Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)

Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)
Bab 38


__ADS_3

"Wah, ada kejutan apa sampai mantan ibu mertuaku datang dan membuat keributan di dalam wilayahku ?" Sengitnya tajam.


Amara, wanita yang membuat keributan pagi hari ini tak lagi memiliki urat malu. Semuanya sduah menguap saat dirinya sudah berjuang mati-matian mempertahankan apa yang sudah dirinya dapatkan lima tahun lalu. Apalagi saat dirinya menyadari jika Jullian secara terang-terangan mengibarkan bendera perang.


"Aku masih bersabar dengan kau yang beraninya menceraikan anakku, tapi aku tidak terima kau telah memnbuat usaha suamiku bangkrut!"


Jullian terkekeh geli. Bagaimana bisa wanita ini lebih mementingkan usaha suaminya dari pada masa depan putrinya sendiri. Dari perkataannya saja sudah bisa Jullian tebak kalau tujuan kedatangan wanita itu adalah ketakutannya untuk menjadi miskin.


"Aneh. Kau sama sekali tidak masalah dengan perceraianku dengan Lusi, tapi kau murka karena aku membatalkan kerjasama dengan suamimu. Dimana akal sehatmu, Nyonya Amara ?"


Wanita paruh baya itu menggeleng tak suka. "Aku tidak peduli ! Bagaimana pun caranya kau harus menghentikanitu. Anggap saja ini adalah bentuk terima  kasihmu kepada putriku karena sudah memberikanmu anak." semburnya.


Jullian seharusnya sudah tidak terkejut dengan kata-kata itu. Amara memang tidak pernah mencintai Arif. Sejak kelahirkan anak itu, Amara bersikap seolah anak itu tidak pernah ada di dunia ini. Bahkan tak segan Amara bersikap kasar pada anak dari Lusi.


"Anak ? Anak yang ternyata bukan anakku itu ?" Sahut Jullian sambil bersedekap di depan dada. "Aku tahu kalau anak itu bukan darah dagingku. Tapi tidak bisa kah kau menunjukkan sedikit kasih pada cucu kandungmu sendiri ?"


Amara menyeringai, "aku tidak peduli dengan anak itu. Dia bukan cucuku."


Jullian menggedikkan bahunya, "Kalau begitu aku juga tidak akan peduli denganmu."

__ADS_1


"Sialan kau! Bisa-bisanya kau bermain api denganku Jullian Basuki."


Kalau saja Jullian tidak sedang berada di ruangan  kerjanya, mungkin ia akan tertawa kencang atas perkataan mantan ibu mertuanya ini. Bagaimana tidak, Ia tahu dengan benar bahwa yang sedang bermain api adalah ibu mertua dan juga mantan istrinya. Kalau saja hari itu keduanya tidak datang ke rumahnya, mungkin Arnetta masih berada di sisinya.


"Kau tidak salah ? Aku bermain api ?" Tanya Jullian dengan sengit. Pria itu pun berjalan mendekati ibu mertuanyanya, Namun ia mengambil jarak sebisa mungkin agar tidak terlalu dekat dengan wanita itu. Jullian bisa menebak bahwa ada banyak rencana busuk yang pasti akan dipersiapkan untuk menjebaknya.


"Kau beraninya membuat hidupku menderita!" Pekik Amara dengan penuh emosi. wanita itu sudah tidak bisa lagi menyembunyikan kemarahannya lantaran kehidupan rumah tangga putri semata wayang yang ia harapkan hancur dan sekarang aset kekayaan suaminya terancam di sita oleh bank karena hutang sang suami yang dengan beraninya menjaminkan seluruh kekayaan mereka. Hanya tersisa rumah yang mereka tempati dan satu unit mobil.


Sudah susah payah Amara merancang ini semua. Selama bertahun-tahun ia mencoba mempertahankan apa yang menjadi miliknya. Namun dalam sekejap hilang begitu saja setelah wanita sialan itu datang kembali. Padahal Amara sudah hampir berhasil mengusir Arnetta dan ibunya lima tahun lalu. Sialannya, kedua wanita tak tahu diri itu malah kembali ke Indonesia.


