Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)

Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)
Bab 25


__ADS_3

"Tidak! Anak kita memang anak hasil perkosaan. Tapi, dia akan memiliki martabat tertinggi, karena dia anakku dan kau ibunya." Ucapnya sekuat tenaga, sama seperti Arnetta, Jullian merasa tenaganya langsung habis saat mengucapkan kalimat tersebut. Tenaganya seolah terkuras bersama hatinya yang terasa berat.


"Kita akan menikah, dia akan lahir sebagai anak kita, Arnetta."


Arnetta terhenyak di tempat nya. Air matanya mengalir semakin deras kala perkataan Jullian telah sampai ke otaknya. Hatinya tiba-tiba saja mencelos seolah apa yang baru saja dikatakan Jullian mampu merenggut napasnya.


Ia benci. Ia tidak suka. Dengan mudahnya lelaki itu memutuskan hal penting untuknya, setelah semua yang dilakukan pria itu pada dirinya. Tanpa maaf yang tulus, Jullian seolah menjeratnya seperti tawanan. Dimana hati nurani pria itu?


"Bajingan! Kenapa tidak sekalian kau bunuh saja aku?" Desis Arnetta. Wanita itu sudah tak peduli bila lelaki itu akan melayangkan pukulan seperti saat memperkosanya dulu. Ia sudah tidak peduli. Arnetta sungguh ingin bebas. Jika kematianlah yang mampu membebaskannya, maka Arnetta akan memohon.


Jullian tersentak ditempatnya. Tatapannya langsung menajam dan sinaran matanya redup, tergantikan oleh kegelapan. Tangannya langsung menangkap kedua tangan lemah yang kini memukulinya dengan sisa tenaganya. Rasanya ia marah. Kemarahan yang membuat punggungnya terasa dingin, tapi Jullian tahu bahwa kemarahannya bukan ditujukan untuk wanita di depannya. Melainkan kemarahan untuk dirinya sendiri.


Seandainya ia bisa melakukan semuanya dengan benar, pasti Arnetta tidak akan berakhir seperti ini. Mengalami gejala kehamilan saja sudah pasti menyiksanya, apalagi harus menanggung beban mental atas kehadiran calon anak mereka yang merupakan hasil dari tindakan bejatnya dulu.


"Tidak! Kau tidak boleh mati."


Hanya itulah untaian kalimat yang bisa keluar dari bibirnya. Rasanya sangat pedih ketika hatinya dan otaknya bekerja sama dengan baik kala telinga mendengar tangis menyayat hati yang dikeluarkan Arnetta dari bibirnya. Pantaslah wanita itu ingin mati. Baginya siapa lagi di dunia ini yang bisa dipercaya olehnya?


Jullian pasti bukanlah sosok yang berada dalam daftar itu.


Dengan sepasang tangan besarnya, ditangkupnya wajah mungil yang sudah bersimbah air mata. Mendadak lelaki itu kehilangan tenaga dan menangkup wajah itu dengan sangat hati-hati seolah Arnetta bisa remuk begitu saja ditangannya.


Lucu!


Ia sudah pernah mencoba menghancurkan wanita ini. Sudah menyakitinya sampai titik terdalam di mana wanita ini bisa saja menghabisi nyawanya sendiri, tapi Arnetta yang tampak sangat rapuh ini baru saja menyadarkannya. Jullian sudah menghancurkan segala yang dimiliki olehnya.


"Dengar, aku pernah mencintaimu. Sangat. Aku ingin memilikimu entah bagaimana caranya. Sekalipun aku harus membuatmu lumpuh dan tidak bisa melarikan diri lagi dariku." Ucapnya lirih.


Perlahan Jullian memajukan wajahnya dan menyatukan kening mereka. Diam-diam dalam hatinya bersyukur wanita ini tidak melakukan perlawanan. Bisa saja Arnetta nekad untuk menghantam keningnya sampai pingsan. Ia juga mendadak senang ketika bersatu dengan wanita ini dalam hening. Jullian tahu bahwa terasa lebih mudah dari pada harus berusaha membalaskan dendam lamanya pada wanita ini.


