Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)

Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)
Bab 49


__ADS_3

"Tensi darahnya menurun, tapi tidak parah. Mungkin ini efek samping dari gizi buruk dan stress berat yang pernah di deritanya."


Patrick mendengarkan dengan seksama penjelasan dokter kandungan yang kebetulan tinggal hanya beberapa blok dari rumahnya. Bu hanna adalah dokter kandungan yang langsung datang begitu Patrick memintanya datang memeriksa kondisi Reva. Apalagi malam dimana rumahnya terjadi penggerebekan, wanita paruh baya itu juga ada di sana.


"Tidak ada salahnya sebagai seorang suami, kau harus lebih memperhatikan kondisi psikis istrimu. Apalagi wanita hamil cenderung bergantung pada hormon. Emosinya tidak stabil." jelasnya lagi.


Patrick terus memandangi Reva yang terpejam seolah enggan untuk membuka matanya. Pria itu tetap setia duduk di pinggir tempat tidur sambil terus memegang tangan wanita hamil itu. Betapa terkejutnya ia melihat wanita itu langsung tak sadarkan diri begitu ia pulang bersama Jullian. Beruntung ia cepat menangkap tubuh wanita itu sehingga tidak sampai jatuh ke lantai. Kondisi kandungan yang sudah mulai memasuki trimester ketiga membuat kondisi wanita itu semakin hari semakin lemah. Apalagi ia mengetahui jika Reva mempunyai riwayat gizi buruk dan stress berat yang menyebabkan wanita itu pernah di diagnosa kandungannya lemah.


"Aku tidak tahu jika penyakit itu bisa menyebabkan hal fatal seperti ini. Beberapa minggu ini dia selalu ceria." ungkap Patrick yang seolah bicara dengan dirinya sendiri sambil mencari bayangan kehidupan Reva belakangan ini.

__ADS_1


Dokter wanita patuh baya itu hanya tersenyum memaklumi. Ia paham betul ini adalah kondisi dimana seorang ayah muda akan merasa sangat kebingungan menghadapi emosi istrinya yang tidak stabil. Apalagi kedua pasangan itu baru saja rujuk setelah pertengkaran hebat. Semua warga yang baru pertama kali melihat Reva pun ikut terkejut dengan kehadiran wanita itu di rumah ini. Pasalnya Patrick tidak pernah melaporkan kedatangan istrinya itu di sekitar perumahan ini. Mereka kita Patrick adalah seorang pria lajang yang tidak sendirian di rumah ini. Nyatanya pria itu sudah menikah secara agama dan sedang melakukan proses rujuk, karena kehamilan istrinya.


"Aku akan memberikan vitamin dan juga menuliskan makanan yang dapat membantu menstabilkan hormon. Tetap jaga agar dia tidak terlalu banyak pikiran." Imbuh Dokter Hanna pada Patrick yang masih diam di tempatnya.


Tidak ada yang menyadari bahwa ada sepasang mata yang menatap tajam interaksi keduanya, Tidak, lebih tepatnya hal yang kini dilakukan oleh Patrick. Pria itu memegang tangan wanitanya dengan sangat leluasa. Arnetta yang dalam kondisi tidak sadarkan diri, tentu saja tidak akan tahu jika Patrick terus menyentuhnya. Jullian duduk di ruang tamu yang menghadap langsung ke kamar dimana Patrick membawa Arentta setelah tak sadarkan diri. Pria itu mencoba untuk  menenangkan diri dan menunggu waktu yang tepat untuk mendekati Arnetta, meski ia merasa dadanya terbakar. Ia marah. Baginya tidak ada yang boleh menyentuh wanitanya dalam kondisi apapun.


Namun, Julian sadar bahwa ia harus bertindak lebih waspada. Kondisi Arnetta yang sedang hamil sangat riskan jika ia membuat keributan itu sekarang. Arnetta tentu takkan mau ikut bersamanya, mengingat wanita itu langsung pingsan begitu mereka bertemu. Apalagi ia jelas tahu jika sepupunya itu adalah pria yang cerdik. Patrick yang ia kenal adalah pria yang pandai bersembunyi. Ia tak mau jika Arnetta sampai di bawa kabur olehnya.


Arnetta adalah calon istrinya dan ibu dari anak kandungnya. Dunia tidak bisa menepis kenyataan bahwa wanita itu tidak bisa melepaskan diri darinya. Ia akan terus mengikat Arnetta, suka atau tidak suka.

__ADS_1


Tak lama kedua orang itu keluar dari ruangan dimana Arnetta sedang tertidur dan nampaknya Patrick hendak mengantarkan kepergian Dokter Hanna keluar. Mereka tampak asyik mengobrol perihal kesehatan Arnetta hingga tak menyadari Jullian yang sudah menanti kepergian kedua orang itu. Begitu keduanya sudah berada di sisi luar rumah, Jullian segera bangkit dari sofa dan berjalan ke arah kamar dimana wanita yang sejak tadi berputar di pikirannya sedang berbaring.


Di dalam sana Arnetta tampak sangat tenang dalam tidurnya. Perutnya yang sudah sangat membesar tidak bisa berbohong jika wanita itu memang senang hamil. Setiap kali membayangkan kehamilan wanita itu, Jullian merasa kebahagiaan yang pernah hilang telah kembali. Sekian lama ia menginginkan seorang anak dari darahnya sendiri akan lahir dan itu terlahir dari rahim wanita yang pernah dan masih sangat ia cintai.


Cinta.


Entah apa namanya, yang jelas Jullian sangat ingin sekali lagi memiliki wanita itu. Kali ini ia takkan melepaskan Arnetta. Jika perlu ia akan memotong kedua kali wanita itu dan mengikatnya di ranjang tempat tidur agar tidak bisa lagi melarikan diri darinya.


Jullian pun tanpa kata langsung bersujud di samping ranjang wanita itu dan melayangkan tangannya untuk mengelus permukaan wajah yang sudah sangat lama tidak ia lihat. Ia rindu. Betapa lamanya wajah ini hampir menghilang dari hidupnya. Beruntung ia segera menemukan tempat persembunyian wanita ini. Entah Lusi atau pun ibunya sudah tidak bisa lagi membendung hasrat Jullian yang hampir meledak sejak kepergian Arnetta. Lalu setelah puas menyentuh wajah yang sangat ia rindukan itu, Jullian menggeser tangannya untuk menyentuh bagian lain yang juga sangat ingin ia rasakan.

__ADS_1


Perut besar Arnetta. Pelan, Jullian meraba permukaan perut yang kini sudah membesar. Hatinya langsung menghangat ketika pikiran dan tangannya seperti saling terhubung. Disana akan lahir makhluk kecil yang entah, apakah mungkin mirip dengannya atau ibunya. Atau bisa jadi merupakan kombinasi dari Jullian dan Arnetta. Apapun itu Jullian akan menerima dengan senang hati buah cintanya dengan Arnetta. Sebentar lagi Jullian akan membawa bakal calon keluarga kecilnya pergi sejauh mungkin, dimana tidak akan ada satu pun yang bisa mengganggu mereka lagi. Alif juga akan ia bawa untuk melengkapi keluarga kecilnya. Anak itu pasti sangat senang mengetahui bunda kesayangan dan calon adiknya akan kembali. Mereka akan bersama-sama membangun keluarga yang bahagia.


"Sehatlah, Nak. Sebentar lagi ayah akan menjemputmu dan ibumu. Kita akan bersama lagi." Bisiknya lalu diakhiri dengan dua kecupan hangat yang Jullian layangkan di kening dan perut wanita itu.


__ADS_2