"Ternyata uang tidak bisa membeli norma kesopanan seseorang. Kau yang berasal dari jalan akan tetap bersikap tak beretika bahkan ketika uang sudah kau genggam." ujar Jullian dengan tatapan tajam.


"Bajingan! hanya karena wanita sundal itu kau menukar segalanya dengan putriku. Apa hebatnya pelacur itu dibandingkan putriku, Lusi, Hah?!"


Amara meluapkan semua amarahnya di depan wajah Jullian. Tanpa berpikir ulang siapa yang ia hadapi sekarang. Tidak sempat lagi menghindar, Amara menyadari sedetik kemudian Jullian telah berada di depan matanya dan sudah mencengkram lehernya.


"Kau! Siapa yang memperbolehkanmu menghina wanitaku?"


Amara sudah mulai kehilangan napasnya. Wanita itu sudah mulai memberontak dengan memukuli tangan Jullian yang semakin erat mencengkram lehernya. Namun, tenanganya terasa sia-sia karena Jullian malah semakin menambah kekuatannya seolah yang di cengkram itu bukanlah leher manusia. Sepasang mata elang itu memerah penuh emosi.

__ADS_1


Jullian yang berada di hadapan Amara saat ini adalah sosok mengerikan yang pernah dilihat oleh Arnetta. Wanita itulah yang pertama kali melihat sosok Jullian seperti ini. Dan kini pria itu pun tak segan untuk menyerang pihak yang selama ini adalah dalang dari penderitaan wanita itu.


"Jangan pernah kau sebut wanitaku dengan mulut kotormu. Di banding putrimu yang sok suci itu, Arnetta-ku adalah yang terbaik. Dia tidak menipuku dengan kehamilannya dengan pria lain. Dia benar-benar hamil anakku." Ujar Jullian dengan kegeraman yang dalam.


Tak berapa lama, pria itu pun melepas cengkramannya dan membiarkan Amara meluruh ke lantai sambil terbatuk-batuk. Jullian bersikap seolah tak memiliki belas kasihan lagi kepada Amara. Kemarahan telah melingkupinya. Seharusnya ia merasa kasihan dengan Amara dan semua nasib yang menerpanya. Ia tahu Keluarga wanita itu hampir mengalami kebangkrutan. Ditambah semua proyeksuaminya sudah Jullian batalkan dengan pihak perusahaannya. Jullian sudah tidak mau berurusan dengan keluarga berbisa itu. Baginya mereka semua adalah ular berbisa yang berbahaya dan kejam.


Arnetta ...


Wanita yang sudah ia siksa sedemikian rupa. Hinaan dan cacian sudah Jullian tumpahkan pada wanita yang tidak bersalah itu. Sejak mengetahui kenyataannya Jullian tidak akan lagi berbelas kasih. Arnetta jauh lebih menderita dari orang-orang ini. Sudah sepantasnya ia tidak memberikan keringanan apapun kepada keluarga Lusi. Sudah terlalu banyak luka yang ia sebabkan pad Arnetta karena keluarga ini.


"Lebih baik kau segera pergi sebelum benar-benar aku bunuh, Amara. Aku sudah tidak memiliki kepentingan apapun denganmu." Titahnya.


Pria itu langsung berjalan menjauhi Amara menuju telpon dan menekan interkom yang langsung tersambung ke pihak keamanan dan memanggil mereka untuk menyingkirkan wanita ini. Jullian sadar ia bisa saja membunuh wanita itu kalau saja ia tidak memiliki kesadaran.


Tak lama dua orang pihak keamanan datang dan menyeret Amara yang masih dalam kondisi lemas keluar dari ruangannya. Namun, setelah wanita itu pergi datang lagi sosok yang paling tidak ingin Jullian temui. Dialah pion yang digunakan Amara dan secara tak langsung juga ikut andil membuat hidup Arnetta menderita.


"Jullian, bisa kita bicara ?"


Jullian hanya bisa tersenyum miris. Apakah ia bisa mengusir wanita ini tanpa mencekiknya seperti yang ia lakukan kepada Amara. Karena wanita inilah, Jullian bisa tega menyakiti wanita yang sebenarnya adalah obsesi cintanya. Bukan Obsesi kebenciannya.

__ADS_1


__ADS_2