"Tidakkah kau memiliki rasa kasihan pada lelaki ini?"


Hening.

__ADS_1


Arnetta hanya diam memandangi lantai di bawahnya dan memilih untuk membiarkan kepalanya mencerna ucapan itu dengan baik. Ia sangsi bahwa Jullian akan bertahan lama bersikap tenang seperti ini. Lelaki yang baginya sudah berubah menjadi monster itu pernah hampir memghancurkannya, tidak, sudah menghancurkannya. Ia merasa kotor dan ternodai dengan tindakan lelaki itu.


"Tidak. Sama sekali aku tidak memiliki rasa kasihan padamu, brengsek!"


Seharusnya Jullian terkejut dan marah dengan jawaban wanita ini. Tapi, entah kenapa hatinya seperti berbunga. Ia lebih menyukai Arnetta yang berani memakinya dari pada Arnetta yang diam seperti patung. Kalau bisa, Arnetta bisa memukuli dirinya setiap hari sampai tulangnya remuk. Apapun selama wanita ini hidup dan bernapas bersamanya.


"Aku suka. Kau boleh memakiku dan mengumpatiku seperti ini. Dengan begitu aku tahu kau memiliki alasan hidup dengan membenciku."


***


"Bunda sama Ayah kenapa belum turun ya, Bi?"


Wanita paruh baya bernama Maria itu hanya memberikan senyum kecil pada putra dari Tuan besarnya itu. Beberapa hari Alif menghuni rumah ini saja, ia tahu anak itu akan memberikan warna. Alif yang semuanya sudah mengetahui dari mana asal usulnya pun tak diperlakukan berbeda. Syukurlah, Jullian adalah pria yang baik hati. Meski tahu Alif bukanlah darah dagingnya, tapi pria itu rela mengurus pria kecil itu sejak bayi. Bahkan, ketika Lusi merasa jijik dengan kehadiran anak kandungnya sendiri, Jullian dengan sabar mengurus buah hatinya, bahkan rela memperlajari cara mengurus bayi darinya dan juga buku-buku yang dibacanya.


Sungguh, Maria hanya berharap urusan Jullian dengan Arnetta segera selesai san melihat keluarga kecil ini bahagia. Ia tahu benar jika sejak awal Jullian hanya ingin mengikat wanita itu. Cuma, nata majikannya itu terlalu tertutupi oleh dendam. Lagi pula, Maria tidak sepenuhnya mempercayai peristiwa lima tahun silam. Sosok Arnetta yang begitu rapuh dan baik hati tidak mengundang kecurigaannya. Bahkan, ia tahu wanita itu sangat tulus hatinya.


Pria kecil itu saat ini sedang menunggu makan siang yang baru disiapkan Maria dengan riang. Kakinya tak berhenti bergerak saat melihat hidangan kesukaannya mulai tertata rapih di meja makan.


Alif tidak langsung menanggapi. Bocah kecil itu memiringkan kepala seolah sedang berpikir keras. Pipinya yang tembam dan merona itu pun terlihat menggemaskan dengan sepasang mata almond miliknya.


"Seperti apa, Bi?"


Kalau saja tidak ada yang tahu asal usul Alif, orang pasti akan mengira bahwa anak ini benar darah daging Jullian. Tapi, Maria tahu bahwa semua itu hanyalah fiksi bagi siapa saja yang tidak mengetahuinya. Kenyataannya Alif sudah ada sejak pernikahan Jullian dan Lusi berlangsung. Entah kenapa Lusi pun sangat membenci buah hatinya sendiri sampai wanita itu hanya memberikan nama pada bayinya seadanya. Hanya Alif, tanpa mau menyematkan nama lain atau nama keluarganya atau pun nama Jullian. Sungguh, Alif hanyalah korban dari ketidakbenaran orang tuanya sendiri.


"Urusannya seperti ini."


