
Jullian termangu di depannya saat melihat sosok yang selama ini ia kira bisa dilihatnya menderita itu tak ubahnya wanita gila yang kehilangan kendali. Apalagi saat beberapa tim medis menjelaskan bahwa sosok Ratih yang sudah terbujur kaku dibalik selimut sudah tak lagi bisa diselamatnya.
"Ibu! Kau tidak boleh pergi. Tidak ada yang bisa mengambilmu dariku. Tidak Tuhan sekalipun. Ibu, kumohon bangun! Aku akan mencari uang yang banyak agar kau sembuh. Kita sudah berjanji akan selalu bersama."
Wanita itu berulang kali memukulkan tangannya ke atas gundukan dibalik selimut itu. Beberapa tim medis bahkan berniat untuk menyuntikkan obat penenang, namun Jullian memberi isyarat pada mereka untuk mundur. Kini tinggalah mereka berdua, dengan Jullian yang berdiri diambang pintu. Entah mengapa sulit rasanya meninggalkan wanita itu seolah diri saat ini. Bukannya menikmati, justru Jullian merasa dadanya seperti di hantam batu. Ia sesak melihat pemandangan ini.
Arnetta berlari seperti orang gila saat mendengar kabar kematian ibunya, yang tak sengaja dicuri dengar saat Jullian menerima telepon. Wanita itu berlari keluar dan memasuki taksi tanpa alas kaki. Saat sampai di rumah sakit wanita itu menerima amukan supir taksi yang murka, karena Arnetta tak memiliki uang untuk membayarnya. Beruntung saat itu Jullian sampai tepat waktu. Kalau tidak wanita itu mungkin sudah jadi bulan-bulanan masa.
Melihat kondisi Arnetta yang jauh dari kata baik membuat hatinya tercubit. Penampilannya yang berantakan dan juga telapak kakinya yang hitam karena tidak Memakai alas kaki menambah derita yang terpancar darinya.
Ia tahu, bahkan seluruh dunia tahu bahwa hanya Ratih yang dimiliki oleh wanita itu. Tanpa Ratih, maka Arnetta hidup sebatang kara. Sedangkan Jullian, hanyalah pria dari masa lalu wanita itu yang menuntut balas dendam.
Bukankah itu yang ia inginkan? Selama lima tahun menunggu, seharusnya pemandangan ini yang mampu memuaskan dahaga dendamnya. Seharusnya sekarang seorang Jullian sudah merasa puas dengan apa yang ada di depan matanya. Namun, lagi-lagi ia merasa sesak di dadanya mendengarkan tangisan pilu dari wanita yang telah menghancurkan keluarganya.
Wanita itu sudah mengkhianatinya. Arnetta ingkar dan meninggalkannya hanya untuk bersama pria lain. Ditambah, Arnetta yang sudah mengirim foto-foto mereka dan surat pengakuannya dengan sengaja pada sang Ibu. Wanita itu sudah merencanakan, dia sudah tahu ibu Jullian memiliki lemah jantung, tapi Arnetta tetap mengirimkannya. Jullian takkan menikahi wanita ular itu seandainya itu bukan permintaan ibunya. Ia takkan berakhir menyedihkan seperti ini jika Lusi dan Arnetta tidak bertukar tempat untuk menemuinya pada saat perjodohan mereka.
Brengsek!
Bukti itu harusnya cukup membuat kebenciannya memupuk tinggi. Tapi, nyatanya ia tak bisa tertawa atas apa yang menimpa Arnetta. Dendamnya seperti bumerang yang menghantam jantungnya.
__ADS_1
"Aku akan mencari uang untuk ibu. Ibu harus sembuh!"
Ketika itu tatapan mata keduanya saling bertemu. Arnetta langsung terpaku melihat sosok Jullian yang juga sedang memandanginya di ambang pintu. Namun, bukan rasa takut atau tatapan kosong yang diarahkannya. Melainkan wajah memelas. Wanita itu menyeka air matanya sebelum berjalan tertatih ke arah pria itu. Pada saat dirinya sudah sampai di depan Jullian, wanita itu membungkuk dan bersujud di depan Jullian. Tangan ringkihnya memegangi sepatu yang di kenakan pria itu. Lebih tepatnya mencengkram dengan tangan bergetar.
