Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)

Jangan Ucapkan Cinta (BOOK 2)
Bab 19


__ADS_3

"Maafkan saya,  Tuan.  Tuan muda tidak mau saya turunkan." ucapnya.


Mau tak mau Jullian pun mengedarkan pandangannya ke seluruh tubuh milik wanita itu.  Rambut panjangnya menghilang dan seragam pelayan yang dikenakannya membentuk tubuh kecil itu dengan sempurna.


Sialan!


Jullian memikirkan untuk menciumi wanita itu kalau saja tidak menyadari tatapan kosong yang ditujukan untuknya.  Arnetta tak merasakan apapun untuknya selain kekosongan. Ia tak pernah menyangka akan menemukan sosok Arnetta yang lima tahun terakhir dilihatnya.  Sosok itu seolah bertingkah seperti orang asing.


"Arif,  bisakah ayah bicara dengan tante Arnetta sebentar?"


Bocah kecil itu terlihat mengerutkan dahinya seolah tak suka dengan apa yang baru saja keluar dari mulut ayahnya.  Tatapan tajam ia lemparkan pada sang ayah sambil bersedekap.


"Bunda! Arif tidak mau memanggil selain itu." sungutnya tak terima.


Jullian terlihat menggertakkan giginya.  Ia sedikit tak suka melihat pemberontakan yang dilakukan sang anak,  apalagi selama ini Arif cenderung tumbuh menjadi anak penurut padanya.  Namun,  perubahan itu takkan ia salahkan pada putranya.  Pasti ada orang yang telah mempengaruhinya.


"Baiklah,  apapun itu segera masuk ke kamarmu.  Ada sesuatu yang ingin ayah bicarakan dengannya."


Tak mau diperintah dua kali,  Arif melepaskan pegangan tangannya pada Arnetta dengan berat hati.  Anak itu pun berjalan dengan wajah tertunduk.  Tapi,  sebelum ia benar benat menghilang dari tangga menuju lantai dua,  ia masih sempat berbalik dan mengatakan hal yang membuat hati Jullian seperti tertusuk.


"Pokoknya tidak ada yang boleh menyakiti Bunda. Kalau ayah berani,  Arif akan membalas ayah!" imbuhnya sebelum benar-benar meninggalkan kedua orang dewasa itu sesuai perintah ayahnya.


Sepeninggalan anak itu,  Jullian berjalan mendekati Arnetta dengan wajah marah.  Pria itu tanpa permisi langsung mencengkram rahang wanita itu tak peduli Arnetta merasa kesakitan atau tidak.


"Kau pikir bisa mempengaruhi anakku untuk menjadi pemberontak?  Kau kira dirimu pantas dipanggil bunda oleh anakku?"


Meski Jullian mencengkram rahang wanita itu cukup kuat,  tapi Arnetta hanya menunjukkan ekspresi biasa saja,  seolah pria itu tidak menyakitinya sedikit pun. Hal ini tentu disadari betul oleh Jullian.  Ia memerhatikan raut wajah Arnetta yang sama sekali tidak terlihat kesakitan.

__ADS_1


"Kenapa kau diam, hah?"


Namun,  lagi-lagi wanita itu hanya diam membisu tanpa menampilkan ekspresi berarti pada Jullian.  Malah beberapa saat kemudian,  wanita itu mengajukan pertanyaan yang justru membuat Jullian semakin bingung.


"A-Apakah Tuan i-ingin memakan sesuatu?" tanyanya terbata-bata.


Sadar bahwa dirinya sudah menyakiti wanita itu,  Perlahan Jullian melepaskan cengkramannya dari Arnetta.  Pria itu tahu suara parau yang tampak kesusahan untuk di ucapkan Arnetta sudah menunjukkan betapa kasar dirinya.  Entah mengapa ia merasa bersalah sudah terbawa emosi dengan menyakiti wanita itu,  sekali lagi.


Diperhatikannya dengan seksama kondisi wanita itu.  Arnetta yang sekarang terlihat lebih kurus dan juga berwajah pucat.  Belum lagi wajah datar yang ditunjukkan wanita itu membuatnya merasa asing.  Arnetta yang berdiri di hadapannya seperti orang lain yang tidak bisa merasakan apapun.


Tatapan pria itu jatuh pada kain yang digunakan Arnetta untuk membersihjan perabotan rumahnya.  Ia pun dengan kasar langsunh merebut benda itu dari tangan Arnetta dan melemparkannya ke lantai.  Nyalang di tatapnya wanita ini.  Entah mengapa Jullian tak mengerti mengapa orang-orang disekitarnya senang sekali membuatnya marah.  Kemarin kedua orang tuanya dan sekarang wanita ini.


"Siapa yang menyuruhmu melakukan semua tugas ini?  Kau bukan pelayan di rumah ini!"


Arnetta hanya bisa memandangi kain yang baru saja direbut darinya.  Tatapannya nanar memandangi benda itu sudah terpelanting di lantai.  Pikirannya mendadak kosong saat suara marah Jullian datang bersamaan dengan ucapan pria itu yang mengaku jijik dengannya.  Suara pria itu pandai menyapa telinganya seperti sebuah sihir yang membuatnya tak sanggup mengatakan apapun.