Tiba-tiba saja suara bariton milik Jullian terdengar dari ujung tangga. Namun, yang membuat mata binar di mata kedua orang yang sejak tadi membicarakannya adalah cara Jullian mendatangi mereka, yakni dengan Arnetta yang berada dalam gendongannya. Terlihat jelas Jullian seperti enggan membiarkan Arnetta kelelahan hanya karena menuruni tangga dari kamarnya menuju ruang makan.


Sedangkan Arnetta yang berada di dalam gendongan pria itu hanya bisa pasrah dan diam. Wanita itu juga terlihat enggan mengalurkan kedua pergelangan tangannya di leher lelaki itu.


"Sialan! Kau tidak perlu memperlakukanku seperti ini."


Sekali lagi Jullian seperti merasakan hatinya sedang di jungkir balikkan. Alih-alih merasa tersinggung, justru ia malah terkekeh mendengar umpatan yang dikeluarkan wanita itu. Biarlah, pikirnya. Selama Arnetta dan calon buah hatinya sehat, ia tidak keberatan disiksa seperti apapun.

__ADS_1


"Jangan mengumpat, cantik. Anak-anak kita sedang memperhatikan."


Pandangan Arnetta pun berputar dan menangkap Alif yang duduk dengan senyum lebar di meja makan sambil menantinya sampai di sana.


Anak?


Apakah Jullian baru saja memproklamirkan bahwa Alif juga anaknya?


Tidakkah ia merasa salah mendengar hal itu?


"Tidak. Kau tidak salah mendengar. Alif adalah anak kita. Aku ayahnya dan kau ibunya." Bisik Jullian dengan lembut seolah bisa membaca isi pikiran wanita ini.


Arnetta tidak menyadari bulir air mata mulai menggenangi matanya. Hatinya menghangat. Seperti ada yang memeluk dirinya sangat erat. Ia memiliki anak dan keluarga. Satu hal yang tak pernah ia berani bayangkan sebelumnya.


Ketika Jullian sudsh menurunkan tubuhnya disamping Alif, Arnetta langsung menangis sesenggukkan sambil menutup wajahnya. Jullian tidak merasa panik. Pria itu membawa Arnetta ke dalam pelukannya dan mengelusi punggung sempit wanita itu. Justru, Alif, sang anak yang langsung memberikan tatapan membunuh yang tampak lucu di mata Jullian.


"Ayah apakan bundaku?"


"Tidak. Ayah tidak melakukan apapun." Kilah Jullian sambil terus mengelus punggung Arnetta.


"Bohong! Ayah pasti sudah nakalin bunda."


Satu-satunya kenakalan yang sudah ia lakukan pada wanita ini adalah menghamilinya. Tapi, Jullian merasa ia sudah gila kalau sampai mengatakan semua itu secara frontal pada Alif. Sebagai gantinya, pria itu tertawa menanggapinya.


Maria menangkap bingkai kebahagiaan ini dengan rasa haru yang luar biasa menyeruak batinnya. Ia hanya berharap keluarga kecil ini bisa segera menjemput kebahagiaannya.


Tapi, yang Maria sudah lupakan adalah kehadiran wanita dari masa lalu keduanya yang saat ini sedang mengintai rumah itu dengan tatapan bengis diluar sana. Kebencian kentara menyelimuti raut wajahnya.


"Mama harus lihat! Jullian membeli rumah besar ini hanya untuk pelacur itu. Dia membuangku dan mengambil anakku. Menjadikan pelacur itu istri dan juga ibu dari cucu mama."


Wajah cantik wanita paruh baya itu sama seperti wanita yang baru saja mengatakan kalimat provokasi untuknya. Kemarahannya timbul kala mengetahui fakta bahwa ada pelacur yang berani masuk ke dalam keluarganya.


"Kau tenang saja. Ketika Jullian pergi menemui ayahnya, kita akan mengusir ****** itu dari sana. Bukan dia yang harusnya berada di sana, tapi dirimu, menantu mama."

__ADS_1


__ADS_2