
Ketika sosok wanita paruh baya bertubuh gempal itu masuk ke dalam dengan langkah hati-hati, Arnetta tak kuasa merintih karena ia baru saja bisa menggerakkan tangan dan kakinya. Ernyitan tak nyaman yang harus ditahannya melihat siapa yang masuk hampir menusuk langsung ke dalam tulangnya. Serbuan rasa takut kala membayangkan jika Jullian yang masuk membuatnya ketakutan. Sejak semalam tubuhnya tak berhentu bergetar setiap mengingat detik demi detik perkosaan yang dilakukan Jullian kepadanya. Tidak ada kelembutan seperti janjinya kemarin.
Saat didapatinya seorang wanita asing masuk, ia pun bisa bernapas sedikit lega. Hanya sedikit. Ia tak tahu apakah dirinya bisa melepaskan rasa curiga terhadap orang-orang yang berada di rumah ini. .
"Jangan takut! Aku Maria, pelayan dirumah ini." Sapanya ramah, saat ia menyadari ketakutan yang dialami wanita muda itu.
Arnetta mendapati dirinya tersadar memeluk tubuh telanjangnya sendiri. Tanpa perlu bercermin pun ia sudah tahu bahwa pemandangan itu tidak layak untuk dilihat. Selain ketidakpantasannya, Arnetta berani bertaruh jika tubuhnya pasti sudah penuh luka mengingat betapa kasarnya Jullian semalam. Mungkin saja, wanita bernama Maria ini mendengar teriakannya yang kencang itu.
Maria tak bisa untuk tidak meringis melihat pemandangan dihadapannya. Seorang wanita kecil yang tengah menutupi ketelanjangannya yang penuh luka. Bohong jika ia tak mendengar teriakan memilukan dari wanita itu. Kentara jelas apa yang dilakukan Jullian pada Arnetta. Ia sendiri merasa bersalah tidak bisa berbuat banyak. Maria cukup sadar sepatuh apapun Jullian kepadanya, lelaki itu sewajarnya adalag majikannya. Namun, untuk kali pertama ia baru merasakan kemarahan anak asuhnya semalam.
Wanita paruh baya itu berjalan ke arah Arnetta sambil membawa bungkusan yang berisi pakaian baru untuknya. Ia tidak tahu apakah pakaian itu pantas digunakan untuk Arnetta, secara itu semua adalah baju-baju anaknya yang telah menikah. Ia tak tega jika harus membiarkan Arnetta tanpa pakaian seharian.
"Pakailah. Itu milik puteriku. Aku harap kau suka." Ucapnya sambil meletakkan bungkusan itu diatas tempat tidur. Tepatnya didepan Arnetta.
Sepasang mata bundar itu hanya memandangi bungkusan yang diberita Maria dengan tatapan kosong. Ia sadar pakaiannya semalam sudah tak lagi bisa digunakan. Robekan yang besar tak memungkinkannya untuk mengenakannya ke rumah sakit. Ibunya bisa mencium ketidakberesan yang berujung ke kesehatannya. Arnetta tak ingin ibunya mengetahui ini semua. Cukup ia yang merasakan semuanya.
"Terima kasih." Tak ada kata lagi yang bisa diucapkannya atas perhatian yang diberikan Maria. "Namamu mirip dengan nama sahabatku."
Maria tersenyum menanggapi ucapan terima kasih itu. Entah bagaimana nasib wanita muda ini kedepannya nanti. Sudah terbentuk dalam benaknya akan lebih banyak kesakitan yang dialami oleh Arnetta. Dan, yang paling membuatnya takut adalah hilangnya kewarasan wanita ini. Maria merasa jika dirinya berada di posisi Arnetta mungkin ia lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya. Tindakan Jullian hanya akan menunda kematiannya lebih menyakitkan.
"Kau," wanita itu duduk didepan Arnetta. Tangannya terulur mengusap kepala wanita itu dengan lembut. "Jangan pernah menyerah. Jullian hanya sedang marah. Dia adalah laki-laki yang baik."
Arnetta tak menolak sama sekali sentuhan hangat itu. Alih-alih menghindar, wanita itu justru terpejam menikmati usapan lembut mirip seperti usapan ibunya. Ia tahu Jullian bukanlah orang jahat. Dirinya pernah merasakan perkenalan yang dalam dengan pria itu, meski harus tertelan oleh kenyataan pahit saat hari pernikahannya dan kakaknya.
Ada satu masa dimana kenangan manis yang pernah dihabiskannya bersama Jullian menbungkam jeritan hatinya yang pilu. Kala itu ia sudah merasa sangat lelah, disanalah bayangan saat Jullian mengutarakan perasaannya muncul.
***
“Arnetta, ...”
__ADS_1
Jullian terlihat ragu. Itulah yang ditangkap olehnya. Arnetta tak mau berharap banyak pada pria itu. Baginya semua ini bagaikan mimpi yang belum bisa dijadikan olehnya sebagai kennyataan. Jullian tak pernah memiliki perasaan, atau pun memiliki niat untuk bersamanya. Pria itu hanya menginginkan hubungan tanpa cinta.
Semula ia marah. Arnetta sempat ingin pergi dari sisi pria itu secepat yang ia bisa. Tapi, semua perlakuan pria itu hari ini, di taman bermain membuatnya berpikir ulang. Ia menerka apakah dirinya bisa meninggalkan pria ini tanpa mengalami siksaan batin. Ia pasti akan sangat merindukan pria ini nantinya.
