelisah tapi tidak bisa dipungkiri ia memang menginginkannya. Persetan dengan rasa malu, rasanya ia ingin meledak dan menangis jika sekali lagi ia meredam keinginannya. Ya, ia mengidam. Ia ingin sekali sushi yang pernah ia lihat di dekat rumah mereka saat memeriksakan kandungannya kemarin.
"Aku ingin sushi! Aku mau sushi. Aku tahu jika permintaanku aneh, tapi aku ingin menangis jika tidak memakan ith sekarang. Kedai sushi di seberang jalan sana sudah menghantuiku sejak semalam. Aku tidak bisa tidur." ucap Wanita itu sambil mengusap kedua matanya yang mulai basah.
Seketika meledaklah tawa Patrick. Pria itu merasakan kelegaan yang luar biasa saat tahu kalau tingkah aneh wanita itu hanya disebabkan oleh rasa ngidam. Ia pikir karena sesuatu yang menyeramkan.
"Aneh bukan? Kau pasti mengira aku gila." ujar Arnetta saat melihay Patrick sulit untuk menghentikan tawanya.
__ADS_1
Pria itu pada akhirnya berusaha keras meredam tawanya. Sungguh ia merasa lucu dan lega, bukan karena alasan kegelisahan wanita itu. Melainkan ia lucu dengan perkiraan di benaknya. Bahkan ia pikir ada orang jahat yang mencoba mengganggu wanita itu, padah seharian ini mereka hanya di rumah.
"Tidak. Aku pikir kau bersikap aneh karena kau bertemu orang jahat. Baiklah, aku akan datangi kedai sushi itu dan memarahi mereka karena sudah membuat wanitaku dan anakku gelisah seperti ini."
Wajah Reva bersemu merah. Ia merasa malu dengan kegilaan ngidamnya, tapi seberlebihan itu lah rasa yang ada di dalam dirinya.
"Jangan... nanti sushiku diracuni." Cicitnya pelan.
Patrick terkekeh pelan dan membalas, "Tidak akan. Aku akan pergi sebentar ya."
Patrick menangkup wajah mungil itu di tangannya. Wajahnya nampak merajuk kala dirinya berkata akan pergi sebentarke kesai sushi itu. Reva, wanita itu seperti ingin mengikuti kemana pun ia pergi. Layaknya lem dan perangko, Reva hampir selalu mengikuti kemana pun ia pergi seharian ini. Sejak pelukan pagi ini yang ia terima, ia sadar jika wanita itu mulai bergantung kepadanya. Dan, ia menyukainya.
"Kau akan pergi lama ?" Tanya Arnetta setengah merajuk.
Jauh di dalam lubuk hatinya, Arnetta pun tidak pernah bersikap merajuk seperti ini pada siapapun. Dunia sudah menguatkannya dengan segala cobaan dan derita yang ia terima. Ia sendiri terkejut, tapi tidak menapik ia pun menikmati perhatian sayang yang diberikan oleh Patrick.
Patrick sangat senang dengan perubahan ini. Reva berubah menjadi sosok yang sangat terbuka dan menja terhadapnya. Sejak pengakuan perasaannya kemarin, ia merasa kalau wanita ini sudah mulai membuka hati kepadanya. Dan, Hari ini untungnya saja ia tidak ada jadwal praktik di rumah sakit, sehingga ia bisa menemani wanita ini seharian penuh. Ia tahu betul jika sikap Reva dipengaruhi oleh hormon sebagian besarnya, tapi ia tidak masalah. Patrick akan mencoba menikmati semua ini.
"Aku akan pergi sebentar saja. Nanti akan kembali lagi bahkan sebelum kau memikirkanku." balasnya disertai senyuman manis.
Reva mau tak mau membalas senyuman itu dengan hal yanh sama. Ia tak memungkiri bahwa hatinya sangat hangat dan bahkan seperti lupa rasa sakit yang dulu tertanam jauh di lubuk hatinya. Jika seperti ini ia tidak akan sulit untuk mencintai lelaki seperti Patrick. Bukan hanya dirinya, tapi seluruh wanita di dunia ini akan mengalami hal yang sama.
***
"Sushi ini spesial untuk istri dan anakmu. Maaf jika kami membuat mereka gelisah." ucap pria pemilik kedai sushi yang kebetulan melayani pesanan Patrick.
Pria itu menerima hasil pesanannya dengan senyuman puas. Ia yakin Reva akan bersorak gembira karena hal yang sejak semalam membuatnya gelisah sudah berada di tangannya.
"Terima kasih dan sepertinya aku akan langganan jika istriku makan sushi ini dengan lahap."
Keduanya pun tertawa. Di lingkungan sekitar rumahnya mulai mengetahui jika Reva adalah istri Patrick yang baru kembali dari pelariannya. Jadi, ia tidak sungkan lagi mengatakan jika Reva adalah istrinya yang sedang hamil tua.
__ADS_1
Setelah pesanannya jadi pria itu langsung bertolak kembali ke rumahnya. Namun, sebuah pemandangan tak biasa membuatnya tertahan. Patrick sekali lagi mencoba untuk menegaskan sosok yang sudah sangat lama tidak ia jumpai itu. Sejak kematian ibunya, ia sudah tidak lagi berkumpul bersama keluarga dari pihak ibunya. Sudah bertahun-tahun lamanya ia lupa siapa-siapa saja nama saudara sepupunya. Namun, ada satu orang yang masih ia ingat sampai detik ini karena mereka dulu pernah begitu dekat.
"Jullian ?"