
"Kita pernah bertemu di rumah sakit dan kau tau ... Aku masih mengingatmu dengan jelas. Perkenalkan, Aku Patrick."
Arnetta hanya bisa memandangi pria itu dengan penuh selidik. Sama sekali tidak ada dalam benaknya pernah mendengar nama itu, meski ia tahu bahwa dirinya pernah berpapasan dengan wajah tak asing ini. Untuk saat ini ia tidak bisa mempercayai siapapun. Hanya dirinya dan anaknya, tidak ada orang lain lagi.
Pria bernama Patrick itu tahu bahwa wanita di depannya tidak mungkin mudah mempercayai orang asing yang baru sekali bertemu. Terlebih dimatanya tersirat banyak luka yang bersarang dalam diri wanita ini. Setidaknya ia tahu bahwa Wanita yang selama ini dicarinya berada dalam kondisi yang baik-baik saja. Terlihat jelas tubuhnya yang berisi juga casual dress yang dikenakannya bukan pakaian gelandangan.
Selama ini ia selalu memikirkan bagaimana kondisi wanita yang terakhir ia temui dalam keadaan malang di rumah sakit beberapa bulan yang lalu. Dan kini bagaikan mimpi, Tuhan seperti sudah mengabulkan doa-doanya untuk bertemu lagi dengannya.
"Baiklah, mungkin kau lupa." Ujarnya. Ia sendiri melihat wanita itu keluar jalanan pada malam yang dingin ini. "Kau mau pergi kemana?"
Arnetta yang mendengar pertanyaan itu langsung mngeratkan pegangannya pada tas kecil yang ia bawa. Satu-satunya benda yang ia bawa sejak awal masuk ke rumah Jullian sampai akhirnya ia harus keluar dari tempat itu. Mungkin satu-satunya benda pemberian lelaki itu hanyalah baju yang ia kenakan. Arnetta sendiri tidak tahu dikemanakan semua pakaiannya. Ia juga tahu kalau Jullian sudah membumihanguskan tempat tinggalnya bersama ibunya.
Sedih. Mengingatnya lagi membuat Arnetta harus merasakan berat di hatinya kala mengingat Jullian sudah memusnahkan tempat penuh kenangan miliknya dan mendiang ibunya. Andai rumah itu belum rata dengan tanah, Saat ini Arnetta tahu kemana ia harus pergi. Dunianya yang kejam seperti tidak menginginkannya untuk tenang saat ini. Sekarang yang tersisa hanya anak dalam kandungannya.
"Hey?"
Arnetta kembali mengarahkan pandangannya pada Patrick. Ia sendiri tahu bahwa saat ini dirinya hanya punya rencana untuk pergi, tapi tidak memiliki tempat untuk dituju. Bis yang seharian ini membawanya pun sudah mencapai jalur paling akhir. Jika pria itu bertanya kemana dirinya akan pergi, maka Arnetta sendiri tidak tahu apa yang harus dijawabnya.
"Tidak tahu." Cicitnya pelan sambil menundukkan kepalanya ke jalanan aspal yang menampilkan kakinya yang hanya mengenakan selop rumah. Cepat atau lambat kakinya pun akan penuh luka lecet karena terlalu lelah berjalan.
Pada akhirnya pria itu memahami bahwa wanita yang ada di depannya tak memiliki tempat untuk dituju. Raut wajah penuh kesedihan dan luka membuat dirinya mendadak ikut terenyuh. Wanita ini begitu rapuh dan ia berani menjamin bahwa dia bukanlah orang jahat. Ribuan karakter manusia sudah ia temui. Sebagai seorang psikolog setidaknya Patrick cukup mampu menilai seseorang hanya sekali tatap. Apalagi terhadap seseorang yang selama ini sudah mengganggu tidurnya.
Sambil menggaruk tengkuknya, Patrick mulai menawarkan tawaran yang ia sendiri pun terkejut keluar dari bibirnya. "K-Kau mau ikut bersamaku?"
__ADS_1
Mendengar tawaran itu, Arnetta langsung meringsut mundur. Ia semakin mengeratkan pelukan oada tas kecil miliknya. Sebelumnya ia pernah mendengar tawaran yang sama. Terdengar niat untuk menolongnya, namun ternyata mengandung penderitaan. Bersama Jullian telah mengajarkan Arnetta bahwa tidak ada satu pun orang baik di dunia ini tanpa maksud tertentu.
"T-Tidak! Aku tidak mau!" Arnetta menjawab nyaris berteriak. Ia hampir saja berlari kalau saja Patrick tidak meluruskan hal ini lebih cepat.
"Bukan! Maksudku, kau bisa tinggal bersamaku. Kau bisa bekerja untukku. Lagi pula aku butuh seorang assisten rumah tangga. Itu pun jika kau bersedia dan merasa tidak kurendahkan." Ujar Patrick secepat mungkin. Ia tidak mungkin membiarkan wanita ini pergi seorang diri.
Arnetta masih diam di tempatnya, mencerna tawaran itu. Pria bernama Patrick ini bisa saja memang pria yang tulus, sengaja untuk menawarkannya sebuah pekerjaan. Tanpa berpikir panjang dan mencari tahu lebih dalam, Patrick dengan mudahnya menawarkan pekerjaan padanya. Alih-alih dirinya yang merasa curiga, seharusnya Patrick lah yang mencurigai peremupuan yang tidak jelas seperti dirinya.