Jullian meraih wajah wanita itu dengan memegangi dagunya.  Pelan ia melihat gumpalan air mata di wajah wanita itu dan sudah akan bersiap untuk turun membasahi wajahnya.


"Apalagi yang bisa kulakukan..."


Suara parau wanita itu berhasil membuat Jullian melepaskan wanita itu.  Pria itu tampak tertegun dengan ucapan Arnetta yang terdengar sudah tak lagi memiliki semangat hidup.


"Aku sendirian.  Ibuku pergi dan semua orang jijik padaku.  Katakan aku harus bagaimana untuk mengakhiri hidup ini."


Dada Jullian mendadak bergemuruh.  Hatinya ikut merasakan sakit saat mendengar wanita itu sudah tak bisa lagi menahan beban hidupnya.  Sejenak terlintas bayangan dimana wanita itu nekad mencoba untuk mengakhiri hidupnya.  Bahkan sedetik pun tak pernah terlintas bahwa wanita itu akan meninggalkannya dengan cara membunuh dirinya sendiri.  Kini rasa takut mulai memggerogoti hatinya. Jika Arnetta berani melakukannya,  entah apa yang akan terjadi padanya.


Pelan Jullian meraih tubuh wanita itu ke dalam pelukannya.  Ia menghirup wangi yang menguar dari tubuh itu.  Terakhir ia memeluknya seperti ini saat mereka berkencan.  Perasaannya saat itu berbunga-bunga tak berhenti.  Kini pun tak ada bedanya.  Perasaan itu masih bersemayam dihatinya.  Hanya saja rasa sesal menyertainya, bahwa ialah yang turut andil menyakiti wanita ini.  Jullian menjadi orang paling bertanggung jawab atas kehancuran hidup wanita ini.

__ADS_1


Jika Arnetta pergi meninggalkannya sekali lagi,  Jullian sadar bahwa ia pun akan hancur.


"Kau tidak perlu mengakhiri apapun.  Kau masih punya Arif dan... Diriku."


Arnetta terisak dan tangisnya pecah.  Ia memeluk erat pria yang kini tengah merengkuhnya erat.  Arnetta tahu bahwa pria ini telah menyakitinya dan berusaha menghancurkannya, tapi kini ia berada dalam satu dunia yang sama dengannya. Arnetta takkan bisa lari kemana pun lagi.  Hanya Jullian yang masih mau menerimanya yang kotor ini.  Pria ini jelas mengatakan jijik padanya,  tapi masih bersedia menampungnya.


Seharusnya itu cukup baginya.  Arnetta harus tahu batasan bahwa dirinya bukanlah wanita suci.  Ia sudah kotor dan tak mungkin mendapatkan hal lebih baik dari pada ini.


**


"Brengsek!  Laki-laki brengsek!"


Ruangan gelap itu terlihat sangat berantakan.  Seorang wanita tampak membanting semua benda yang berada di sekitarnya.  Sambil meremat sebuah surat di tangannya,  ia tahu bahwa rencananya sudah hancur berantakan.  Malah,  wanita sialan itu berada di sisi yang seharusnya diisi olehnya.


Wanita itu benci.  Ia murka pada dirinya yang merasa kehidupan tak adil untuknya.  Kedua orang itu kini bisa berbahagia diatas penderitaannya.  Tapi,  wanita itu takkan membiarkan hal itu berlangsung lama.


"Kalian tunggu saja pembalasanku.  Aku akan merengut apa yang sudah kau rebut dariku Netta.  Kau ****** sialan harus merasakan sakit yang kurasakan."


Seorang wanita paruh baya yang tampak duduk tenang diatas sofa ruangan itu sama sekali tak terganggu dengan kegaduhan yang dibuat oleh anak perempuannya itu.  Ia justru terlihat menikmati reaksi sang anak yang sangat murka saat ini.


Senyumnya merekah saat tatapannya turun kepada tangan sang anak yang masih metemat surat yang pagi ini mereka dapatkan dari seorang kurir.  Ternyata hanya untuk bertatap wajah saja sang menantu sudah tak sudi lagi.  Memang ia sudah menduga kelunakkan sikap anaknya bisa menjadi boomerang.  Sang menantu yang tentu lebih licik darinya pun bisa mengelabuhinya.


"Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang pada mereka berdua?  Kau tidak bisa menyingkirkan wanita itu selama Jullian maasih berkeliaran disekitarnya."


Wanita itu terdiam sejenak mencerna ucapan ibunya.  Ia pun tahu bahwa selama Jullian berada disini,  ia takkan bisa menjalankan rencananya.  Hanya ada satu orang yang bisa membuat pria itu menyingkir sebentar dari Arnetta.


"Mama Andara pasti bisa. Wanita tua itu terlalu bodoh untuk kutipu." senyumnya yang licik mereka membayangkan betaoa mudahnya menipu ibu mertuanya itu.

__ADS_1


__ADS_2