"Ak-ku mohon, berikan aku uang. I-ibuku membutuhkannya."
Jullian seperti tersetrum saat melihat apa yang baru saja di lakukan wanita itu. Arnetta bersujud di hadapannya. Tangan kurus itu seolah menjadikannya tumpuan satu-satunya dalam hidup. Dan, yang paling mengejutkannya adalah Arnetta yang tak lagi ketakutan padanya. Alih-alih ketakutan, wanita itu seperti narapidana yang siap dihukum mati. Suaranya yang lirih dengan tegas dan berusaha menunjukkan keseriusannya.
"S-Setelah ini kau boleh menyiksaku, kalau perlu kau b-bisa memotong salah satu a-anggota t-tubuhku. T-Terserah, lakukan apapun yang kau mau pada tubuhku. A-Aku sudah tidak peduli."
"Bangun!"
"Bangun, ******!"
Kali ini pria itu memerintah lebih kencang. Demi Tuhan, ia benci dengan semua ini. Ia tidak puas, bahkan tak ada satu pun penderitaan ini mampu membuatnya puas. Dendamnya menguap entah kemana dan tergantikan oleh air mata sialan yang mulai menuruni kedua matanya, bersamaan dengan ngilu di hatinya.
"Ya, aku ******. Kalau kau belum jijik, kau bisa memakai tubuhku sebagai pemuas napsumu. Aku akan menjual apapun yang aku bisa untuk uang itu."
Arnetta terus menangis. Matanya panas hanya untuk melihat lantai di bawahnya. Ia tak peduli lagi apa yang akan dilakukan Jullian. Baginya ibunya yang berharga itu harus sembuh. Ia tidak membutuhkan apapun lagi selain ibunya. Jullian boleh memakai atau menyiksa tubuhnya. Menjualnya pun atau melemparkannya pada binatang buas pun tak apa.
__ADS_1
Ia sudah terlampau putus asa.
"Kalau kau jijik, kau bisa melemparkan aku ke binatang buas. Aku akan menulis surat bahwa aku bunuh diri. Tolong, berikan aku uang. A-Aku.."
Belum sempat Arnetta meneruskan perkataannya, Jullian mengangkat tubuhnya dan mencengkram kedua lengannya. Tatapan pria itu sarat akan amarah yang dalam pada Arnetta. Bahkan, Jullian seolah tak peduli jika lengan wanita itu patah ditangannya.
"Sekali lagi kau bicara, maka akan kupastikan kau akan menyusul ibumu ke neraka!"
Namun, reaksi yang penuh rasa takut diharapkan Jullian tak oernah datang. Arnetta malah memberikan senyuman seperti baru aaja mendengar sebuah pencerahan dari ucapan Jullian.
"Kau benar! Aku bisa mati. Aku akan mati. Pasti aku bertemu ibuku, biar di neraka sekalipun."
PLAK
Jullian langsung melayangkan tamparan tepat di pipi wanita itu hingga tubuhnya tersungkur. Napasnya memburu naik dan turun dengan wajah memerah. Ia pernag berharap Arnetta akan memohon kematiannya sendiri kepadanya, tapi bukan dengan perasaan bersalah di hatinya. Ia bahkan sanggup menampar wajah wanita itu sampai pipinya membiru dan meninggalkan jejak darah di salah satu sudut bibirnya.
"Hanya aku yang bisa memutuskan kapan kau mati. Tidak ada yang bisa menghidupkan ibumu lagi. Dia sudah mati. Terimalah itu!"
Arnetta hanya terdiam membisu di lantai. Ia sama sekali tidak memberikan reaksi berarti. Sebelah pipinya yang lebam dan sudut bibirnya yang memgeluarkan darah tak lagi di pedulikan. Ia sudah hancur dan rusak. Arnetta sudah tak memiliki tujuan untuk meneruskan hidup. Jika Jullian berkata kematiannya adalah hak pria itu, maka Arnetta akan menunggu sampai Jullian membunuhnya.
__ADS_1
Tak peduli bagaimana caranya mati, Arnetta sudah memutuskan untuk tidak "hidup" lagi.