Sejak kembali Ke Indonesia, semua barang-barangnya tidak ada yang ia keluarkan dari koper kecil miliknya dan semua barang-barangnya pun disembunyikan oleh Jullian. Ia benci mengakui bahwa dirinya pun senang pria itu menyembunyikan segala kartu identitasnya, karena dirinya bisa menyembunyikan diri tanpa harus takut ditemukan. Untuk saat ini sebuah rumah memanglah solusinya. Ia tidak memiliki tujuan kemana ia harus pergi dan tawaran Patrick seperti sebuah angin segar untuknya.
Mungkinkah ini jawaban atas segala doanya kepada Tuhan?
Bisakah ia mulai bernapas lega dan menganggap semua kesedihannya selama ini akan berakhir?
Jujur saja dirinya gugup. Patrick khawatir jika Arnetta merasa dirinya baru saja direndahkan dengan tawarannya. Tidak ada ide lain yang terlintas dalam benaknya selain alasan itu. Kalau ia menawarkan tempat tinggal cuma-cuma, ia tahu Arnetta pasti akan lari ketakutan. Bisa ditelaahnya jika Arnetta tidak sepenuhnya mempercayainya.
"Apakah aku akan diberikan tempat tinggal?" Tanya Arnetta gugup.
Patrick mengangguk semangat. "Jika kau ingin tinggal di rumahku sebagai asisten rumah tangga, maka dengan senang hati akan kuterima. Tapi jika kau memiliki tempat tinggal sendiri, kau boleh datang setiap harinya pada jam-jam kerja yang bisa kita diskusikan."
Ya, sebisa mungkin Patrick akan bernegosiasi sampai akhirnya ia tidak lagi kehilangan jejak wanita ini.
Arnetta mulai mengangkat wajahnya dan memandang pria itu dengan tatapan penuh binar kebahagiaan. Jika pria ini akan bersedia menampungnya, maka Arnetta tidak butuh di gaji. Ia tidak butuh uang selama ia bisa makan dan tidur tanpa harus membayar.
__ADS_1
"Aku juga akan mendapatkan makan pagi, siang, sore dan malam?" Tanyanya lagi, yang kali ini sudah mulai semangat membayangkan kehidupannya nanti.
Patrick terkekeh pelan. Ia bahagia, wanita ini menyambut tawarannya dengan senang hati. Ia tidak perlu memutar otak untuk mengatakan alasan apa lagi untuk membujuknya. "Tentu saja. Kalau perlu camilan pun akan kau dapatkan. Dan gaji ..."
Arnetta melangkah maju mendekati Patrick. Senyumannya merekah ditengah wajah sayunya yang tampak lelah dan kantung matanya yang sudah hampir menghitam. "Aku tidak butuh di gaji! Selama aku tidak kehujanan, kepanasan dan kelaparan, aku akan bekerja menjadi asisten rumah tanggamu. Aku akan menuruti semua perintahmu dan tidak akan macam-macam."
"Nak, sekarang kita aman. Kita tidak akan kelaparan dan kehujanan lagi." ucap Arnetta dalam hati sambil mengelus perutnya penuh perasaan sambil memandang kembali sosok Patrick yang hari ini menjadi dewa penolongnya.
Patrick merasakan sesuatu bermekaran di dalam perutnya saat menyaksikan senyuman indah dari wanita itu. Mendadak dunia berhenti berputar dan hanya berpusat pada wanita itu. Ia tahu bahwa detik serasa berhenti di sekitarnya dan perasaan yang telah lama ia lupakan kini hadir kala senyuman itu mampu mengetuk pintu hatinya.
Mungkin terlalu cepat ia menafsirkan perasaan ini, tapi ia jelas paham perasaan apa yang sudah melanda hatinya. Tuhan kembali mempertemukan dirinya dengan wanita ini untuk memastikan perasaan tak asing apa yang selama ini hinggap di hatinya.
"Terima kasih Tuan Patrick. Aku menerima dengan senang hati tawaranmu." Ucap Arnetta sambil mengulurkan sebelah tangannya. Hatinya terasa ringan saat tahu besok ia akan terbangun di sebuah rumah dan tahu bahwa besok ia bisa makan tanpa harus takut kelaparan.
Patrick langsung menyambut uluran tangan mungil itu dan menjabatnya. Tepat disaat detik itu, ia semakin yakin aliran listrik tak kassat mata sudah berhasil menafsirkan secara jelas perasaan aneh ini.
"Selamat bekerja denganku, Nona ..."
Arnetta langsung berpikir cepat. Ia tidak akan membuka peluang siapapun dari masa lalu untuk mencarinya. Hanya ia dan anaknya yang akan segera lahir di hidupnya. Dan mungkin tambahan Patrick sebagai majikan barunya.
"Namaku Revalina, Panggil saja aku Reva."
Mulai detik ini pria itu sudah tahu hatinya akan mematri sebuah nama secara otomatis. Reva, sepertinya pria bernama Patrick ini jatuh cinta pada pandangan yang pertama.
__ADS_1