“Jullian.”
Kini Arnetta membiarkan dirinya yang bicara. Ia butuh mengatakan sesuatu yang jelas pada pria itu mengenai perasaannya. Meski kecil kemungkinan untuk dimengerti oleh lelaki itu, tapi Arnetta berharap sudah tak ada lagi beban dihatinya. Ia bisa dengan tenang menjalani hidupnya, biarpun harus menahan rindu pada pria itu.
“Aku mencintaimu.”
***
Mungkin gila jika Arnetta mengutarakan bahwa sampai saat ini hatinya selalu menghangat setelah mengenangnya. Ia masih ingat bagaimana Jullian begitu gugup mengatakan hal itu kepadanya dan bagaimana ratusan kupu-kupu melebarkan sayap didalam perutnya. Semua masih tergambar jelas hingga saat ini.
"Aku tahu. Aku yakin itulah Jullian-ku." Ucapnya
Maria hanya terdiam membisu. Ia masih memilih untuk diam tanpa kata. Tak ada yang bisa diucapkannya pada Arnetta. Terlihat jelas betapa dalamnya perasaan wanita itu untuk Jullian. Tak sampai hati ia mengatakan jika lelaki itu berniat untuk menghancurkannya. Entah apa yang akan terjadi pada Arnetta jika rencana itu sampai terwujud. Mungkin saja wanita itu akan kehilangan akal sehatnya.
"Arnetta ..."
Wanita itu terkekeh miris. Betapa malang hidupnya yang tanpa arah ini. Seperti dirinya dilahirkan tanpa tujuan hidup sendiri. Arnetta hanya bisa membahagiakan orang lain tanpa bisa membahagiakan dirinya sendiri.
"Bahkan jika Jullian dan ibuku menginginkan kematianku untuk kebahagiaan mereka, aku akan senang hati mengakhiri hidupku detik itu juga."
*****
Jullian berjalan memasuki sebuah kamar yanh penuh dengan ornamen astro boy. Mulai dari dinding sampai pakaian yang kini melekat ditubuh anak lelaki yang tengah asik bermain roket mainan miliknya. Tingkah itu tak pernah tak berhasil menghiburnya. Baginya pemandangan ini merupakan vitamin baginya.
"Hai Jagoan, sedang apa?"
__ADS_1
Bocah itu langsung menoleh gembira melihat sosok sang ayah yang sejak tadi dinantikannya. Dengan riang, Arif pun melemparkan dirinya ke arah Jullian, yang sudah bersiap mengangkatnya tinggu-tinggi.
"Ayah kemana saja? Arif kangen."
Jullian memaklumi apa yang dirasakan sang anak. Sejak lahir Lusi sudah enggan mengurus keperluan anak itu. Semula ia pun tak sudi melakukannya, lantaran ia sudah tahu kenyataan bahwa Arif bukanlah darah dagingnya. Namun, kasih sayang yang tumbuh saat pertama kali menggendong bayi itu dalam dekapannya membuat Jullian jatuh cinta. Bersama Arif, Jullian merasakan kehidupan baru yang tak ternilai.
"Ayah ingin mengajakmu ke suatu tempat. Apa Arif mau?" Tanya Jullian yang berusaha mengalihkan perasaan Arif dari kerinduan menyakitkannya.
"Kemana?"
"Bertemu teman baru. Ayah punya seseorang yang akan menemanimu bermain."
"Teman?"
Jullian mengangguk. Ia yakin keputusannya sudah benar. Arnetta yang ada disisinya pasti bisa membuat Arif lepas dari bayang-bayang Lusi. Ia yakin wanita itu tak memiliki cukup emosi untuk melampiaskan amarahnya pada Arif. Jullian terlalu mengenal wanita itu dengan baik.
"Ayo!"
****
Dua orang wanita tampak duduk disalah satu meja bar yang ada disudut ruangan diskotik itu. Salah seorang diantaranya sibuk meminum cairan kuning itu dalam sekali teguk, sambil sesekali mengumpat marah.
"Dia kembali! Aku tahu ****** itu pasti sedang berusaha merebut suamiku." Selorohnya penuh emosi.
Wanita lainnya yang duduk disampingnya hanya bisa memandang miris. Betapa tidak, Lusi sudah begitu banyak mengorbankan dirinya untum mempertahankan lima tahun bahtera pernikahannya dengan Jullian dan juga Arif ditengah mereka. Namun, pagi ini ia dikejutkan dengan berita bahwa Jullian sudah membawa Arif pergi ke rumah tersembunyinya. Entah karena apa, kedua suami istri itu bertengkar hebat.
Ya, Rowena patut berterima kasih pada Lusi yang sudah memberikannya pekerjaan sebagai sekretaris suaminya itu. Entah apa yang terjadi jika Lusi tidak ada saat Bar miliknya digusur. Mungkin ia dan Maria tak memiliki apapun sekarang. Mirisnya, disaat seperti itu tidak ada Arnetta disana. Wanita itu malah mengirimkan surat yang menyatakannya keengganan untun berteman dengan mereka. Jelas, Rowena harus berpihak pada siapa sekarang.
"Arnetta tidak akan bisa menghalangi hubunganmu dengan Jullian. Aku bisa jamin itu."
__ADS_1
Masih dalam keadaan setengah sadar, Lusi menyahuti, "Bagaimana caranya?"
"Aku yang akan memberinya pelajaran."